Memasuki hari ke-3, tiba di menu utama: lokakarya menulis kuliner.
Sejak semalam sebelumnya, aku sudah menuliskan materi lokakarya di papan tulis. Sebelumnya, Mas Cris & Mbak Nina sudah sempat menawarkan untuk menggunakan layar untuk presentasi. Tapi, rasanya aneh juga menggunakan layar yang membutuhkan tenaga listrik di ruang terbuka seperti halamannya Melek Huruf. Jadi… white board, it is!
Sesi lokakarya ini berlangsung selama dua jam. Yang ku bagikan sebenarnya adalah pengetahuan dasar menulis. Mengenai apa yang harus ditulis. Bahwa sesungguhnya gaya sebuah tulisan itu tetap harus menyesuaikan: untuk siapa dan di mana kita menulis? Tentu, menulis di blog atau Instagram — misalnya, pasti nggak sama dengan ketika kita menulis untuk sebuah media massa di mana sudah ada ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi. Ya, kan?
Sejak hari pertama, aku sudah memberitahukan peserta bahwa aku akan memberikan sebuah travel journal book yang ku beli dari sebuah jenama pembuat letterpress asal Jogja: McMurs. Hanya satu, untuk satu peserta dengan hasil tulisan terbaik.
Ternyata, hampir semua peserta mengirimkan hasil tulisannya. Dan, sungguh bikin terharu, karena banyak banget yang tulisannya mengagumkan. Iya, bagus! Dan akhirnya travel journal book ini jatuh ke tangan Sinlu — peserta asal Wonosobo, Jawa Tengah.
Nanti, satu persatu, akan ku unggah hasil tulisan teman-teman peserta tersebut di blog ini ya.
Kami memulai kegiatan hari ke-2 di pagi hari. Sekitar pukul 6.30 WIB, setelah semua peserta berkumpul di Melek Huruf yang jadi titik temu, kami semua langsung bersepeda dipandu Go4Tour.
Go4Tour ini merupakan jasa layanan tur sepeda dan jalan kaki yang berbasis tak jauh dari Borobudur, Magelang. Dan perjalanan ini merupakan kali kedua-ku bersama mereka.
O ya. Beberapa hari sebelum acara ini, rupanya Mas Singgih — beliau adalah orang yang menjadikan Pasar Papringan terwujud, sekaligus desainer radio kayu Magno serta sepeda bambu Spedagi — sempat ke Magelang dan singgah ke Melek Huruf. Setelah berbincang dengan Mas Cris dan tahu bahwa aku akan mengadakan acara ini, Mas Singgih mengirimkan teks ke aku. Mengatakan bahwa ia akan mengirimkan sepeda buatku (yeay!) serta dua sepeda lainnya untuk dipinjamkan untuk acara ini. Wah!
Pagi itu, kami menyusuri jalan-jalan kecil. Sesekali, kami akan berhenti di titik-titik tertentu di mana Amir, salah satu personel Go4Tour, akan berkisah mengenai banyak hal.
Dari titik ini, kami mengagumi megahnya Candi Borobudur
Menurut Rimi, yang juga bagian dari Go4Tour, rute yang kami lalui kali itu juga merupakan rute baru. Artinya, setelah mereka survey, inilah kali pertama Go4Tour membawa tamu melintasi rute tersebut.
Lagi-lagi, yang kami singgahi, tentu saja: pasar tradisional. Pasar Candir ejo ini nggak besar, tapi ada beberapa kios menarik yang kami sambangi. Sempat jajan rolade — campuran daun talas dan tahu yang ditumbuk lantas dilapis tepung, dibuat berbentuk bulat, kemudian digoreng. Aku mengenal panganan ini dari Pasar Papringan.
Pula, minum jamu dengan campuran daun pepaya. Wuekkk… pahit! Tapi ya tetap ku habiskan. Setelahnya, beberapa peserta pun ikutan minum jamu serupa. Ekspresi dari tegukan pertama jadi lawakan bagi kami semua. Ya habis gimana dong… pahit banget! Hahaha.
Rolade daun talas dan tahu
Berikutnya, kami ke Omah Garengpoeng yang letaknya masih di wilayah Candirejo juga. Pemiliknya, Lily T. Erwin, adalah seorang penulis buku yang sudah senior. Pagi itu, Bu Lily menyajikan sejumlah jajan pasar dan minuman tradisional. Yang menarik bagiku adalah semelak. Minuman yang konon memang terkenalnya dari daerah Magelang ini terbuat dari buah mengkudu. Buah yang ternama karena rasanya yang sepat dan aromanya yang tajam ini, ternyata ketika diolah bisa jadi sesuatu yang enak. Sepatnya bergulir jadi masam segar, dan aroma tak sedapnya pun gugur. Sungguh, aku suka minuman yang juga berkhasiat ini.
Kami menghabiskan waktu cukup lama di tempat Bu Lily. Selain memamerkan beberapa buku karyanya, Bu Lily juga mengajak kami melihat kebunnya. Dengan semangat, beliau menjelaskan tanaman-tanaman yang ada beserta kegunaannya. Ternyata, sebagian besar dari kami masih belum banyak tahu mengenai tanaman-tanaman tersebut lho!
Di Omah Garengpoeng
Usai dari Omah Garengpoeng, kami kembali bersepeda menuju Eloprogo Art House. Sebuah galeri yang pula difungsikan sebagai tempat makan, sekaligus rumah tinggal sang empunya – Pak Sony Santosa dan istrinya.
Kelar memarkir sepeda di halaman dan melangkah memasuki area Eloprogo, aku seketika terpesona melihat kecantikan tempat ini. Betapa tidak? Bangunan eksentrik ini berlokasi tepat di sisi sungai. Tepatnya, pertemuan sungai Elo dan sungai Progo. Pepohonan hijau, suara gemericik air, kualitas udara… apa yang lebih baik dari itu? Teman-teman Go4Tour lantas membawa kami jalan, mengeksplorasi Eloprogo Art House ini sebelum waktu santap siang tiba.
Di bagian belakang, ternyata terdapat penginapan. Ada pula sebuah area luas dengan pohon-pohon besar nan rindang. Membuat kami, tanpa disuruh, segera duduk dan hanya menikmati momen begitu saja. Menenangkan, menyenangkan.
Sambil menunggu masakan siap, kami menghabiskan waktu ngobrol dengan Pak Sony. Seniman yang satu ini membuka obrolan dengan mengajak kami bermain perumpamaan hewan serta kehidupan. Ringan. Sebagian besar dari kami mengikuti permainan ini, sementara sebagian lagi sibuk bermain dengan gawainya, atau sekadar menikmati pemandangan seraya sesekali bercanda dengan kucing yang ada di sana.
Ketika akhirnya makanan siap saji, pun pula luar biasa sedap. Aku yakin ini bukan karena lapar atau kepanasan. Namun, setup kolang kaling-nya sungguh berkesan. Manisnya sedang, tekstur kolang kaling-nya pas: empuk, tapi masih perlu sedikit usaha mengunyah. Juga, ada aroma rempah ringannya. Lantas, nasi liwet dengan ayam kampung goreng, sambal dan lalapannya pun nikmatnya terlalu. Memang masakan sederhana yang dibuat dengan benar itu amatlah atut dipujikan!
Usai makan siang, kami kembali ke Melek Huruf. Masih ada agenda pengenalan kopi yang dipandu oleh Mas Arief Godriel dari Call Me Coffee Roastery, Magelang. Di sesi yang berlangsung selama sekitar setengah jam itu, kami jadi lebih banyak tahu mengenai perkembangan kopi lokal — utamanya yang tumbuh dan tersedia dari sekitaran Magelang serta Temanggung. Dari sesi itu pula, aku jadi tahu bahwa salah satu dari peserta acara ini merupakan barista juga dari salah satu kedai kopi ternama di Magelang. Wah!
Usai sesi kopi, para peserta kembali ke penginapan untuk mandi dan istirahat sejenak. Aku sendiri, setelah mandi, mengikuti jalannya sesi gelar wicara mengenai kopi. Acara ini merupakan bagian dari Pekan Buku Magelang juga. Tak hanya mengundang para nara sumber yang ku nilai cukup piawai di bidangnya, tapi semua yang hadir ku lihat menyimak dengan seksama. Antusias, dan banyak bertanya. Jadi, sebagai pendengar, aku pun puas karena mendapat banyak pencerahan dari sana.
Untuk santap malam, kami kembali ke Omah Garengpoeng. Ya, benar, ke rumah Bu Lily. Kali ini, aku sudah minta Bu Lily menyiapkan sajian tradisional. Di antaranya adalah mangut ikan beong. Nah, yang satu ini adalah makanan khas Magelang. Tepatnya dari sekitaran Borobudur. Bu Lily juga menyiapkan Lesah — soto ayam kampung berkuah santan. Teksturnya cukup tebal namun rasanya tergolong ringan. Semua masakan Bu Lily ini juga cita rasanya rumahan banget. Dan, mungkin, obrolan dengan beliau membuat kesan rumahan ini terasa semakin kental.
Beberapa waktu lalu, Mas Cristian Rahadiansyah — seorang kawan, yang dulunya menjabat Chief Editor di majalan pariwisata DestinAsian dan kini sudah membangun keluarga serta rumah baca Melek Huruf di Magelang — menghubungiku untuk ikut terlibat di rangkaian acara Pekan Buku Magelang di tempatnya. Setelah melalui beberapa kali diskusi, akhirnya memutuskan untuk membuat rangkaian perjalanan Petualangan Rasa di Magelang, yang menjadi bagian dari pekan buku tersebut. Hm, menarik!
Aku langsung menghubungi Mbak Beby Vinny dari Pelangi Benua. Sudah beberapa kali aku bekerja sama dengan operator tur yang satu ini, memang. Jadi, rangkaian ini menjadi kolaborasi dengan beberapa pihak: aku, Melek Huruf, Pelangi Benua dan Go4Tour — operator tur sepeda yang berbasis di Magelang.
Perjalanan dimulai pada hari Jumat, 9 Agustus 2024. Titik temu di Stasiun Tugu Jogja. Dari sana, kami menuju Muntilan. Agenda pertamanya: makan Sop Empal Bu Haryoko.
Sebuah keputusan bijak untuk tiba sebelum waktu makan siang — sehingga kami masih bisa duduk nyaman berdampingan di meja-meja yang posisinya bersebelahan satu sama lain. Sop Empal ini sendiri sesuatu yang baru bagiku. Baceman empal dan paru disajikan terpisah, didampingi sambal pedas nan joss, dan kuah ringan berisi bihun dan beberapa helai kol serta taburan bawang merah goreng. Nyaman, dan tentu saja dengan mudah diterima di lidah para peserta — setidaknya, begitulah respon yang ku dapat dari mereka.
Setelahnya, kami berjalan kaki ke sebuah toko oleh-oleh yang ternama di sana: Toko Ny. Pang. Jarak tempuhnya tak sampai lima menit. Di sana, kami disambut oleh Imanuel Jeffrey Lee. Koh Jeff, demikian ia akrab disapa, merupakan pemilik yang adalah generasi ke-6 dari Ny. Pang. Beberapa waktu sebelumnya, ia sudah menghubungiku melalui DM di Instagram, menawarkan untuk singgah dan melihat dapur produksinya — sebuah kesempatan yang nggak akan ku lewatkan.
Peserta terlihat senang mendapatkan kesempatan ini. Pula, pada sesi ini ku ingatkan mereka untuk mulai menggali dan mencatat berbagai hal, untuk kemudian dituangkan dalam tulisan mereka.
Usai menengok dapur produksi Ny. Pang di mana kami bisa menyaksikan pembuatan jenang dodol, kue miku, krasikan dan sejumlah cemilan manis, kami juga icip buntil. Ini atas rekomendasi bude-ku dan Oom William Wongso sih. Sajian sayur dari daun talas ini tampil berbeda, karena dibungkus daun pisang. Mungkin karena kebutuhan dagang dengan pola konsinyasi ya (yang ini memang bukan produksi Ny. Pang, melainkan titipan). Bentuknya pun lebih menyerupai gulungan daun, bukan bulat layaknya buntil yang biasa ku dapati. Tekstur daunnya begitu lembut karena dimasak lama, dan ada varian dengan campuran ikan tongkol pula. Sedap benar!
Dari Ny. Pang, kami berjalan kaki menyusuri sejumlah gang kecil di sana.
Hingga akhirnya tibalah kami di Pasar Muntilan. Tak terlalu banyak yang kami jumpai di sana. Mungkin juga karena sudah memasuki tengah hari. Tapi, lagi-lagi, berbagi pengetahuan mengenai bagaimana memperhatikan apa-apa saja yang bisa jadi materi tulisan nantinya.
Yang cukup dilematik adalah ketika menjelang waktu santap malam. Mas Cris, pemilik Melek Huruf, merekomendasikan kedai Pak Parno. Sebelumnya, memang aku menanyakan kalau ada tempat makan mie jawa yang enak. Tapi, kedai yang satu ini begitu populer. Sehingga, konon antreannya bisa mencapai satu hingga satu setengah jam. Wuih, modhiyarrr — karena aku juga membawa beberapa peserta. Kasihan juga kalau mereka harus menunggu sedemikian lama. Maka, akhirnya pilihan ku geser ke kedai Mbah Dono yang lokasinya nggak jauh dari penginapan.
Saat itu, pengunjungnya hanya kami dan satu orang lain yang baru selesai makan ketika kami tiba. Kebanyakan dari peserta memesan mi kuah, dan ada pula yang untuk pertama kalinya mencoba magelangan — paduan mi dan nasi dalam satu masakan yang sama. Sedangkan aku, memesan sego godhog — serupa mi kuah, hanya saja mi-nya diganti nasi. Favoritku, memang.
Ternyata, rasanya cukup enak kok. Nggak mengecewakan. Yang mengejutkan adalah ketika tagihan datang. “Minumannya nggak dihitung. Ini Jumat berkah,” demikian kata Mbah Dono sambil menyerahkan lembar bon ke aku. Ya ampun… Berkah nggih, Mbah.
Ceritanya bakal panjang. Jadi, ku pisah di tulisan berikutnya ya.