Service Baik di Resto? Penting Banget!

Most likely, saya akan lebih memilih pergi ke restoran atau café yang makanannya biasa biasa saja tapi service-nya baik, dibanding ke tempat yang makanannya enak banget tapi service-nya buruk. Saya sendiri sering bertanya-tanya, apakah pengelola tempat makan sebenarnya selalu punya SOP (Standard Operating Procedure), atau tidak. Atau, kalau pun ada, SOP-nya seperti apa sih?

Apa bayangan saya tentang SOP yang baik?

  • Ketika customer datang, waiter akan menyapa (selamat pagi/siang/sore/malam). Menanyakan berapa jumlah orang yang akan bersantap, ingin duduk di smoking atau non-smoking area, lantas mengantar customer ke tempat duduknya.
  • Memberikan buku menu, sambil memberitahukan mana menu yang sedang tidak available, dan menawarkan diri untuk memberikan rekomendasi menu jika diinginkan.
  • Mencatat semua order, dan mengulang dengan jelas semuanya.
  • Mengantar semua order dengan menyebutkan nama masing-masing pesanannya, dan mempersilakan pelanggan untuk menikmati hidangan.
  • Memberikan tagihan (bill) saat diminta. Memberikan informasi jika ada promo yang sedang berlaku. Menanyakan feed back atas hidangan atau layanan, atau memberikan feedback card jika memang ada.
  • Mengucapkan terima kasih.

Tiap tempat makan, pasti SOP-nya berbeda-beda sih. Tapi bagi saya, yang penting keramahan yang nggak dibuat-buat. Karena keramahan yang sincere itu jadinya hangat, tamu akan merasa seperti di rumah sendiri. Means? They’ll come back. Definitely.

Sedikit cerita. Di Sop Kaki Kambing Irwan di Blok M, kali kedua saya datang, pedagangnya sudah akrab memanggil nama saya dan menyebutkan pola pesan saya: potong besar-besar, tidak pakai kecap, daun bawang & vetsin. Hanya kuah. Hal ini dilakukannya juga pada pelanggan lain. Hal yang tampak sederhana ini efeknya besar. Pelanggan, termasuk saya, merasa diistimewakan. Kami kembali terus ke tempat ini.

 

Clean Eating Diet; Perlu Nggak Sih?

You? Diet?”

“Hah, ngapain diet? Lo udah kurus gitu, apanya lagi sih yang mau didietin?”

Screwpine2

Szichuan beef and sautéed greens

Pertanyaan macam ini seringkali dilontarkan orang ke saya begitu tau saya sedang diet. Umumnya, pengertian orang tentang diet adalah mengurangi makan agar tubuhnya jadi langsing atau lebih kurus. Sementara, menurut saya, diet adalah mengatur pola makan. Tujuannya bisa macam-macam. Selain menurunkan berat badan, umumnya adalah untuk masalah kesehatan. Ingat, kurus bukan berarti sehat lho! Sebagai catatan singkat saja, dulu saya pagi-siang-malam makannya jerohan, non-stop. Walhasil di usia 27 sudah pernah kena serangan asam urat! Duh.

Screwpine4

Pineapple chicken with organic brown rice

Lantas, diet macam apa yang saya jalani?

Salah satu yang saya pernah coba adalah program Clean Eating dari Screwpine Kitchen selama 5 hari. Pilihan bahannya cukup bervariasi, begitu juga dengan menunya. Mulai dari daging sapi yang ditumis, pineapple chicken, baked salmon, aneka salad, sampai salah satu favorit saya: zucchini dan mushroom ball dalam saus pesto yang tampil dalam wujud bak pasta pesto dengan meatballs. Apa yang dimaksud dengan clean eating? Semua hidangannya diolah dengan hanya sedikit garam, sedikit minyak (pun kalau ada, bukan deep fried – juga, menggunakan minyak zaitun), dan rendah kalori. Porsinya secara umum termasuk sedang. Rasa makanannya sendiri, patut diacungi jempol. Makanan sehat yang rasanya cenderung normal; bahkan bisa dibilang enak. Oh, setidaknya sih, saya suka semuanya tanpa kecuali.

Screwpine1

Zucchini “spaghetti” with mushroom “meatballs” in pesto sauce

They say, “You are what you eat.” Dan setelah menjalani clean eating diet, tubuh terasa jadi lebih ringan. Bukan secara angka timbangan berat badan. Tapi memang jadi terasa segar, light, enakan. Padahal di luar makanan dari Screwpine Kitchen, saya tetap menyantap makanan lain. Tentunya saya coba untuk atur agar santapan lain tersebut juga tetap tergolong clean eating. Nah, tubuh yang terasa lebih light ini, ternyata juga jadi lebih kuat. Endurance saya saat workout sehari-hari, terlihat bertambah. Beban angkatan juga ternyata bisa naik.

Biarpun hanya 5 hari, kebiasaan clean eating ini rupanya membuat lidah saya, yang tadinya memang sudah terlatih untuk tidak menyantap MSG, jadi semakin menikmati santapan dengan citarasa “sopan” alias nggak nyegrak; kalau istilah orang Jawa.

Kalau mau mencoba clean eating tanpa jasa healthy catering, bisa dengan mencoba menyiapkan sendiri santapanmu dari rumah. Jadi kamu bisa atur bahan-bahan dan takarannya. Tapi, kalau memang cari yang praktis, cek @ScrewpineKitchen di Instagram. Worth a try, definitely!