Belanja Dengan Koin Bambu Di Pasar Papringan

This slideshow requires JavaScript.

Terletak di dusun Ngadipuro, desa Ngadimulyo, kecamatan Kedu di Temanggung, pasar papringan ini bukan pasar biasa. Diselenggarakan hanya setiap Minggu Pon serta Minggu Wage, hutan bambu seluas sekitar 3ribu meter persegi ini “disulap” menjadi pasar terkonsep yang amat menarik.

Inisiatifnya datang dari Singgih Kartono, orang di balik radio kayu Magno serta sepeda bambu Spedagi. Tak sendiri, beliau dibantu oleh Fransisca Callista yang menjadi eksekutor dari konsep serta ide gagasan pasar tersebut. Pasar papringan dibuat untuk merevitalisasi desa ini agar menjadi mandiri. Dengan tidak menghilangkan kearifan lokal, diharapkan pasar papringan ini akan berkelanjutan – tidak menjadi sesuatu yang sifatnya sesaat saja. Kegiatan ini melibatkan masyarakat sekitar, dengan tujuan untuk membangun manusianya pula. Sudah 100 kepala keluarga dari 110 kepala keluarga lokal dilibatkan. Ibunya berdagang, sang ayah dan pemudanya ditempatkan di bagian parkir atau mengatur keamanan, sedangkan anak yang lebih muda lagi biasanya menjadi relawan di bagian keuangan, kebersihan serta divisi lain pendukung gelaran ini.

Tercatat tak kurang dari 80an pedagang yang tersebar di 40 lincak dagang ada di sini, dengan jumlah pengunjung pernah mencapai 5ribu orang dengan jam operasional dari pukul 6 pagi hingga 12 siang ini. Angkanya bikin melongo ya? Tunggu. Bicara tentang penghasilan kotornya, setiap stand pedagang kuliner bisa menjual umumnya 150 porsi makanan berat dengan kisaran harga 4 koin pring. Sedangkan untuk makanan ringan, tiap orangnya dapat membuat 3 jenis makanan dengan jumlah sekitar 400 potong dan dihargai 1 koin pring. Wah!

14 Januari 2018, saya menyambangi pasar papringan. Pasar yang dibuka pada 14 Mei 2017 silam ini sudah berjalan untuk ketigabelas kalinya. Dengan akses jalan kecil yang masih dapat dilalui mobil, saya lantas memarkir mobil di halaman rumah warga yang terdapat di sana. Lantas menempuh sekitar 500 meter dengan berjalan kaki menuju lokasi. Di gerbang, terdapat tempat penukaran koin pring alias koin bambu senilai 2ribu rupiah perkeping. Semua transaksi yang terjadi di pasar ini harus menggunakan koin pring sebagai alat tukarnya. Pengunjung dapat membeli koin pring satuan atau serenceng. Koin ini nantinya tidak dapat ditukarkan ke uang rupiah lagi. Jadi, habiskan koin pringnya, atau simpan untuk nanti digunakan di pasar papringan berikutnya.

Toh, harga dagangan di pasar papringan tak akan mengoyak isi dompet. Beberapa yang sempat saya ingat adalah lontong mangut dihargai 6 pring, ekstra sambal goreng iwak melem tambah 2 pring, tape ketan sekeranjang isi 10 seharga 5 pring, tempe koro tiga buah dihargai 2 pring, yo-yo seharga 5 pring. Terbayang lah ya range harganya. Bicara tentang apa yang tersedia di pasar ini, pun variatif banget. Mulai dari berbagai makanan jadi – baik yang ringan maupun berat, bahan-bahan masakan, buah, sayur mayur, aneka wedangan, jamu, kopi, teh, bahkan ada spot untuk wisata river tubing, sampai jasa cukur rambut dan pijat!

Banyak hal yang menarik dari pasar papringan ini. Tak hanya jenis masakan tradisional yang variatif, para pedagangnya pun dikuratori oleh tim, dan mendapatkan quality control yang baik dari penyelenggara. Tidak ada MSG, tidak menggunakan pengawet. Kurang? Pasar ini juga zero waste! Kalau bawa anak-anak, ada area bermain juga. Pun, ada spot perpustakaan. Pasar rindang ini juga merupakan non-smoking area. Bagi yang hendak merokok, ada area di dekat sebelah luar, sehingga tidak mengganggu pengunjung lain.

Sungguhlah pasar papringan ini merupakan pasar terkonsep yang amat menarik dan wajib dikunjungi. Jika ingin menginap, silakan cek Spedagi Homestay beserta paket-paket lainnya yang mereka tawarkan (mungkin perlu antar jemput dari bandara di Semarang ataupun Jogja?). Di Temanggung pun terdapat sejumlah penginapan yang juga bisa dijadikan opsi.

Segera cek penanggalan jawa untuk mencari tahu kapan lagi pasar papringan diselenggarakan, dan atur trip-mu ke sana!

Sekadar informasi tambahan, ini adalah sebagian dari aneka santapan yang dijajakan di pasar papringan; sate jamur dan aneka pepesan •  jajan pasar (klepon, bajingan, ndas borok, klemet, onde2, rondo kemulan, krasikan, aneka jenang, dawet ayu, dawet anget) • aneka klethikan • teh bambu •  lemang • degan bakar • sego abang • bubur kampung • gule ayam • lontong mangut • serundeng unjar • soto • ramesan • rujak • lutis • lotek • lesah • sego jagung putih • sego jagung kuning • gablok pecel • gono jagung • kupat tahu • gudheg • sego gono • sego kuning • nasi bakar • gorengan • godhogan • sate jamur • otak-otak jamur • tempe benguk • tempe koro pedang • tempe kecipir • rangen • pethotan • brendung • klemet • bajingan • ketan cambah • cethil • ongol-ongol • ndas borok • klepon • thiwul • iwel-iwel • ketan lopis • kimpul uran • mendut • jenang lot • rondo kemul • ketan jali • onde-onde • sawut • comro • lentho • toklo • entho cothot • kocomoto • cithak • lemper • endog bulus • endog gluduk • gethuk ireng • gethuk gulung • tape singkong • tape ketan • gemblong gurih • gemblong klomot • prol tape • sagon • apem kumbu • apem • gula kacang • gula kelapa • lepet tempe • srowol • bandos • presikan • timus • arem-arem • sagon • yangko • jadah bakar • wajik kacang ijo • jenang wijen • glanggem • ketan serundeng • ketan bubuk • gatot • nogosari • kipo • kemplang • srengkulun • cucur • lapir beras • lapis singkong • degan • dawet ayu • dawet anget • dawet ireng • wedang ronde • wedang lungkrah • susu kedele • wedang tape • sop buah • kolak pisang • kolak kimpul • jenang candil • jenang baning • jenang telo • teh manis • es jeruk • kopi • lathak • grubi • akar kelapa • intip • peyek daun • peyek kacang • peyek rebon • kering • sambel • endog asin • samier • criping poyor • criping ilat • criping pisang… Wuakeh!!!

 

Membangun Kota Ganja Yang Sukses

This slideshow requires JavaScript.

Game ini (kayaknya) nggak ada gunanya, tapi menyenangkan buat dimainkan. Tokoh utamanya (played by us), hanya menanam ganja saja. Dari berbagai jenis ganja itu, nantinya akan dikirim ke rumah nenek untuk diolah lagi menjadi madu, weed butter, cokelat, canna flour, marshmellow, dan hemp milk. Nah, bahan-bahan ini juga nantinya menjadi bahan dasar untuk membuat brownie, cookie, and sooo many! Kalau bahan kurang, artinya harus menanam lagi. Ganja yang sudah dipanen, bisa disimpan. Kalau gudangnya sudah mulai penuh, artinya kamu harus memperbesar ukuran gudang – dan itu artinya ada sejumlah benda dan uang yang harus kamu siapkan sebelumnya.

Business model” kota ganja ini menarik banget. Sebagai seorang bandar, kita harus tetap punya kontribusi terhadap kotanya. Menjaga kebersihan, salah satunya. Mereparasi fasilitas kota yang rusak juga, walaupun itu termasuk artinya kita harus mengeluarkan uang saat melakukannya, but we’ll get a point for doing those things.

Tokoh-tokohnya juga menarik. Ada yang akan mengingatkanmu pada Cheech & Chong, atau pada Bob Marley. Jangan lupa pegawai pemerintahan yang ganteng tapi juga rajin mengorder cimeng ke kita. Haha!

Hempire pula sesekali menyelenggarakan semacam kontes membuat bibit ganja terbaik. Ada opsi buat kamu bisa ikutan, dan nggak wajib juga. Waktu ikutan, kamu bisa mengarang nama bibit ganjamu. Saya sendiri sering sengaja menamakan yang norak, tapi sangat Indonesia. For no reason. O ya, nanti kalau kamu menang, selama beberapa saat, bibit ganja buatanmu akan lumayan disorot, karena akan ikut ditanam oleh si dokter penanam ganja dari laboratorium sebelah, dan akan ada demand terhadap ganjamu tadi. Pretty cool, ey!

Sesuatu lagi yang antara penting dan nggak. Kamu bisa pasang iklan di sini. Placement-nya keren sih. Worth a try.

Game-nya gratis. Seperti biasa, ada opsi untuk menghamburkan uang dari dunia nyata alias kartu kredit kalau kamu nggak sabaran dan pengen beli ini itu. Tapi sebenarnya kalau mau sabar dan rajin main, kamu bakal dapat banyak berlian yang bisa dipakai buat belanja. Jangan lupa cek koleksi muscle car-nya dan mobil-mobil futuristik katro lainnya, juga semua monumen yang bisa dipajang menghias kota ganjamu. Fun!

Nama game Hempire

Dapat diunduh di : Google Playstore dan App Store

Resep: Ikan Bawal Kukus

Kalau dapat bahan ikan yang bagus, saya selalu memilih untuk mengolahnya secara sederhana. Bumbu minimalis, proses sederhana. Menonjolkan kualitas ikan tersebut instead of bahan-bahan lainnya. Jadi ketika mendapatkan bawal Jepang dari The Chilly Bin, langsung memutuskan untuk mengukusnya. Ikan bawal selain mudah dibersihkan karena tidak bersisik, punya daging tebal & kulit yang kenyal. Cocok sekali buat disteam.

Untuk teman makannya, saya bikin sambal luat – sambal khas Kupang, Nusa Tenggara Timur. Ternyata, cocok banget!

Bahan:

  • 1 ekor bawal Jepang, bersihkan.
  • 5 siung bawang putih, dicincang kasar
  • 2 ruas jahe, kupas dan iris seperti korek api
  • 4 cabe rawit, iris
  • 2 daun bawang. Bagian putihnya diiris tipis, bagian hijau dipotong sepanjang 3 cm.
  • 4 sdm kecap asin
  • 3 sdm minyak wijen

Cara membuat:

  1. Lumuri ikan dengan kecap asin dan minyak wijen. Masukkan sepertiga bahan-bahan lainnya ke dalam tubuh ikan. Sisanya, ditaruh di atas dan bawah ikan di loyang tahan panas.
  2. Kukus sampai matang.

*saya menggunakan Cubie oven dari Panasonic. Memakai mode Steaming High, selama 15 menit. Mudah digunakan, dan matang sempurna!

Bahan sambal luat:

  • 8 cabai merah keriting
  • 4 cabai rawit merah
  • setengah genggam daun ketumbar, cincang halus
  • 3 jeruk lemon cui, bersihkan kulitnya. Iris, lantas buang bijinya.
  • Garam secukupnya

Cara membuat sambal luat:

  1. Haluskan semua bahan sampai tercampur. Tidak perlu sampai halus benar.
  2. Simpan dalam wadah bersih tertutup. Bisa disimpan sampai seminggu di dalam kulkas.

    This slideshow requires JavaScript.

Marlina Yang Akan Membunuhmu Sejak Babak Pertama.

Entah hal mana yang menarik saya pertama kali sebelum akhirnya memutuskan untuk menonton film ini sendirian;

  • Pencapaian film ini secara internasional sebelum akhirnya tayang di Indonesia
  • Hype tentang betapa keren film ini, menurut timeline di Path dan Twitter

, atau…

  • Memang saya selalu tertarik pada film Indonesia?

Jawab: ketiganya benar! ;)

Bercerita tentang seorang janda yang membunuh segerombolan orang yang merampas harta serta harga dirinya. Marlina lantas menempuh perjalanan sambil membawa kepala gembong yang sudah ditebasnya, untuk dibawa ke kantor polisi. “Ini sang tahanan,” demikian ia menyebut si korban. Oh, no. Wait. Actually, Marlina kan korbannya?

Menonton film ini, emosi semakin diguncang akibat begitu misteriusnya sosok Marlina ini. Membuat mempertanyakan diri sendiri, “Haruskah kita iba pada perempuan ini?” Datar emosinya seringkali membuat bergidik. Sehingga, kerap, ketika posisi Marlina terpojok, kita berharap situasi bisa akhirnya bersahabat pada nasibnya, demi menenangkan perasaan kita saat menyaksikan film ini. Ada kalanya pun, kita akan dibuat tertawa oleh sesuatu yang pula bukan komedi. Weirdly stunning, and stunningly weird!

Pemeran pembantu juga semuanya layak dipuji. Music scoring yang juga baik. Film ini secara keseluruhan memang bagus.

Sutradara: Mouly Surya

Pemeran Utama: Marsha Timothy

Mengubah Pola Pikir Terhadap Santapan Demi Kelangsungan Bahan Pangan

Belakangan ini muncul berbagai ide dalam bentuk acara serta diskusi bertemakan kelangsungan bahan pangan. Bukan sekadar isu yang menarik, namun memang perlu untuk diperhatikan. Kalau kita terus mengonsumsi tanpa memikirkan sustainability-nya, apa yang akan kita dan anak-anak kita santap di masa yang akan datang?

Pernahkah kamu memikirkan dari mana asal bahan-bahan makanan yang kamu santap? Selain penting karena ini berkaitan dengan kesehatan, ini juga terkait dengan masa depan kamu. Masa depan kita semua.

Kemarin, Minggu (1/10), saya diundang menghadiri acara santap menyantap berjudul #KrossKulture – sebuah proyek kolaborasi antara Arumdalu Lab dengan Chef Fernando Sindu, Jendela.co, Fullfill dan Kandura Studio. Arumdalu Lab adalah ruang komunitas kreatif yang mengedepankan alam, dan merupakan bagian dari Arumdalu Private Resort di Belitung. Berlokasi di BSD, di area seluas 1 hektar ini terdapat area kebun organik, dapur hingga ruang berkumpul. Hijau, dan menarik. Bukan sekadar karena tampilannya, tapi karena fungsinya yang membuat saya yakin bahwa kita masih punya masa depan. Sedangkan Chef Nando adalah penggerak sejumlah resto ternama – sebutlah Benedict, Seven Friday serta Canting Jogja. Jendela.co mendokumentasikan seluruh kegiatan, Fullfill sebagai branding agency, dan Kandura memamerkan kecantikan piring keramik buatannya. Ide dari Kross Kulture ini adalah menggabungkan berbagai sektor untuk memikirkan masa depan bahan pangan di Indonesia. Kewl, ey?

Dibuka dengan aneka gorengan berbasis dedaunan dari kebun Arumdalu Lab yang disajikan dengan sambal tomat bercitarasa manis pedas bertekstur jelly-ish. Lantas berlanjut dengan kulit ayam goreng garing yang disajikan dengan homemade mayonnaise, bubuk kembang telang, bubuk daun kenikir serta bubuk electric daisy. Ayamnya diternakkan di tempat ini, pun kuning telur yang digunakan untuk membuat mayonnaise juga dihasilkan di lokasi yang sama! Saya terpikat oleh dua bubuk yang terakhir saya sebutkan. Kenikir, karena cukup tajam sehingga memberikan rasa yang khas di tengah nikmatnya kulit ayam nan renyah. Sedangkan electric daisy memberi sensasi kebas layaknya sesaat setelah mengecap andaliman.

Siapa tak kenal Sate Taichan? Sate ayam berbumbu minimalis itu hadir juga di acara ini. Potongan fillet paha ayam ditusuk dahan pohon jeruk, disajikan dengan sambal pedas yang rasanya mantap luar biasa, peanut butter serta garam. Daging ayamnya juicy, legit alami, dengan penampakan lean namun bertekstur lembut. Guess what; ayam yang diternak sejak kecil ini diberi makan sweet basil. Makanya dagingnya terasa manis dan tidak amis!

Disambung lemper, yang konon beras ketannya dimasak dalam kaldu ikan. Isinya sendiri ada abon ikan patin, dan kemudian ditaburi serundeng gurih. Hey, ikan patinnya juga diternakkan di tempat ini!

Memasuki babak main course, kami disajikan Arumdalu Lab Salad. Yeap, salad dengan isian berbagai dedaunan serta edible flowers asal kebun sendiri, dengan dressing saus kacang asam pedas. Yang menarik adalah adanya popped sorghum di sajian ini. Tak terlalu terasa karena jumlahnya hanya sedikit. Tapi keberadaannya cukup mengundang decak kagum saya atas penggunaan bahan yang dulunya, “Ah, apalah dia”.

Disambung dengan sajian khas Jawa Tengah. Mangut. Ikan yang digunakan bukanlah iwak pe atau lele asap seperti yang layak ditemukan di daerah asalnya. Melainkan ikan patin. Disajikan di batok kelapa muda ditemani petai, kemangi serta leunca, saya dapat menikmatinya dengan ikut mengeruk daging kelapa muda yang legit. Kulit ikan patin garing pun menjadi highlight sajian ini!

Tinutuan alias bubur Manado pun kemudian ikut tampil. Selain jagung, ada daun singkong serta bunga pepaya di dalamnya. Disajikan dengan patin panggang rica, abon patin dan dabu-dabu. Ini juga enak! Tak kalah menarik; ayam kalio. Hadir dalam bentuk paha bawah utuh dengan cekernya, ayam isi ini sungguh nikmat. Bumbu kalionya well balanced, pun serasi dengan kentang serta ubi yang di-confit dengan minyak kelapa. Aromatik!

Mie Ayam menjadi penyempurna agar perut saya kenyang kali ini. Porsi sedang, dengan tumisan ayam, ati ayam serta jamur bercitarasa gurih – kayaknya nggak mungkin salah deh!

Setelah itu, sejumlah dessert pun hadir. Pengalaman yang cukup menarik ketika sesaat sebelum menikmati pencuci mulut, kami diminta untuk menggigit electric daisy lantas membasuh tenggorokan dengan “jamu” yang mereka buat. Kebas, tangy, sensasinya membuat lidah saya menari kejang. Menyenangkan.

Kembali ke obrolan awal, mengenai food sustainability. Mungkin kita bisa memulai dengan memilih lebih cermat bahan-bahan masakan kita. Lebih pandai memilah dan memilih – sehingga, tak saja sehat, namun juga merencanakan masa depan dengan baik.

Membuat Ekstrak Vanili

Sedang getol-getolnya bereksperimen dengan cold brew coffee, terlintas dalam pikiran saya untuk memasukkan unsur rasa vanili di dalamnya. “Pasti enak nih!” pikir saya. Jadilah saya masukkan 2 batang vanili, hadiah dari seorang kawan di Madagascar, ke dalam 1,5 liter kopi yang sedang saya seduh dalam air suhu ruangan.

8 jam berlalu. Jadilah sudah cold brew coffee buatan saya. Nihil rasa maupun aroma vanili di dalamnya. Huh… Gagal! Selidik punya selidik, ternyata saya harus terlebih dahulu membuat vanilla extract, alias ekstrak vanili.

20160423_115159

Botol berisi batang vanili dan vodka

 

Bahan:

  • 240 cc vodka*
  • 5 batang vanili

Cara membuat:

  1. Potong batang vanili menjadi 2. Belah batang vanili.
  2. Masukkan ke dalam botol kaca bersih yang kering. Tuangkan vodka ke dalamnya, hingga semua batang vanili terendam. Tutup rapat.
  3. Simpan botol di tempat yang tidak terkena cahaya matahari langsung di suhu ruangan selama setidaknya 1 bulan. Sesekali dalam 2-3 hari, kocok botol agar isinya tercampur dengan baik.
  4. Waktu idealnya adalah 3 bulan. Semakin lama disimpan, semakin kompleks aroma vanili yang tercipta, tentu saja, semakin baik.

Tips:

  • Waktu idealnya adalah 3 bulan. Semakin lama disimpan, semakin kompleks aroma vanili yang tercipta, tentu saja, semakin baik.
  • Alkohol yang digunakan bisa berbagai macam, misalnya wiski, brandy atau rum. Tapi vodka merupakan alkohol yang paling netral untuk membuat ekstrak vanili ini. Saya pernah mencobanya dengan menggunakan Absolut Raspberri, tapi aroma raspberry terlalu kuat hingga mengalahkan vanili itu sendiri- sehingga tidak sesuai dengan apa yang saya inginkan.
  • Jika sudah jadi dan menginginkan hasil akhir yang bening tanpa residu vanili, bisa pindahkan ke botol lain dengan menyaringnya menggunakan coffee filter.

Memang dibutuhkan kesabaran ekstra untuk membuat ekstrak vanili ini. Tapi percaya deh; worth every second of waitin’!

 

No Poo Method; Meniadakan Shampoo

Dimulai oleh ajakan seorang teman di grup Whatsapp, saya dan beberapa teman mencoba No-Poo Method. Bermodalkan sedikit membaca di https://www.nopoomethod.com/ , kami lantas mencoba metode ini bersama-sama.

Hari pertama: Cobaannya hanya ada di niat. Niat untuk memastikan bahwa, “Iya, saya akan mencoba melakukannya!” Lantas saya hanya keramas dengan air hangat. Tanpa shampoo. Hasilnya saat itu: ujung rambut agak kusut. Saya mengakalinya dengan menggunakan sisir bergigi jarang sambil keramas, lantas menyisiri rambut dari dekat bagian ujung, lantas perlahan mulai dari bagian tengah, hingga akhirnya dari pangkal rambut.

 

NoPoo Day4

Hari ke-4 Tanpa Shampoo

Hari ke-4: Cobaannya ada di kegalauan tingkat medioker, “Terusin nggak ya? Rambut gue nggak apa-apa nggak sih ini? Orang ngeliatnya kayak apa sih?” Di saat yang sama, mulai yakin kalau rambut rontok berkurang dari biasanya. Tapi amat sangat merindukan wangi shampoo. Mulai menyingkirkan “koleksi” shampoo saya dari kamar mandi; agar nggak tergoda untuk menggunakannya lagi.

 

NoPoo Day7

Hari ke-7 tanpa shampoo

Hari ke-7: Mulai yakin kalau mau meneruskan. Padahal, beberapa teman yang tadinya ikutan No-Poo Method ini sudah mulai bail out dengan berbagai alasan; ada yang mau cat rambut ke salon, dan ada yang merasa rambutnya tampak lepek. Ketika seorang teman mengendus kepala saya, ini testimoninya, “Nggak ada aroma apapun.” Jadi benar; netral jadinya. Nggak wangi, memang. Tapi juga nggak bau. Aman! Apalagi, saya merasa warna rambut terlihat jadi lebih hitam pekat dibanding biasanya.

Hari ke-14: Mulai mencoba keramas dengan menggunakan baking soda. Menurut teman yang masih bertahan, baking soda bisa dicampur dengan sedikit air di telapak tangan, hingga menjadi pasta. Lantas dioleskan ke kulit kepala dan digosok. Tidak akan berbusa, tapi tetap pada fungsinya: membersihkan. Setelah dibilas, kulit kepala terasa bersih, tapi batang rambut terasa agak lebih kasar. Saya tidak menggunakan baking soda ini setiap hari, hanya pada saat kulit kepala terasa gatal.

 

NoPoo Month2

Sebulan tanpa shampoo

Sebulan tanpa shampoo: sudah mulai yakin kalau saya nggak butuh shampoo. Tapi tetap, saya membeli shampoo alami – just in case. Alami gimana? Well, sebisa mungkin mencari shampoo yang nggak mengandung SLS (Sodium Lauryl Sulfate) saja. SLS inilah yang membuat busa pada pembersih seperti shampoo, odol, sabun, dsb. Berbahayakah? Tergantung. Karena reaksi tiap orang akan berbeda-beda. Silakan baca di http://slsfree.net/ Shampoo alami yang saya beli adalah Natur; karena cukup mudah diperoleh di pasar swalayan di mana pun. Hanya sekali saya memakai shampoo sejak saya memulai No Poo Method ini; yaitu pasca berenang.

Hari ke-40: menemukan ramuan yang menurut saya paling kece buat keramas: 1 sendok makan baking soda dicampur air hangat 1 gelas (350 cc) dan diaduk rata. Basahi rambut, tuang campuran ini dari kulit kepala hingga ujung rambut. Gunakan bantuan sisir bergigi jarang untuk mendistribusikannya ke seluruh bagian rambut. Usap. Lantas bilas. Setelahnya, buat campuran berikutnya: 1 sendok teh apple cider vinegar dicampur air biasa 1 gelas (350 cc) dan diaduk rata. Tuang campuran ini seperti sebelumnya. Lantas bilas hingga bersih. Hasilnya? Rambut terasa bersih, tapi sekaligus juga lembut sekali. Nggak tercium kok bau cuka jika dibilas hingga tuntas.

Sesekali, seperti juga pengalaman yang pernah saya bagikan lewat http://www.beergembira.com , saya juga keramas menggunakan bir. Hasilnya mirip dengan menggunakan campuran apple cider vinegar; rambut jadi halus dan lembut. Biasanya, agar irit, bir bersuhu ruangan saya masukkan ke dalam botol spray.

Sekarang, setelah sudah 2 bulan lebih saya menjalani No-Poo Method ini, saya menyimpulkan beberapa hal;

  1. Metode ini tidak untuk semua orang. Tapi, layak dicoba.
  2. Menjalani metode ini bersama beberapa teman akan lebih mudah, karena satu sama lain akan memberikan motivasi, atau masukan dan berbagai tips pribadi berdasarkan pengalaman masing-masing.
  3. Hasil di saya: rambut yang biasanya rontoknya heboh banget, amat berkurang rontoknya. Kebiasaan keramas dengan shampoo setiap hari yang dulu bikin ketergantungan, pun hilang dalam kurun waktu seminggu. Sekarang, kalau sampai nggak keramas, rambut nggak lantas jadi lepek atau kulit kepala jadi berminyak. No more bad hair day!

So, whether or not the No-Poo Method is for you, give it a try… Selamat mencoba!