Mengenal Banda Lewat Segigit Cara

Kue Cara

Apa pasalnya sampai saya harus mengetuk rumah penduduk di Banda Neira, di sebuah pagi buta di mana bulan sudah tak lagi tampak sedangkan matahari juga belum memasuki jadwal menyinari tanah?

***

Gaduh suara alarm dari ponsel membuat saya langsung bangun. Segera saya lompat dari tempat tidur dan mengetok pintu kamar sebelah. “Ga, yuk! Nggak usah pakai mandi segala lah ya!”, ajak saya ke Aga, salah satu teman di perjalanan kali itu. Kami bersiap, lantas berjalan kaki dari penginapan tempat kami bermalam, menuju sebuah rumah di depan lapangan. Waktu tempuhnya sendiri tak sampai lima belas menit, karena memang jaraknya tak jauh. Hanya saja, cahaya minim sepanjang jalan di pulau yang kebanyakan penduduknya belum terjaga pada saat itu, membuat suasana lumayan mencekam. Belum lagi, beberapa hari sebelumnya, saya banyak mendengar sejarah kelam Banda Neira, di mana begitu banyak nyawa melayang akibat pembantaian massal. Pagi itu, kami melangkahkan kaki lebih cepat. Harus segera tiba, daripada pikiran kami makin kalut dipenuhi ketakutan-ketakutan.

“Assalamu’alaikum…”, ujar saya seraya mengetuk pintu. Seperti halnya rumah lain yang saya lihat di sana, rumah ini memiliki pembatas dari bambu, namun tak ada pagar penutupnya. Makanya, kami dapat langsung menuju pintu samping. Seorang bapak dengan rambut putih membukakan pintu. Matanya masih agak sembap. Baru bangun tampaknya. Beliau juga tak tampak siap kedatangan kami pagi itu, sehingga saya harus kembali menjelaskan, “Saya Ade, Pak. Dan ini teman saya, Aga. Kami mau masak kue dengan Mama Aisya.” Untung, tanpa banyak tanya, kami langsung dipersilakan masuk menuju sebuah dapur kecil berjelaga di salah satu sudut rumah itu.

***

Sehari sebelumnya, saya dan Aga sedang berjalan kaki ketika melewati depan rumah Mama Aisya. Kami berhenti sejenak mendapati bahwa di situ ada lapak makanan. Namanya juga tukang makan, nggak mungkin lah saya melewati tempat macam ini begitu saja. Di sebuah meja, tampak beberapa jenis kue ditata asal, untuk dijajakan. Yang langsung menarik perhatian adalah kue bulat berwarna kuning muda agak kecokelatan, dengan taburan ikan suwir, daun kemangi dan irisan cabai merah di atasnya. Tinggal delapan buah, yang tentunya langsung saya borong. Sambil membungkus pesanan saya, Mama Aisya menjawab pertanyaan saya tentang harga, “Empat lima ribu.” Segera saya keluarkan selembar uang pecahan lima puluh ribu dari dompet, dan menyerahkannya ke beliau. “Ada uang kecil? Sepuluh ribu saja!” Ujarnya menampik lembaran warna biru itu. Sempat bingung. Lho ini gimana sih? Ternyata oh ternyataaa… Maksud beliau, untuk empat buah, saya cukup membayar 5 ribu rupiah. Jadi, cukup 10 ribu untuk delapan buah kue cara tersebut. Wihhh… murah amat!

Sambil membayar, saya mengambil sebuah kue cara dan langsung mencobanya. Teksturnya padat namun sekaligus lembut. Serupa benar dengan kue lumpur. Bedanya, yang ini cita rasanya gurih. Suwiran ikan tunanya sudah berbumbu, dengan wangi daun kemangi yang khas menyeruak di antara tiap kunyahan. Jatuh cinta pada gigitan pertama itulah yang membuat saya langsung menodong Mama Aisya untuk mengajarkan saya bagaimana membuatnya. Dan tak ada perdebatan panjang, perempuan tua ini langsung mengizinkan asalkan saya memang rela bangun pukul 4 pagi untuk membantunya memasak keesokan harinya.

***

Pagi itu, Aga duduk di sudut dapur. Membuat sketsa suasana sekitaran tungku. Ia memang seorang sketcher. Sedangkan saya, membantu Mama Aisya membuat kue cara sambil memberondong beliau dengan pertanyaan tanpa henti. 

Mama Aisya lahir dan besar di Banda Neira. Di pulau cantik ini, hampir semua penduduknya hanya menyantap hasil laut. “Kalau mau makan, tinggal ke pinggir laut. Kami tangkap ikannya, langsung masak. Kalau ayam ada (di Banda), tapi mahal. Yang makan hanya turis,” jelasnya. Bahkan, masih menurutnya, “Kalau hari raya Idul Adha dan potong kambing, saya nggak mau makan. Nggak ada yang suka!” Saya menyimak dengan seksama sambil berusaha tetap fokus menuangkan adonan kue cara ke cetakan di atas kompor, menambahkan ikan suwir dan cabe iris, lantas membaliknya saat waktunya tiba.

Tiba-tiba, terlihat seorang lelaki remaja melintasi dapur, masuk ke kamar mandi. “Itu cucu saya. Masih sekolah.” Lagi, saya mendapat cerita dari Mama Aisya. “Anak itu saya larang nonton TV. Hampir semua anak di sini nggak ada nonton TV. Biar mereka main di luar saja.” Benar, memang. Dua hari sebelumnya, seorang teman yang memang tinggal di Banda Neira, mengajak saya jalan-jalan ke bandara. Nongkrong di runway! Gila aja. Mana bisa nongkrong kayak begini di bandara lain? Ternyata karena memang jadwal pesawat hanya seminggu sekali, titik ini dijadikan tempat berkumpul warga sekitar. Ada yang hanya sekadar duduk-duduk memperhatikan sunrise mau pun sunset, main bola, bersepeda, foto-foto, atau bahkan mojok berduaan.

Tak terasa, ratusan kue cara, juga dadar gulung isi unti, matang sudah. Saya dan Aga membantu Mama Aisya membawa semuanya ke bagian depan rumah — tempat di mana saya membelinya kemarin. Matahari sudah terbit. Hari itu lumayan cerah. Dan beberapa anak berseragam sekolah sudah berada di sekitar warung, hendak membeli kue buatan Mama Aisya. Saya ikut berjualan, membuat anak-anak ini lebih banyak bengong memandangi saya dibanding langsung memesan dan membayar. “Kalau buat anak sekolah, seribu saja,” ujar Mama Aisya sambil duduk. Pagi itu beliau menjadi manager, mengutus saya berdagang sampai kue-kue buatannya ludes. Dan, tak sampai satu setengah jam, kue-kue ini ludes. Tak bersisa. “Nanti habis ini saya masak lagi, buat jual siangan nanti,” ujarnya sambil membereskan lapaknya.

Menyisakan pertanyaan saya, “Apakah memang benar Kue Cara ini terinspirasi dari Kue Lumpur yang akhirnya berubah wujud serta rasa karena ketersediaan bahan?” Lantas, siapa yang dulu membawa tradisi kuliner Jawa ini ke wilayah Timur Indonesia? 

***

Peristiwa ini terjadi dua tahun silam. Tapi saya masih ingat benar kesan saya terhadap Banda Neira. Terhadap Mama Aisya dan kue cara-nya. Terhadap keindahan alam sekaligus misteri duka pulau ini. Saya masih ingin kembali. Akan kembali. Menggali lagi lebih dalam tentangnya, dan membawanya dalam kisah-kisah dongeng kuliner yang saya sampaikan di berbagai kesempatan.

31 Oktober 2019

Ade Putri Paramadita

( diselesaikan di pesawat, dalam penerbangan dari Bali menuju Langgur )

Belanja Dengan Koin Bambu Di Pasar Papringan

This slideshow requires JavaScript.

Terletak di dusun Ngadipuro, desa Ngadimulyo, kecamatan Kedu di Temanggung, pasar papringan ini bukan pasar biasa. Diselenggarakan hanya setiap Minggu Pon serta Minggu Wage, hutan bambu seluas sekitar 3ribu meter persegi ini “disulap” menjadi pasar terkonsep yang amat menarik.

Inisiatifnya datang dari Singgih Kartono, orang di balik radio kayu Magno serta sepeda bambu Spedagi. Tak sendiri, beliau dibantu oleh Fransisca Callista yang menjadi eksekutor dari konsep serta ide gagasan pasar tersebut. Pasar papringan dibuat untuk merevitalisasi desa ini agar menjadi mandiri. Dengan tidak menghilangkan kearifan lokal, diharapkan pasar papringan ini akan berkelanjutan – tidak menjadi sesuatu yang sifatnya sesaat saja. Kegiatan ini melibatkan masyarakat sekitar, dengan tujuan untuk membangun manusianya pula. Sudah 100 kepala keluarga dari 110 kepala keluarga lokal dilibatkan. Ibunya berdagang, sang ayah dan pemudanya ditempatkan di bagian parkir atau mengatur keamanan, sedangkan anak yang lebih muda lagi biasanya menjadi relawan di bagian keuangan, kebersihan serta divisi lain pendukung gelaran ini.

Tercatat tak kurang dari 80an pedagang yang tersebar di 40 lincak dagang ada di sini, dengan jumlah pengunjung pernah mencapai 5ribu orang dengan jam operasional dari pukul 6 pagi hingga 12 siang ini. Angkanya bikin melongo ya? Tunggu. Bicara tentang penghasilan kotornya, setiap stand pedagang kuliner bisa menjual umumnya 150 porsi makanan berat dengan kisaran harga 4 koin pring. Sedangkan untuk makanan ringan, tiap orangnya dapat membuat 3 jenis makanan dengan jumlah sekitar 400 potong dan dihargai 1 koin pring. Wah!

14 Januari 2018, saya menyambangi pasar papringan. Pasar yang dibuka pada 14 Mei 2017 silam ini sudah berjalan untuk ketigabelas kalinya. Dengan akses jalan kecil yang masih dapat dilalui mobil, saya lantas memarkir mobil di halaman rumah warga yang terdapat di sana. Lantas menempuh sekitar 500 meter dengan berjalan kaki menuju lokasi. Di gerbang, terdapat tempat penukaran koin pring alias koin bambu senilai 2ribu rupiah perkeping. Semua transaksi yang terjadi di pasar ini harus menggunakan koin pring sebagai alat tukarnya. Pengunjung dapat membeli koin pring satuan atau serenceng. Koin ini nantinya tidak dapat ditukarkan ke uang rupiah lagi. Jadi, habiskan koin pringnya, atau simpan untuk nanti digunakan di pasar papringan berikutnya.

Toh, harga dagangan di pasar papringan tak akan mengoyak isi dompet. Beberapa yang sempat saya ingat adalah lontong mangut dihargai 6 pring, ekstra sambal goreng iwak melem tambah 2 pring, tape ketan sekeranjang isi 10 seharga 5 pring, tempe koro tiga buah dihargai 2 pring, yo-yo seharga 5 pring. Terbayang lah ya range harganya. Bicara tentang apa yang tersedia di pasar ini, pun variatif banget. Mulai dari berbagai makanan jadi – baik yang ringan maupun berat, bahan-bahan masakan, buah, sayur mayur, aneka wedangan, jamu, kopi, teh, bahkan ada spot untuk wisata river tubing, sampai jasa cukur rambut dan pijat!

Banyak hal yang menarik dari pasar papringan ini. Tak hanya jenis masakan tradisional yang variatif, para pedagangnya pun dikuratori oleh tim, dan mendapatkan quality control yang baik dari penyelenggara. Tidak ada MSG, tidak menggunakan pengawet. Kurang? Pasar ini juga zero waste! Kalau bawa anak-anak, ada area bermain juga. Pun, ada spot perpustakaan. Pasar rindang ini juga merupakan non-smoking area. Bagi yang hendak merokok, ada area di dekat sebelah luar, sehingga tidak mengganggu pengunjung lain.

Sungguhlah pasar papringan ini merupakan pasar terkonsep yang amat menarik dan wajib dikunjungi. Jika ingin menginap, silakan cek Spedagi Homestay beserta paket-paket lainnya yang mereka tawarkan (mungkin perlu antar jemput dari bandara di Semarang ataupun Jogja?). Di Temanggung pun terdapat sejumlah penginapan yang juga bisa dijadikan opsi.

Segera cek penanggalan jawa untuk mencari tahu kapan lagi pasar papringan diselenggarakan, dan atur trip-mu ke sana!

Sekadar informasi tambahan, ini adalah sebagian dari aneka santapan yang dijajakan di pasar papringan; sate jamur dan aneka pepesan •  jajan pasar (klepon, bajingan, ndas borok, klemet, onde2, rondo kemulan, krasikan, aneka jenang, dawet ayu, dawet anget) • aneka klethikan • teh bambu •  lemang • degan bakar • sego abang • bubur kampung • gule ayam • lontong mangut • serundeng unjar • soto • ramesan • rujak • lutis • lotek • lesah • sego jagung putih • sego jagung kuning • gablok pecel • gono jagung • kupat tahu • gudheg • sego gono • sego kuning • nasi bakar • gorengan • godhogan • sate jamur • otak-otak jamur • tempe benguk • tempe koro pedang • tempe kecipir • rangen • pethotan • brendung • klemet • bajingan • ketan cambah • cethil • ongol-ongol • ndas borok • klepon • thiwul • iwel-iwel • ketan lopis • kimpul uran • mendut • jenang lot • rondo kemul • ketan jali • onde-onde • sawut • comro • lentho • toklo • entho cothot • kocomoto • cithak • lemper • endog bulus • endog gluduk • gethuk ireng • gethuk gulung • tape singkong • tape ketan • gemblong gurih • gemblong klomot • prol tape • sagon • apem kumbu • apem • gula kacang • gula kelapa • lepet tempe • srowol • bandos • presikan • timus • arem-arem • sagon • yangko • jadah bakar • wajik kacang ijo • jenang wijen • glanggem • ketan serundeng • ketan bubuk • gatot • nogosari • kipo • kemplang • srengkulun • cucur • lapir beras • lapis singkong • degan • dawet ayu • dawet anget • dawet ireng • wedang ronde • wedang lungkrah • susu kedele • wedang tape • sop buah • kolak pisang • kolak kimpul • jenang candil • jenang baning • jenang telo • teh manis • es jeruk • kopi • lathak • grubi • akar kelapa • intip • peyek daun • peyek kacang • peyek rebon • kering • sambel • endog asin • samier • criping poyor • criping ilat • criping pisang… Wuakeh!!!

 

Membangun Kota Ganja Yang Sukses

This slideshow requires JavaScript.

Game ini (kayaknya) nggak ada gunanya, tapi menyenangkan buat dimainkan. Tokoh utamanya (played by us), hanya menanam ganja saja. Dari berbagai jenis ganja itu, nantinya akan dikirim ke rumah nenek untuk diolah lagi menjadi madu, weed butter, cokelat, canna flour, marshmellow, dan hemp milk. Nah, bahan-bahan ini juga nantinya menjadi bahan dasar untuk membuat brownie, cookie, and sooo many! Kalau bahan kurang, artinya harus menanam lagi. Ganja yang sudah dipanen, bisa disimpan. Kalau gudangnya sudah mulai penuh, artinya kamu harus memperbesar ukuran gudang – dan itu artinya ada sejumlah benda dan uang yang harus kamu siapkan sebelumnya.

Business model” kota ganja ini menarik banget. Sebagai seorang bandar, kita harus tetap punya kontribusi terhadap kotanya. Menjaga kebersihan, salah satunya. Mereparasi fasilitas kota yang rusak juga, walaupun itu termasuk artinya kita harus mengeluarkan uang saat melakukannya, but we’ll get a point for doing those things.

Tokoh-tokohnya juga menarik. Ada yang akan mengingatkanmu pada Cheech & Chong, atau pada Bob Marley. Jangan lupa pegawai pemerintahan yang ganteng tapi juga rajin mengorder cimeng ke kita. Haha!

Hempire pula sesekali menyelenggarakan semacam kontes membuat bibit ganja terbaik. Ada opsi buat kamu bisa ikutan, dan nggak wajib juga. Waktu ikutan, kamu bisa mengarang nama bibit ganjamu. Saya sendiri sering sengaja menamakan yang norak, tapi sangat Indonesia. For no reason. O ya, nanti kalau kamu menang, selama beberapa saat, bibit ganja buatanmu akan lumayan disorot, karena akan ikut ditanam oleh si dokter penanam ganja dari laboratorium sebelah, dan akan ada demand terhadap ganjamu tadi. Pretty cool, ey!

Sesuatu lagi yang antara penting dan nggak. Kamu bisa pasang iklan di sini. Placement-nya keren sih. Worth a try.

Game-nya gratis. Seperti biasa, ada opsi untuk menghamburkan uang dari dunia nyata alias kartu kredit kalau kamu nggak sabaran dan pengen beli ini itu. Tapi sebenarnya kalau mau sabar dan rajin main, kamu bakal dapat banyak berlian yang bisa dipakai buat belanja. Jangan lupa cek koleksi muscle car-nya dan mobil-mobil futuristik katro lainnya, juga semua monumen yang bisa dipajang menghias kota ganjamu. Fun!

Nama game Hempire

Dapat diunduh di : Google Playstore dan App Store

Resep: Ikan Bawal Kukus

Kalau dapat bahan ikan yang bagus, saya selalu memilih untuk mengolahnya secara sederhana. Bumbu minimalis, proses sederhana. Menonjolkan kualitas ikan tersebut instead of bahan-bahan lainnya. Jadi ketika mendapatkan bawal Jepang dari The Chilly Bin, langsung memutuskan untuk mengukusnya. Ikan bawal selain mudah dibersihkan karena tidak bersisik, punya daging tebal & kulit yang kenyal. Cocok sekali buat disteam.

Untuk teman makannya, saya bikin sambal luat – sambal khas Kupang, Nusa Tenggara Timur. Ternyata, cocok banget!

Bahan:

  • 1 ekor bawal Jepang, bersihkan.
  • 5 siung bawang putih, dicincang kasar
  • 2 ruas jahe, kupas dan iris seperti korek api
  • 4 cabe rawit, iris
  • 2 daun bawang. Bagian putihnya diiris tipis, bagian hijau dipotong sepanjang 3 cm.
  • 4 sdm kecap asin
  • 3 sdm minyak wijen

Cara membuat:

  1. Lumuri ikan dengan kecap asin dan minyak wijen. Masukkan sepertiga bahan-bahan lainnya ke dalam tubuh ikan. Sisanya, ditaruh di atas dan bawah ikan di loyang tahan panas.
  2. Kukus sampai matang.

*saya menggunakan Cubie oven dari Panasonic. Memakai mode Steaming High, selama 15 menit. Mudah digunakan, dan matang sempurna!

Bahan sambal luat:

  • 8 cabai merah keriting
  • 4 cabai rawit merah
  • setengah genggam daun ketumbar, cincang halus
  • 3 jeruk lemon cui, bersihkan kulitnya. Iris, lantas buang bijinya.
  • Garam secukupnya

Cara membuat sambal luat:

  1. Haluskan semua bahan sampai tercampur. Tidak perlu sampai halus benar.
  2. Simpan dalam wadah bersih tertutup. Bisa disimpan sampai seminggu di dalam kulkas.

    This slideshow requires JavaScript.

Marlina Yang Akan Membunuhmu Sejak Babak Pertama.

Entah hal mana yang menarik saya pertama kali sebelum akhirnya memutuskan untuk menonton film ini sendirian;

  • Pencapaian film ini secara internasional sebelum akhirnya tayang di Indonesia
  • Hype tentang betapa keren film ini, menurut timeline di Path dan Twitter

, atau…

  • Memang saya selalu tertarik pada film Indonesia?

Jawab: ketiganya benar! ;)

Bercerita tentang seorang janda yang membunuh segerombolan orang yang merampas harta serta harga dirinya. Marlina lantas menempuh perjalanan sambil membawa kepala gembong yang sudah ditebasnya, untuk dibawa ke kantor polisi. “Ini sang tahanan,” demikian ia menyebut si korban. Oh, no. Wait. Actually, Marlina kan korbannya?

Menonton film ini, emosi semakin diguncang akibat begitu misteriusnya sosok Marlina ini. Membuat mempertanyakan diri sendiri, “Haruskah kita iba pada perempuan ini?” Datar emosinya seringkali membuat bergidik. Sehingga, kerap, ketika posisi Marlina terpojok, kita berharap situasi bisa akhirnya bersahabat pada nasibnya, demi menenangkan perasaan kita saat menyaksikan film ini. Ada kalanya pun, kita akan dibuat tertawa oleh sesuatu yang pula bukan komedi. Weirdly stunning, and stunningly weird!

Pemeran pembantu juga semuanya layak dipuji. Music scoring yang juga baik. Film ini secara keseluruhan memang bagus.

Sutradara: Mouly Surya

Pemeran Utama: Marsha Timothy

Mengubah Pola Pikir Terhadap Santapan Demi Kelangsungan Bahan Pangan

Belakangan ini muncul berbagai ide dalam bentuk acara serta diskusi bertemakan kelangsungan bahan pangan. Bukan sekadar isu yang menarik, namun memang perlu untuk diperhatikan. Kalau kita terus mengonsumsi tanpa memikirkan sustainability-nya, apa yang akan kita dan anak-anak kita santap di masa yang akan datang?

Pernahkah kamu memikirkan dari mana asal bahan-bahan makanan yang kamu santap? Selain penting karena ini berkaitan dengan kesehatan, ini juga terkait dengan masa depan kamu. Masa depan kita semua.

Kemarin, Minggu (1/10), saya diundang menghadiri acara santap menyantap berjudul #KrossKulture – sebuah proyek kolaborasi antara Arumdalu Lab dengan Chef Fernando Sindu, Jendela.co, Fullfill dan Kandura Studio. Arumdalu Lab adalah ruang komunitas kreatif yang mengedepankan alam, dan merupakan bagian dari Arumdalu Private Resort di Belitung. Berlokasi di BSD, di area seluas 1 hektar ini terdapat area kebun organik, dapur hingga ruang berkumpul. Hijau, dan menarik. Bukan sekadar karena tampilannya, tapi karena fungsinya yang membuat saya yakin bahwa kita masih punya masa depan. Sedangkan Chef Nando adalah penggerak sejumlah resto ternama – sebutlah Benedict, Seven Friday serta Canting Jogja. Jendela.co mendokumentasikan seluruh kegiatan, Fullfill sebagai branding agency, dan Kandura memamerkan kecantikan piring keramik buatannya. Ide dari Kross Kulture ini adalah menggabungkan berbagai sektor untuk memikirkan masa depan bahan pangan di Indonesia. Kewl, ey?

Dibuka dengan aneka gorengan berbasis dedaunan dari kebun Arumdalu Lab yang disajikan dengan sambal tomat bercitarasa manis pedas bertekstur jelly-ish. Lantas berlanjut dengan kulit ayam goreng garing yang disajikan dengan homemade mayonnaise, bubuk kembang telang, bubuk daun kenikir serta bubuk electric daisy. Ayamnya diternakkan di tempat ini, pun kuning telur yang digunakan untuk membuat mayonnaise juga dihasilkan di lokasi yang sama! Saya terpikat oleh dua bubuk yang terakhir saya sebutkan. Kenikir, karena cukup tajam sehingga memberikan rasa yang khas di tengah nikmatnya kulit ayam nan renyah. Sedangkan electric daisy memberi sensasi kebas layaknya sesaat setelah mengecap andaliman.

Siapa tak kenal Sate Taichan? Sate ayam berbumbu minimalis itu hadir juga di acara ini. Potongan fillet paha ayam ditusuk dahan pohon jeruk, disajikan dengan sambal pedas yang rasanya mantap luar biasa, peanut butter serta garam. Daging ayamnya juicy, legit alami, dengan penampakan lean namun bertekstur lembut. Guess what; ayam yang diternak sejak kecil ini diberi makan sweet basil. Makanya dagingnya terasa manis dan tidak amis!

Disambung lemper, yang konon beras ketannya dimasak dalam kaldu ikan. Isinya sendiri ada abon ikan patin, dan kemudian ditaburi serundeng gurih. Hey, ikan patinnya juga diternakkan di tempat ini!

Memasuki babak main course, kami disajikan Arumdalu Lab Salad. Yeap, salad dengan isian berbagai dedaunan serta edible flowers asal kebun sendiri, dengan dressing saus kacang asam pedas. Yang menarik adalah adanya popped sorghum di sajian ini. Tak terlalu terasa karena jumlahnya hanya sedikit. Tapi keberadaannya cukup mengundang decak kagum saya atas penggunaan bahan yang dulunya, “Ah, apalah dia”.

Disambung dengan sajian khas Jawa Tengah. Mangut. Ikan yang digunakan bukanlah iwak pe atau lele asap seperti yang layak ditemukan di daerah asalnya. Melainkan ikan patin. Disajikan di batok kelapa muda ditemani petai, kemangi serta leunca, saya dapat menikmatinya dengan ikut mengeruk daging kelapa muda yang legit. Kulit ikan patin garing pun menjadi highlight sajian ini!

Tinutuan alias bubur Manado pun kemudian ikut tampil. Selain jagung, ada daun singkong serta bunga pepaya di dalamnya. Disajikan dengan patin panggang rica, abon patin dan dabu-dabu. Ini juga enak! Tak kalah menarik; ayam kalio. Hadir dalam bentuk paha bawah utuh dengan cekernya, ayam isi ini sungguh nikmat. Bumbu kalionya well balanced, pun serasi dengan kentang serta ubi yang di-confit dengan minyak kelapa. Aromatik!

Mie Ayam menjadi penyempurna agar perut saya kenyang kali ini. Porsi sedang, dengan tumisan ayam, ati ayam serta jamur bercitarasa gurih – kayaknya nggak mungkin salah deh!

Setelah itu, sejumlah dessert pun hadir. Pengalaman yang cukup menarik ketika sesaat sebelum menikmati pencuci mulut, kami diminta untuk menggigit electric daisy lantas membasuh tenggorokan dengan “jamu” yang mereka buat. Kebas, tangy, sensasinya membuat lidah saya menari kejang. Menyenangkan.

Kembali ke obrolan awal, mengenai food sustainability. Mungkin kita bisa memulai dengan memilih lebih cermat bahan-bahan masakan kita. Lebih pandai memilah dan memilih – sehingga, tak saja sehat, namun juga merencanakan masa depan dengan baik.

Membuat Ekstrak Vanili

Sedang getol-getolnya bereksperimen dengan cold brew coffee, terlintas dalam pikiran saya untuk memasukkan unsur rasa vanili di dalamnya. “Pasti enak nih!” pikir saya. Jadilah saya masukkan 2 batang vanili, hadiah dari seorang kawan di Madagascar, ke dalam 1,5 liter kopi yang sedang saya seduh dalam air suhu ruangan.

8 jam berlalu. Jadilah sudah cold brew coffee buatan saya. Nihil rasa maupun aroma vanili di dalamnya. Huh… Gagal! Selidik punya selidik, ternyata saya harus terlebih dahulu membuat vanilla extract, alias ekstrak vanili.

20160423_115159

Botol berisi batang vanili dan vodka

 

Bahan:

  • 240 cc vodka*
  • 5 batang vanili

Cara membuat:

  1. Potong batang vanili menjadi 2. Belah batang vanili.
  2. Masukkan ke dalam botol kaca bersih yang kering. Tuangkan vodka ke dalamnya, hingga semua batang vanili terendam. Tutup rapat.
  3. Simpan botol di tempat yang tidak terkena cahaya matahari langsung di suhu ruangan selama setidaknya 1 bulan. Sesekali dalam 2-3 hari, kocok botol agar isinya tercampur dengan baik.
  4. Waktu idealnya adalah 3 bulan. Semakin lama disimpan, semakin kompleks aroma vanili yang tercipta, tentu saja, semakin baik.

Tips:

  • Waktu idealnya adalah 3 bulan. Semakin lama disimpan, semakin kompleks aroma vanili yang tercipta, tentu saja, semakin baik.
  • Alkohol yang digunakan bisa berbagai macam, misalnya wiski, brandy atau rum. Tapi vodka merupakan alkohol yang paling netral untuk membuat ekstrak vanili ini. Saya pernah mencobanya dengan menggunakan Absolut Raspberri, tapi aroma raspberry terlalu kuat hingga mengalahkan vanili itu sendiri- sehingga tidak sesuai dengan apa yang saya inginkan.
  • Jika sudah jadi dan menginginkan hasil akhir yang bening tanpa residu vanili, bisa pindahkan ke botol lain dengan menyaringnya menggunakan coffee filter.

Memang dibutuhkan kesabaran ekstra untuk membuat ekstrak vanili ini. Tapi percaya deh; worth every second of waitin’!