Service Baik di Resto? Penting Banget!

Most likely, saya akan lebih memilih pergi ke restoran atau café yang makanannya biasa biasa saja tapi service-nya baik, dibanding ke tempat yang makanannya enak banget tapi service-nya buruk. Saya sendiri sering bertanya-tanya, apakah pengelola tempat makan sebenarnya selalu punya SOP (Standard Operating Procedure), atau tidak. Atau, kalau pun ada, SOP-nya seperti apa sih?

Apa bayangan saya tentang SOP yang baik?

  • Ketika customer datang, waiter akan menyapa (selamat pagi/siang/sore/malam). Menanyakan berapa jumlah orang yang akan bersantap, ingin duduk di smoking atau non-smoking area, lantas mengantar customer ke tempat duduknya.
  • Memberikan buku menu, sambil memberitahukan mana menu yang sedang tidak available, dan menawarkan diri untuk memberikan rekomendasi menu jika diinginkan.
  • Mencatat semua order, dan mengulang dengan jelas semuanya.
  • Mengantar semua order dengan menyebutkan nama masing-masing pesanannya, dan mempersilakan pelanggan untuk menikmati hidangan.
  • Memberikan tagihan (bill) saat diminta. Memberikan informasi jika ada promo yang sedang berlaku. Menanyakan feed back atas hidangan atau layanan, atau memberikan feedback card jika memang ada.
  • Mengucapkan terima kasih.

Tiap tempat makan, pasti SOP-nya berbeda-beda sih. Tapi bagi saya, yang penting keramahan yang nggak dibuat-buat. Karena keramahan yang sincere itu jadinya hangat, tamu akan merasa seperti di rumah sendiri. Means? They’ll come back. Definitely.

Sedikit cerita. Di Sop Kaki Kambing Irwan di Blok M, kali kedua saya datang, pedagangnya sudah akrab memanggil nama saya dan menyebutkan pola pesan saya: potong besar-besar, tidak pakai kecap, daun bawang & vetsin. Hanya kuah. Hal ini dilakukannya juga pada pelanggan lain. Hal yang tampak sederhana ini efeknya besar. Pelanggan, termasuk saya, merasa diistimewakan. Kami kembali terus ke tempat ini.

 

Trip to Ubud with ACMI for UWRF (day 3)

IMG_6859
IMG_6870
Hari ke-3 di Ubud Writers & Readers Festival, giliran mbak Santhi Serad yang berbagi kisah tentang herbal. Hari itu, peserta kebagian nyicipin minuman kunyit asem yang segar banget. Satu hal tentang kunyit asem buatan beliau ini; rasanya konsisten. Mild banget; jadi bagi yang nggak terbiasa dengan kunyit pun, pasti akan dengan mudah “menerima” minuman ini. Masih di sesi yang sama, kami juga diberi kesempatan menyicipi Sup Kenikir dan Urap Pegagan.
IMG_6867
IMG_6877
Urap dengan isi cacahan daun pegagan, irisan mangga muda, bawang merah, rawit, udang, kacang tanah goreng yang dikucuri perasan jeruk nipis ini sukses bikin saya dan team ACMI lainnya ketagihan. Segar dan nikmat bukan kepalang! Sekadar info, daun pegagan ini juga dikenal dengan nama “brain food” karena khasiatnya yang meningkatkan fungsi otak. Tanaman dengan nama Centella Asiatica ini juga dikenal sebagai anti lepra dan penyembuh luka, dan sebagai antiseptik. Sudah berkhasiat, enak lagi! :)
IMG_6881
Kelar sesi, kami kemudian menuju Pomegranate Café. Dari tempat mobil parkir, kami harus berjalan kaki menempuh jalan kecil menanjak sejauh ratusan meter membelah sawah. Pemandangannya bagus. Pomegranate ini tempatnya sederhana. Beratapkan semacam kain terpal tipis. Di siang hari, tempat ini memang jadi panas sekali. Saat itu sih, agak jarang ada angin. Tapi di luar itu, pemandangan hamparan sawah hijau jelas menyejukkan mata. Dan makanan-makanan yang kami pesan, semuanya enak.
shiraae misshotrodqueen_on_Instagram
Saya memesan shirae. Isinya ada kacang panjang, wortel, sayuran hijau dan jamur kikurage, dengan dressing berupa silk tofu yang dihaluskan dengan wijen. Enaknya bukan kepalang; nagih! Eh, menu ini juga memberi saya ide buat bikin versi mudahnya yang lebih sederhana. Dari situlah lahir hashtag #MasakYuk di timeline twitter saya @missHOTRODqueen :D
Kelar makan, seluruh rombongan menuju Neka Art Museum. Siang itu oom William Wongso dijadwalkan sebagai speaker dalam diskusi bertajuk “Master Chefs & A Mistress Of Spice” bareng Chef Wan dan Farah Quinn. Nggak banyak yang bisa saya ceritakan tentang diskusi ini karena saat itu saya tidak ikut masuk ke area diskusi untuk menyimaknya.
Petang hari, saya dan Adith (Dapur Cokelat) menuju Don Antonio Blanco Art Museum untuk ikut menyaksikan screening “Jalanan”, sebuah film semi dokumenter yang disutradarai oleh Daniel Ziv. I was stunned for almost 2 hours! Saya nggak nyangka film dokumenter bisa jadi sebagus dan semenarik ini. Beberapa quote dari para pemeran utama yang merupakan musisi jalanan itu begitu mengaduk perasaan; membuat saya antara ingin tertawa tapi di saat yang sama juga tertohok pedih. It’s a must-watch one; seriously!
Usai screening Jalanan, saya, Mila & Mbak Nita menyusul oom William & kang Motulz ke Bebek Tepi Sawah untuk makan malam. Bebek gorengnya masih enak seperti terakhir kali saya mengunjungi tempat ini. Dan sambal matah dicacah halus selalu berhasil membuat saya mengacungi jempol biarpun di sini bukanlah sambal matah terenak di Bali :p
Oh, well, 3 hari kegiatan ACMI di UWRF ini ngasih saya banyak ilmu; seperti biasanya. Mau ikutan di kegiatan-kegiatan ACMI lainnya? Like fanpage ACMI di Facebook, dan follow di Twitter & Instagram-nya ya ;)

Trip to Ubud with ACMI for UWRF (day 2)

Ooops, sudah terlalu lama ya rupanya sejak terakhir saya menceritakan kegiatan ACMI di Ubud Writers & Readers Festival day 1 waktu itu. Hmmm.

Image

Hari kedua, adalah giliran Rahung yang sharing tentang masakan Batak. Koki Gadungan yang kerap dipanggil “Tattoo Chef” oleh oom William Wongso ini memang asalnya dari Sumatra Utara. Saya mengenalnya sudah cukup lama, dan memang mengakui bahwa masakan-masakannya luar biasa nikmat. Sekadar info saja, di awal perkenalan kami, saya sudah mencicipi sambal nanas teri andaliman dan gulai lele asap buatannya; dan langsung ketagihan. Nah, hari itu Rahung sharing tentang pembuatan arsik ikan mas dan sayur daun ubi tumbuk. Peserta yang kebanyakan dari warga negara asing, menyimak dengan seksama. Menarik sekali karena Rahung juga berbagi cerita mengenai sejarah di balik kuliner Batak ini. Ia pun menceritakan bahwa sejak masuknya agama Islam ke Sumatra Utara, ada pengaruhnya juga ke kuliner Batak; yaitu, mulai banyak makanan-makanan halal dengan pengaruh dari Aceh & Sumatra Barat. Misalnya gulai bebek, yang hari itu juga dibagikan kepada peserta. Biarpun penyampaian Rahung dalam bahasa Inggris tidak bisa dibilang lancar, ia membuat kami semua tertawa atas ucapannya, “If you don’t understand my English, it’s not my fault. It’s your fault that you can’t speak bahasa Indonesia.” :)))
ImageImage
Image
Sesi ke-2 diisi dengan oom William Wongso yang berbagi cerita mengenai tempe. Bermodalkan materi foto-foto hasil jepretan beliau melalui projector ke screen, oom Will membuat suasana sharing begitu interaktif dengan berbagai tanya-jawab yang tak henti. Peserta dapat melihat tempe kedelai, tempe benguk, dan tempe gembus. Mereka juga mencicipi kering tempe, dan sambal tempe dalam daun pohpohan. Seorang peserta asal Australia juga sempat berbagi cerita tentang tempe yang dibuat dari kacang lupin. Saya pun sempat menyicipi tempe lupin goreng. Warnanya lebih kuning, dengan tekstur yang nyaris tak ada bedanya dengan tempe kedelai. Kalau mau tahu lebih banyak tentang kacang lupin ini, ada baiknya kamu tanyakan pada ketua ACMI, mbak Santhi Serad ;)
Image
Kelar acara, kami semua pintong (pindah tongkrongan :p) ke Seniman Coffee di Jl. Sriwedari, Ubud. Sebelumnya saya sudah pernah ke sini, diajak oleh Robi & Lakota dari Navicula. Tapi waktu itu saya hanya memesan veggie juice, karena basically saya memang bukan peminum kopi. Sore itu, sama seperti sebelumnya, saya kembali memesan juice. Tapi Dave & Rodney, pemilik Seniman Coffee, sibuk memberikan coffee tester buat kami. Nggak mungkin kan saya tolak. Dua orang ini, juga para barista yang ada di sana, tak pelit ilmu menceritakan tentang serba serbi kopi. Jadi saja, kami sibuk menyimak sambil terus menerus meneguk berbagai kopi dengan berbagai teknik brewing-nya. Sempat juga lho nyicipin coffee liquor yang mereka buat sendiri. Oh, jangan tanya, yang ini sih langsung disambut manis oleh saya, mbak Santhi & mbak Nita! Hahaha :D
Kalau kamu ke Ubud, mampir deh ke tempat ini. Perhatikan juga interiornya dan perangkat makan/minumnya yang unik… Bikin jatuh hati!

Trip to Ubud with ACMI for UWRF (day 1)

12-15 Oktober 2013 kemarin, saya termasuk dalam rombongan ACMI yang ikut berangkat ke Bali dalam rangka Ubud Writers & Readers Festival. ACMI memang mendapatkan spot untuk membuat sharing session (instead of cooking class, kami memang lebih suka menyebutnya dengan sebutan ini) dalam rangkaian UWRF.
Pada hari pertama, Sabtu 12 Oktober 2013, ada I Gusti Nyoman Darta yang berbagi mengenai pengolahan hidangan khas Bali, dan Putry Mumpuni untuk hidangan nasi liwet khas Jawa. Sayang sekali, karena pesawat yang saya tumpangi delayed, ketika saya tiba di venue, sesi kedua bahkan sudah hampir selesai. Untung saya masih bisa menyicipi lawar daun belimbing yang dibuat oleh Pak Darta.
Sekadar cerita saja, saya pernah bertemu Pak Darta sebelumnya dalam sebuah kelas masak di Kamandalu Resort & Spa, Ubud. Saya langsung jatuh hati pada semua masakan beliau sejak pertama kali mereka mendarat di mulut saya. Beliau tidak pernah menggunakan MSG. Bukannya saya anti MSG. Tapi, ketika merasakan makanan nikmat tanpa MSG, percaya deh, mood lidah saya akan jauh lebih bersahabat. Nggak mudah haus – gambaran mudahnya sih begitu. Apalagi, Pak Darta banyak tau mengenai sejarah budaya termasuk kuliner Bali. Jadi semakin menyenangkan bisa berada di kelas masak beliau.
Image
Sesi ketiga di hari pertama merupakan sesi masakan khas Kutai Barat. Saya sendiri, biarpun sudah pernah ke Kutai Barat, amat tertarik dengan materi sharing session kali itu karena menu yang akan diceritakan adalah “jagaq” – sesuatu yang masih amat sangat asing di telinga saya. Bahkan saya coba menggugelnya pun, tidak semudah itu mencari informasi mengenainya. Ternyata jagaq yang menyerupai biji-bijian mirip couscous itu di sana diolah menjadi bubur bercitarasa manis, atau kadang seperti cream soup. Sempat juga saya menyicipi Serbat Bromot, minuman hangat yang terbuat dari bawang bromot. Ewww, minuman dari bawang?! Awalnya saya nggak percaya juga sih kalau saya akan menyeruput minuman berwarna merah itu. Tapi, ternyata minuman berkhasiat yang terbuat dari bawang bromot, jahe, dan kayumanis itu, rasanya manis & nikmat. Tidak ada jejak bawang sedikit pun seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Menurut seorang ibu asal Kutai Barat tersebut, minuman ini berkhasiat menyembuhkan kista. “Tapi karena ini herbal, kalau diminum rutin pun, kista baru akan hilang sekitar 3-4 bulan setelahnya,” ujar beliau.
IMG_6776IMG_6768 1
Kelar acara, kami menuju Warung Pulau Kelapa yang berada di Jl. Raya Sanggingan Ubud, hanya sekitar 100 meter dari The Kitchen, lokasi sesi #ACMI_UWRF. Di tempat ini, Chef Lambon yang pernah bekerja di tempat oom William Wongso, kini bekerja. Baru datang, saya sudah disuguhi affogato; vanilla gelato yang lantas dituangi secangkir kecil espresso panas. Hmmm, nikmat benar!
Affogato; vanilla gelato + hot espresso!
Saya kemudian berjalan ke kebun yang terletak di belakang Warung Pulau Kelapa. Kebun besar ini ditanami beraneka sayur mayur. Pengunjung bisa memetiknya untuk kemudian minta dimasakkan. Saya sendiri waktu itu nggak ikut memetik karena sudah tahu bahwa teman-teman lainnya pasti sudah memilihkan untuk menu makan malam kami semua.
Image
Image
Dan benar saja, saat makan malam tiba, Chef Lambon sudah datang dengan berbagai menu sayur mayur – just like what I expected to have! Semua sayur dimasak dengan bumbu minimalis dan dalam tingkat kematangan yang pas. Hasilnya? karakter tiap sayuran yang diolah tetap tampil dengan sempurna!
Tumis 7 Daun
Konsep restoran seperti ini terhitung baru buat saya. And, yep, saya suka banget. Kalau kamu suka kopi, tempat ini juga wajib dijajal. Deretan berbagai pilihan kopi berkualitas baik dari brand Java Qahwa ada di sini.