Setidaknya ada tiga hal yang berkesan ketika saya mengunjungi Magelang: Borobudur, Getuk Trio, dan Kota yang tua. Saya menyukai tiap sudut kota ini, seperti sedang menjumpai ke rumah saudara, ramah, akrab dan juga hangat. Cukup bersih dan nyaman. Begitu juga tempat yang saya kunjungi yaitu Desa Candirejo. Semoga tulisan ini tidak dianggap glorifikasi karena saya hanya ‘cosplay’ menjadi turis tiga hari dua malam. Desa ini sungguh enak untuk ditinggali dalam waktu singkat atau mungkin dalam jangka yang panjang, terbukti ketika saya mencoba masuk lebih dalam dan bersosial dengan warganya, benar-benar nyaman. Entah karena kita punya ciri khas adat jawa, atau memang orang-orangnya yang terbuat dari keramahtamahan. Desa ini terletak di tenggara Candi Borobudur, tidak jauh dan cukup mudah untuk bisa diakses dengan kendaraan pribadi. Namun, jangan harap ada kendaraan umum seperti bus atau angkutan desa, apalagi transportasi online seperti ojek online, Ya akan penuh effort sepertinya. Karena letaknya yang cukup tersembunyi, desa ini menjadi salah satu desa wisata yang menawarkan wisata minat khusus seperti bersepeda, menaiki dokar, Offroad dengan mobil Jeep atau VW, dan juga sajian kuliner seperti masakan Ikan Beong yang ‘katanya’ Ikan endemik ini hanya ada di Sungai Progo. Setelah berselancar di dunia maya dan melihat beberapa artikel yang sudah ditawarkan tersebut, saya jadi penasaran. Apa benar desa ini menawarkan hal-hal yang sesuai dengan artikel-artikel itu? saya yang tak puas mengelilingi Candi Rejo ini, mencoba melihatnya dari kejauhan. Ternyata benar, keindahan yang ditawarkan akan nampak ketika kita melihatnya tak hanya dari dalamnya saja, melainkan letak dan posisinya yang cukup unik karena hutan dan batuan menghiasi pegunungan Menoreh di sebelah selatan desa ini. Apalagi ketika gugusan lanskapnya terkena cahaya mentari sore. Indah dan romantis sekali. Sungguh fenomena yang apik.
Mungkin saya tak banyak melakukan perjalanan, namun perjalanan yang saya rasakan di tempat ini, agaknya aneh buat saya. Sepertinya mendapatkan sebuah ‘Giveaway’ adalah hal yang patut saya syukuri di bulan Agustus ini, karena melihat proyek kolaborasi yang unik itu, membuat saya ingin sekali menjelajah apa yang sudah saya dapatkan. yaitu: “Petualangan Rasa di Magelang”. seperti pada tajuknya: berpetualang dengan rasa. Nampaknya ini menjadi sebuah perjalanan yang melibatkan indra pengecap. Tapi, ternyata rasa yang ditawarkan dalam perjalanan ini tak hanya melibatkan indra pengecap saja, namun rasa berupa pengalaman dalam tiga hari dua malam. Membuat saya yang terbiasa dengan industri ‘hospitality’ ini cukup mendapatkan pengalaman yang membekas di ingatan. Tepat pada tulisan saya sebelumnya, bahwa pengalaman yang saya dapatkan di kota Magelang dan Muntilan sungguhlah minim. Hanya saja memori yang bisa saya tangkap, ya hanya Borobudur, Getuk Trio dan juga Kota tua. terlepas dari tiga hal tersebut, kota ini menyimpan berbagai memori dan fragmen-fragmen yang magis. Melihat sekilas saja, membuat saya berpikir kejauhan. sampai pada pertanyaan: “Ada apa ya di kota ini?”, tentu bukan hiburan yang sifatnya ‘Urban’, melainkan bagaimana kota ini bisa terbentuk. Entahlah, mungkin orang-orang ‘Unik’ jaman dulu memiliki alasan, kenapa mereka bisa dan mau meletakkan batu-batuan dengan luas mungkin empat belas lapangan sepak bola di pinggiran kotanya; yang adalah Borobudur. Batuan bersusun dengan apik itu tentu bukan diletakkan tanpa alasan, apalagi kita bisa melihat pegunungan yang ada di sekelilingnya- juga nampak tak kalah menarik. Ada Gunung Merapi-Merbabu di sebelah Timur, Gunung Sindoro-Sumbing di sebelah Utara, pegunungan Menoreh ada di sebelah Selatan, serta terletak di antara sungai Elo dan Progo. Sungguh letak yang unik.
Saya yang tak mengerti banyak dan ‘Waton Mangat’ ini, bersiap mengikuti Petualangan Rasa yang akan di Hosting oleh Ade Putri Paramadita seorang Culinary Story Teller, selaku kolaborator dan juga pemeran utama dalam perjalanan ini, tak lupa juga kolaborator lain yang tak kalah menarik yaitu: Pelangi Benua pemilik program perjalanan, ada Go4Tour yang senantiasa menemani perjalanan kami dengan menawarkan pengalaman bersepeda dalam tajuknya; #TurkeDesa. juga Rumah baca Melek Huruf yang sekaligus melengkapi tur ini menjadi lebih hidup. 🌱
Mengenal Rasa dalam Bentuk Lain
Saya suka melihat manusia menjadi dirinya sendiri ketika makan, tak ada yang ditutupi. Semua nampak jujur dan tubuh pun ikut menerima sinyal disaat suap demi suap makanan ikut tertelan. Bercucuran keringat karena rasa pedasnya atau karena memang tempatnya yang hanya menyediakan satu kipas angin saja. Padahal cuaca saat itu sedang panas-panasnya. Tak apa, itu bagian dari atraksi makan kita pada siang itu. Makanan tak hanya membuat selera kita menjadi muncul, namun hasrat dan jiwa untuk menghabiskan nya juga ikut mengalir. Siang itu, kami memasuki warung makan Sop Empal Bu Haryoko, saya yang berusaha adaptasi dengan cuacanya, seperti ingin mengucurkan air es di tenggorokan. Tentu saya penikmat Es Teh yang kental tanpa gula. terlebih jika ada Es Teh Kental dan sedikit ‘sepat’, pastilah saya akan memesan dua gelas. Bicara mengenai makanan, rasanya kurang pas jika kita makan hanya seorang diri, ya mesti itu tidak disalahkan juga, namun budaya makan bersama atau secara komunal adalah tradisi yang sudah ada sejak nenek moyang kita hadir di negara kepulauan ini. Baik tradisi, pesta, atau perayaan-perayaan yang bisa dinikmati bersama, kata orang-orang ‘Makannya jadi lebih nikmat’. Saya setuju dan membenarkan lelaku tersebut, karena dengan makanan, kita akan menemukan hal-hal yang berkaitan dengan kedekatan. Baik secara kedekatan sosial, maupun keterikatan batiniyah. Melalui makanan juga, kita dapat menemukan fragmen-fragmen memori. Seperti pada masakan Bu Haryoko. Saya jadi teringat Almarhumah ibu saya, apapun masakannya, selama itu masakan rumahan, itu cukup buat saya yang tak banyak rewel soal makanan. Pastinya masakan yang dibuat oleh cinta akan sampai kepada orang yang menikmatinya. Seperti sebuah pesan magis yang diselipkan dalam makanan. Pasti akan ‘pas’ kepada orang yang menerimanya. Empal dengan rasa yang tak terlalu manis diawal tapi juga memiliki rasa gurih setelah dua gigitan pertama. Teksturnya empuk, memudahkan penikmatnya untuk tak berhenti mengunyah dalam tiap suapan, terbukti pelanggan-pelanggan yang berdatangan sedari tadi kebanyakan orang-orang paruh baya, keluarga dan anak-anak generasi milenial juga masih berseliweran, pastilah memudahkannya menyantap di setiap gigitannya. Comforting sekali. Saya yang sedari tadi melihat-lihat dekorasi ruangannya, tampaknya cukup terbius dengan pajangan kalender berjejer pada tiap sudut dinding Warung Sop itu. Sebuah tanda bahwa warung-warung dengan gaya lawasan dan banyak kalender adalah indikasi yang cukup legit untuk dicoba makanannya. Dan benar, makanan dengan sajian Empal tersebut memiliki aroma cukup kuat dan hangat segar dalam kuahnya. Terdapat bihun, potongan kubis yang agak lebar, aroma bawang dan bumbu-bumbu rahasianya yang dapat melegakan tenggorokan. Menikmatinya pun kami memiliki gaya masing-masing, ada yang ditambahkan nasi ke dalam sop, ada yang dicampurkan dengan empal kedalam kuah, ada yang menikmati dengan cara dipisah antara sop dan empal, semua menikmatinya, semua memaknainya dengan khidmat. Kondimen lain yang bisa dinikmati, ada sambal dengan warna hijau pekat memiliki rasa asin gurih–tipe sambal hijau yang pekat, lalu pilihan Paru ikut hadir selain Empal yang ditawarkan di warung berdinding hijau itu. Kenikmatan lain juga dihadirkan dari minuman andalannya, yaitu; Es tape ketan hijau. Manis kecut yang dihasilkan menambah cita rasa pas untuk melengkapi makan siang saya dan teman-teman dikala itu. Buat para pecinta Tape Ketan, mungkin minuman ini akan cocok. Rasa asam berjumpa dengan Es batu dan tambahan sedikit gula, membuat dahaga kembali segar. Hal unik lainnya, warung ini tak memiliki sekat-sekat seperti pada resto-resto yang menyediakan ruangan private, semuanya bersamaan, berbagi meja, berbagi pengalaman dan tentu berbagi cerita. Perjalanan siang itu kami lanjutkan dengan menelusuri Jalan Pemuda, Kecamatan Muntilan. dan mengunjungi Toko Oleh-oleh yang sudah ada sejak 1912, toko dengan arsitektur khas pecinan itu cukup mudah untuk dijangkau, karena letaknya yang strategis lokasi ini banyak dikunjungi oleh pengunjung lokal maupun wisatawan. Terlebih toko ini tidak hanya menjajakan hasil produksinya sendiri, melainkan separuh lebih dari produknya dibuat oleh para pelaku usaha yang ada disekitar toko. Mungkin itu cara Ny. Pang hadir dan mendekatkan diri terhadap kultur jawa yang ada disana. Toko oleh-oleh yang keberadaannya sudah lebih dari satu abad itu, dikelola dengan serius hingga generasi keenam, terbukti toko ini masih eksis di tiap-tiap kalangan. Apalagi semenjak kemunculan jenama Ny. Pang hadir di film dan novel Gadis Kretek karya Ratih Kumala. Dia menyematkan suasana jalan Kota Muntilan dan “Wajik: Ny. Pang”. Immanuel Jeffrey Leevianto adalah penerus generasi keenam setelah dirinya menyelesaikan studi Tata boga, antusiasnya dalam mengembangkan bisnis keluarga ini, kini masih berjalan dengan konsep ‘Titip jual’ dan masih diburu oleh beberapa pelanggan setia Ny. Pang. Bermula dari banyaknya pesanan Dodol hingga Wajik yang dijajakan oleh Ny. Pang jaman dulu, karena seringnya perayaan hajatan pernikahan, kelahiran anak, sampai upacara kematian memang biasa menyuguhkan sajian Jenang Dodol sebagai persembahan. Kemunculannya dalam menjajakan produk Jenang dan jajanan legendaris lainnya, ia bawa dengan Tenong Bambu dan berkeliling kota Muntilan. Ketika mengunjungi toko ini, kesan pertama yang saya tangkap sama seperti Warung Sop Empal milik Bu Haryoko tadi, nuansa lawasan bercampur eksterior minimalis ala jaman sekarang. Suguhan Jajanan legendaris juga sangat beragam, mulai dari olahan Tepung Ketan, Umbi-umbian, Jajanan Manis, Asin dan Gurih semua serba ada, buat para pecinta keripik dan olahan Tape ketan juga tersedia. Semakin kita memasuki toko ini, pajangan Foto antar generasi penerus hingga Tenong Bambu nampak menghiasi interior toko, bahkan aneka Cetakan kue tradisional yang digunakannya sedari nyonya pang hadir, juga dipajangnya agar menambah kesan antik. Hal lain yang menjadi daya tarik dari toko ini, kita bisa melihat proses pembuatan Jenang dodol, Wajik dan aneka kue lainnya, seperti Kue Moho dan Kue Miku. Kue Miku yang sekilas mirip dengan Bakpao ini ternyata memiliki perbedaan cukup jauh. Selain memang karena bahannya, Kue Miku ini memiliki tekstur padat, ada sensasi lengket di mulut ketika dimakan karena proses pegembangannya alami menggunakan Biang dan Tape Singkong, sedangkan Bakpao memiliki tekstur yang soft dan kenyal atau membal, karena penggunaan ragi dan pengembang dalam proses pembuatannya. Pada umumnya, Kue Miku memiliki isian Kumbu kacang hijau, sementara Bakpao lebih bervariasi seperti Coklat, Kacang merah, Ayam, Keju dan lain sebagainya. Jajanan yang tak kalah menarik lainnya juga ada pada Wajik dan Krasikan. Krasikan dengan tekstur sedikit berpasir ketika digigit, serta memiliki cita rasa yang khas seperti aroma Wijen sangrai, tapi faktanya Krasikan yang kami cicipi itu tidak menggunakan Wijen sama sekali, melainkan teknik pembuatannya yang sudah turun temurun dilestarikan oleh toko ini. Lain halnya dengan Wajik yang memang sudah menjadi salah satu primadona Ny. Pang. Aroma gula aren atau gula jawa yang khas, membuat cita rasa Wajik menghasilkan visual yang mengkilap dan legit, tentu hal itu juga melalui proses panjang dan teknik-teknik memasak yang dimiliki Ny. Pang. Sajian lain kami dapatkan ketika Koh Jeffrey si pemilik menyajikan makanan yang menjadi primadona lain, ada Buntil dibungkus dengan daun pisang. Sebuah makanan pendamping atau sajian sayur yang bisa dinikmati dengan makanan utama, atau dinikmati tanpa harus ditambahkan dengan makanan lain. Terbuat dari daun talas, kelapa parut, santan dan bumbu-bumbu rempah, Buntil hadir disaat makan siang kami sedang di puncak-puncaknya. Mencobanya lalu merasakan suap demi suapan dengan teliti. Rasa kuah santan yang light. Tekstur lembut dan mudah hancur setelah kunyahan ketiga, saat itu saya jadi membayangkan ada nasi hangat di sampingnya ditambah kerupuk dan sambal Empal Bu Haryoko tadi. Duh~
Setelah bereksplorasi rasa di Jalan Pemuda, kami melanjutkan menelusuri sebuah gang-gang kecil di sekitar Toko oleh-oleh tersebut, sembari ngemilin Kue Moho, saya yang tak henti melihat Komplek Pecinan ini, mencoba mencairkan suasana dengan peserta lainnya. Sembari memakan pisang yang sejak tadi saya beli dari Mbah-mbah penjual buah di depan Toko Ny. Pang. Pemberhentian lain setelah menelusuri gang-gang kecil tadi, kami menemukan sebuah Pasar Muntilan, tak banyak aktivitas yang bisa kami lakukan disana, melainkan sebuah perkenalan lain atau sebuah cara bagaimana kita bisa mengenal masyarakat lokal dengan apa yang biasa mereka konsumsi di setiap harinya. Tak banyak perbedaan dari pasar-pasar tradisional yang pernah saya temui. Hanya saja pasar ini memiliki komplek yang cukup luas untuk menampung bahan makanan beberapa kecamatan dan kota Muntilan.
Setelah menelusuri Pasar Muntilan, kami melanjutkan perjalanan menuju lokasi jajanan nyentrik yang dibalut daun pisang dan dililit oleh tali tiga bambu. Makanan yang hanya disajikan ketika perayaan Lebaran ini, sudah menjadi makanan khas yang bisa dinikmati kapan saja. Legondo Bu Suad, terbuat dari Ketan dan Pisang Kepok pilihan, gula pasir dan santan. Manis legit ketan yang bercampur dengan Pisang serta harum aroma daun pisang menyelimutinya, membuat makanan ini menjadi santapan wajib ketika agenda ngopi soremu biasa saja. Cemilan yang ramah dan bikin nagih. Ciri khas dari Legondo Bu suad ini ada pada ketiga tali yang mengikatnya, makna dari ketiga tali tersebut yaitu mengartikan tiga pilar kehidupan yang harus kita pegang. Berpegang teguh terhadap hubungan, hubungan yang dimaksud disini adalah hubungan antar Manusia – Tuhan, Manusia – Lingkungan dan Manusia – Manusia. Sebuah fundamental yang patut kita maknai dengan sadar. Kuncian dari penyimpanan makanan ini yaitu makin erat tali pengikatnya makin awet juga Legondo. Karena jika terbuka sedikit dan terkena udara sekitar, akan mudah sekali rusak atau basi. Saya menyukainya karena tidak terlalu manis namun memiliki aroma yang kuat dari daun pisang dan santan yang menjadi pengikat makan ini.
Mengakhiri perjalanan singkat menjumpai Legondo Bu Suad tadi, kami melanjutkan perjalanan menuju tempat yang nampaknya agenda Bedah Buku sedang dilaksanakan, ada Rumah baca sekaligus Penyedia Kopi dan Artisan Teh ala Melek Huruf. Tempat yang nyaman untuk kami sepakati bahwa lokasiini memiliki magnet yang kuat untuk orang-orang yang menyukai perjalanan di daerah-daerah, terbukti sedari tadi banyak orang-orang berdatangan dari berbagai kota dan daerah yang ingin mengenal Borobudur-Magelang lebih dekat. Seperti jenamanya, yaitu Melek Huruf, rasanya memiliki daya tarik tersendiri ketika melihatnya pada sore hari, tempat tersebut memancarkan cahaya kuning terang dan hangat seperti pemilik rumah baca tersebut. Terletak di Desa Candi Rejo, Borobudur, Magelang. Pasangan yang mendambakan hidup di pinggiran Borobudur itu, berhasil membuat Rumah bacanya menjadi hidup dan hangat. Terlihat sedari awal kami disambutnya dengan ramah, yaitu Mas Chris dan Mba Nina- juga si kecil Kara yang turut aktif ikut memeriahkan agenda Bincang Buku dan Diskusi yang biasa dilaksanakan di momen tertentu itu.
Sesampainya di Homestay atau penginapan, kami mencoba membuat obrolan-obrolan tanpa adanya batasan-batasan sosial. Saling mengenal di hari yang cukup melelahkan itu, membuat saya cukup kewalahan. Capek tapi senang. Malamnya, kami mengunjungi lokasi yang disinyalir menjadi salah satu makanan lokal Candi Rejo. Nasi Goreng Mbah Dono, lokasinya tak begitu jauh, hanya 5 menit perjalanan menggunakan kendaraan Hiace. Menu yang ditawarkan tak banyak, hanya Nasi Goreng, Mie Goreng, Magelangan, Nasi Godog, Mie Godog dengan kondimen spesialnya Ayam Kampung. Makanan dengan campuran Ayam Kampung sepertinya jarang sekali gagal, mau makanan yang berkuah atau goreng, semuanya membuat air liur bercucuran jika mencium aromanya. Sembari ngobrolin tentang ‘Urip’, kami memesan makanan sesuai dengan urutan. Karena memasaknya saja masih menggunakan tungku arang, makanan ini memiliki letak kenikmatan aroma khas ‘Smokey’ seperti penjual Bakmi Jawa yang sering saya temui di Kota Yogyakarta ketika malam menjelang. Cita rasa lain bisa saya temukan pada aroma bawang-bawangan yang ia tumis hingga harum, lalu ditambahkannya telur ayam sebagai bahan pengikat bumbu dan mie, kemudian ada Acar timun sebagai pelengkap, juga Kerupuk sebagai tambahan tekstur makan. Buat saya yang menyukai Mie, mungkin memilih Mie Goreng di malam itu menjadi pilihan yang patut saya nikmati dengan menyeruput minuman Jeruk Peras hangat. Kuncian lain dalam hidangan ini terdapat ‘Hint’ potongan cabe, makinlah menambah nafsu makan kami di malam itu. Sedap sekali~
Mbah Dono yang sedari tadi sibuk di tempat kerjanya, begitu lihai dan cepat. Semua menu yang dipesan juga lengkap dan tepat. Makan malam itu kami akhiri dengan perut kenyang, hati juga senang.
Hari Kedua dalam Petualangan Rasa di Magelang, kami mengawali hari dengan bersepeda menelusuri Desa Candi Rejo dan Desa Wanurejo. Aktivitas kami awali dengan mengolah rasa yang ditransformasikan dalam bentuk energi positif agar vibrasi yang kita rasakan di pagi itu sama. Tujuannya untuk tidak terburu-buru dalam menjalani hari, melambat dan mengenal lebih dekat. Dibantu oleh Mas Amir sebagai Guide kami pagi itu dan tak lupa juga Mas Rimi selaku Head of Go4tour yang berhasil berkolaborasi dan membuat program ini menjadi menarik. Pada pemberhentian pertama, kami mengunjungi sebuah Pasar tradisional Candi Rejo, pasar dengan luasan yang tak cukup besar, cukup menampung kebutuhan desa dan nampaknya terbiasa dengan kehadiran wisatawan seperti kami. Pada titik pemberhentian ini, kami mencoba merasakan Jamu Tradisional. Saya yang sedikit mengeluhkan pegal-pegal dalam tubuh saya kepada ibu penjual jamu, tentunya Jamu Pegal-linu menjadi salah satu pilihan. Pahit-asam jamu yang terbuat dari daun pepaya, kunyit, jeruk nipis, temulawak, jahe dan madu membawa kebugaran saya di pagi itu, entah karena tidur saya semalam yang kurang, atau memang Jamu ini menyegarkan tenggorokan saya dengan baik. Manis beras kencur sebagai penutupnya juga tak kalah enak. Segar sekali.
Pemberhentian selanjutnya kami menemukan sebuah titik temu warga sekitar biasa menghabiskan waktu bersama pada jam makan siang, istilahnya si, “Rolasan” atau Istirahat /Break makan siang disaat jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Sembari bertukar informasi dan juga melihat kemegahan Candi Borobudur dari kejauhan. Indah dan megah sekali. Tak lupa sesi berfoto ala keluarga cemara juga melengkapi perjalanan kami dengan dibantu oleh Mas Tiko selaku Tim Dokumentasi dari Sandal Jepit Media– yang memang sedari awal menemani perjalanan kami hingga akhir program.
Selanjutnya kami menyambangi ke rumah Bu Lilik pemilik Penginapan GarengPoeng dan juga seorang penulis buku resep makanan tradisional. Kecintaannya pada dunia kuliner sudah dikenal sejak jaman kakek-nenek saya. Tak hanya buku-buku resep yang legendaris, melainkan buku ‘DIY’, atau kerajinan tangan yang terbuat dari sisik ikan tawar. Sembari berkenalan dan ngobrol-ngobrol karyanya, beliau yang sejak tadi menyiapkan aneka Wedangan (minuman) berupa Wedang Semelak; terbuat dari pace, asam jawa, gula jawa, sereh, jahe, kunyit, cengkeh. Wedang Teh Kamboja terbuat dari kamboja, daun kayu manis. Wedang Secang terbuat dari secang, pandan, gula batu. Menjadi suguhan minuman untuk pelancar dahaga, lalu suguhan aneka jajanan pasar/ kue basah manis berupa Kue Talam Ubi, Kue Petulo siram Gula aren, lalu aneka Kue asin Getuk bakar isi Abon dan juga Gandos Keju Gluten free. Sembari menikmati sajian, beliau menceritakan bagaimana proses-proses pengolahan bahan makanan yang terjadi saat ini mengalami perubahan. Seperti pada bumbu-bumbu yang ada di pasaran jarang bisa ia temukan kembali, mengingat bahwa nenek moyang dahulu, mereka menggunakan banyak sekali rempah dan bumbu-bumbu yang unik. Dengan keresahannya tersebut, beliau mau dan mampu membudidayakan aneka rempah dan bumbu dapur untuk keperluannya dalam memasak di dapur pribadi maupun Rumah GarengPoeng. Kebun yang ia impikan itu, nyatanya tumbuh dan berkembang dengan baik, dirawatnya dengan baik, diprosesnya, lalu disajikannya dalam bentuk makanan dan minuman dengan baik pula.
Lalu perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi tempat magis sekaligus menjadi lokasi makan siang kami, sebuah tempat bertemunya Sungai Elo dan Progo, melihatnya saja membuat saya dan teman-teman lain menjadi bengong, melamun, dan banyak-banyak menghela nafas. Seperti cerita yang disampaikan oleh guide itu, bahwa pertemuan kedua sungai besar ini berasal dari Gunung yang mengitari Borobudur. Sungai Elo yang berasal dari Gunung Merapi – Gunung Merbabu, dan Sungai Progo yang berasal dari Gunung Sindoro – Gunung Sumbing, tempat kelahiran saya berada. Sungguh perjalanan aneh buat saya, karena Petulangan Rasa yang didapatkan tak hanya sesi icip-icip saja, melainkan mengantarkan saya ke tempat yang menurut saya Sakral. Sesi makan siang kami santap bersama si pemilik Eloprogo Art House. Menjelajahi rumah seni ini tak membuat kami lantas capek, tempatnya yang luas, membuat kami ingin sekali menjelajahi lokasi ini lebih dalam, terlebih si pemilik; Pak Soni yang sedari tadi sibuk dengan kerja-kerja seni-nya. Menyambut kehadiran kami dengan cukup ramah dan bercerita tentang ‘kehidupan’ yang akhir-akhir ini sedang kami lalui. Pas sekali rasanya, makan siang ayam goreng lengkuas, sayur lodeh, sambal kecombrang, dan nasi liwet yang semerbak. Makanan enak, tempat yang nyaman, hospitality yang baik, membuat sajian makan siang kala itu sangat ‘Pas’ dan melegakan, karena diakhiri dengan minum Es Jeruk peras manis. Hari semakin siang dan waktu juga menunjukkan bahwa saatnya kami kembali ke lokasi yang sempat disiapkan oleh Melek Huruf yaitu sesi Icip-icip Kopi khas Magelang. Diawali dengan Mas Arif pelaku industri Kopi dan juga pendiri Call Me Coffee Roaster, sekaligus mengakhiri agenda perjalanan kami pada siang menuju sore itu. Baginya, Industri kopi dalam dua tahun terakhir di Magelang ini, cukup berkembang dan mulai menampakkan keberaniannya dengan bersaing sehat. Dengan harapan, kopi-kopi yang sudah berhasil di produksi di tanah kelahirannya itu, dapat diproses dan dikembangkan oleh teman-teman lokal. Karena pada perjalanannya dan yang terjadi dilapangan hampir 60% hasil kopi yang ditanam akan diperjualbelikan dalam bentuk “Raw Material”. “Sayang sekali rasanya kalo kita gak mencoba olah dan memprosesnya, bisa-bisa kita cuma jadi petani biasa”. Tuturnya~
Sajian kopi yang kami dapatkan saat itu, memiliki aroma khas seperti buah Nangka. Aroma manis dan sedikit gurih saya temukan ketika mencicipinya lebih dalam, tak hanya rasa asam yang ada di permukaannya, melainkan aroma khas yang dihasilkan dari ‘Honey Process’ membuat sajian sore ini jadi makin nikmat.
Sore berakhir dengan penuh informasi, penuh rasa dan penuh pengalaman, lalu segera kami melanjutkan sesi mandi sore dan beristirahat, karena segera jamuan makan malam akan siap, apalagi jamuannya makanan khas dari daerah tersebut, yaitu: Ikan Beong. Makan malam yang menurut kami menarik, karena setiap perjalanan kami selalu mendengarkan dari warga maupun guide yang ingin sekali mendekatkan kami kepada Ikan Endemik Sungai Elo dan Progo itu. Menurutnya; Ikan Beong tersebut ada pada Relief Borobudur Ikon kota ini. Saya yang makin penasaran, membuat bersemangat ingin segera mencicipi Ikan tersebut. Tampilan masakan ini berwarna putih santan, sedikit keruh karena hasil gabungan bumbu rempah yang ditumis sebelumnya. Tekstur Ikan Beong sedikit lembut namun kita bisa merasakan sensasi tiap gigitan dan dikunyah dengan nasi hangat yang terkena kuah santan hangat. Tekstur yang hampir mirip dengan Ikan lele ketika dimasak Mangut. Saya tak menemukan aroma khas tanah seperti pada ikan-ikan tawar lainnya. Entah karena tipikal Ikannya atau memang cara pengolahannya yang baik. Tentu makanan tersebut menjadi penutup makan malam kami dengan perut aman dan nyaman.
Hari selanjutnya kami mempersiapkan Lokakarya Menulis Kuliner, akan dipandu oleh Mba Ade Putri Paramadita selaku Penulis Kuliner dan juga kecintaannya dalam menjelajahi ragam kuliner Indonesia. Agenda ini sekaligus menjadi penutup yang baik, dalam tajuk “Petualangan Rasa di Magelang”. beliau mengajak kami untuk menuliskan buah pikir yang sudah kami temui dan sambangi dalam perjalanan rasa tiga hari dua malam itu. Baginya eksplorasi rasa tak hanya cita rasa yang dihasilkan saja, melainkan aroma, tekstur dan tampilan juga dapat mempengaruhi nilai yang terkandung dalam sebuah makanan. Mengenal makanan juga bisa kita dapatkan melalui sejarah/ tradisi budayanya, bahan/ proses pengolahannya, sampai posisi atau peran sebuah makanan di masyarakat sekitar.
Buat saya pribadi, bicara tentang petualangan rasa tidak hanya berhenti sampai di indra pengecap saja. Melainkan sebuah rasa yang menyimpan doa-doa baik, yang biasa disematkan oleh si pemasak. Entah masakan mewah pada hotel berbintang, masakan tradisional, atau bahkan masakan rumahan. Saya mengamini tiap-tiap masakan yang disajikan. Karena mereka terbuat dari doa dan “Tangan-tangan Give”. Buat saya, letak kenikmatan yang utuh adalah ketika kita mendoakan makanan dengan khidmat. Mensyukuri tiap suapannya, mengunyahnya dengan dalam, dan menelannya dengan rasa yang utuh. Mungkin itu cukup- (Apalagi dinikmatinya dengan mendoakan yang baik-baik.) Saya yakin makanan itu dapat menutrisi tubuh kita dengan baik pula. Seperti yang sudah diobrolkan dengan Mba Ade, bahwa kita dilarang untuk mencela makanan. Saya menyepakatinya.🫶🏻
Saya juga menyukai momen kebersamaan, apalagi ketika makan bersama, mau dengan keluarga, teman, pasangan, semuanya jadi terasa enak jika dimakan secara bersama-sama. Seperti pada momen upacara adat atau kenduri. Agenda makan sudah menjadi hal yang penting untuk tidak dilewatkan. Sajian-sajian yang diberikan pada perjalanan ini, saya berikan khusus untuk Almarhumah Ibu saya, yang sudah setahun ini saya rindukan apalagi masakannya, Sop Kacang Merah ala rumahan. Jika benar Ibu saya menyukai makanan yang berkuah seperti Soto dan Sop, mungkin saya akan merekomendasikan Sop Empal Bu Haryoko, saya akan menceritakannya melalui doa-doa saya. Pasti Ibu saya menyetujuinya, bahwa Sop Empal Bu Haryoko adalah tipe ‘Comfort food’ yang bisa dinikmati kapanpun dan dalam suasana apapun. Semoga doa-doa itu melambung sampai ke langit. Terima kasih. Ohm Swastiastu. ✨
Sinlu Aji-
—————
Tulisan ini merupakan karya Sinlu Aji Apdilah, salah satu peserta lokakarya “Menulis Kuliner” yang merupakan bagian dari rangkaian Pekan Buku Magelang di Melek Huruf pada hari Minggu, 11 Agustus 2024.