Tua.

Beberapa pekan lalu, aku berkelana memandu 12 tamu dari Amerika Serikat. Selama sepuluh hari, kami menjelajah beberapa daerah untuk, ya apa lagi kalau bukan untuk, makan makan. Haha. Dibuka dengan welcome dinner di Jakarta, keesokan paginya kami langsung terbang ke Medan. Disusul ke Buleleng, lantas Tomohon. Dari Sumatra Utara, ke Bali Utara, dan ditutup dengan Sulawesi Utara. Dari kedua belas peserta, hanya satu yang usianya terpaut dua tahun di atasku: 48 tahun. Sisanya, rentang usianya dari 65 hingga 85 tahun. Joan Peterson, penyelenggara Eat Smart World Travel ini, adalah salah satu yang berusia 85 tahun tersebut.

Ini foto mereka. Ku tambahkan tulisan nama-nama, demi contekan kalau mendadak lupa nama. 

Di Medan, setelah marathon makan, kami singgah di Tjong A Fie Mansion—sebuah rumah antik peninggalan salah satu orang yang paling berpengaruh di kota itu pada masanya. Seorang pemandu perempuan mulai bercerita dalam bahasa Inggris ke seluruh tamuku. Ia juga menjelaskan bahwa salah satu cucu Tjong A Fie masih tinggal di sana.

Salah satu peserta mulai bertanya, “Oh, how old is she now?”

She is old. She’s, uhm, maybe… 64 or 65 years old.

Pecahlah suara tawa para tamuku. Si gadis pemandu menunjukkan gerak gerik kikuk. Jadi ku jelaskan padanya, “Mereka ini, ada beberapa yang usianya sudah 85 tahun.” Si gadis pemandu tersipu malu. “Ohhh, I’m sorry. I didn’t mean to.” Tentu saja, mereka tidak tersinggung. Hanya tertawa karena usia yang dikatakan tua itu bagi mereka belum termasuk golongan tua.

TUA.

Jadi, apa itu tua?

Aku sampai gugel, mencari tahu definisi kata tua menurut KBBI.

Sudah lama hidup, lanjut usia. 

Kurang lebih begitulah penjelasannya.

Aku lantas mulai mengingat rentang usia yang umum dianggap tua di Indonesia. Hmm… benar juga. 65 biasanya sudah dibilang tua. Tapi kenapa ya?

“Itu Tante Ndari umur 82 tahun, masih suka berpetualang ke luar negeri. Sambil motret. Bawa peralatan (foto) semuanya sendiri. Padahal kan berat.”

“Oom William masih aktif traveling ya. Padahal usianya sudah berapa tuh? 77? 78?”

“Bokap lo beneran umur 75 dan masih nge-band?”

Ku ingat-ingat lagi. Rasanya, mereka yang masih melakukan hal-hal fisik, terutama melakukan hal yang mereka senangi, tampak lebih muda. Setidaknya, mereka terlihat senang dan menikmati hidup. 

Salah satu atlet yang ku kenal dari sebuah kompetisi, usianya waktu itu 65 tahun. Masih mengangkat beban, dan endurance-nya pun baik. “You must have started this when you were young,” tuduhku waktu itu—melihat betapa fit dirinya. “No. I actually started to go to the gym when I was 40. But then I committed to it—to have a better lifestyle.” Ia sekarang berusia nyaris 70 tahun. Bersama adiknya, Liz, Elana membuat akun di media sosial dengan nama @ggs_sistas

Tulisan ini tetap tidak mampu menjabarkan rentang angka yang bisa dianggap tua. Seperti kata mereka, “Age is just a number.” Usia hanyalah sebatas angka. Yang penting, bagaimana kita mau menjalaninya. Peduli setan, dianggap tua atau nggak. Semoga bisa jadi titik untuk merefleksikan, “Mau tua dengan cara seperti apa?”

“Kasih Sayang dalam Semangkuk Sup” oleh Nina Hidayat

Di Gemati Soup and Brew, pengunjung diajak makan sup kaldu hangat di tempat yang terasa seperti rumah sahabat.

Kalau kamu berencana berkunjung ke Magelang dan mengetik “kuliner Magelang” di mesin pencari, menu makanan yang akan muncul termasuk sop senerek. Layaknya sup bening, kuah dalam hidangan ini dibuat dari kaldu daging ataupun ayam. Isiannya daging, potongan wortel, bayam rebus, dan bintang dari hidangan ini: kacang merah.

Di Gemati Soup and Brew, sup kaldu tampil beda. Ia dibuat dari rebusan ayam dan konsistensinya pekat, alih-alih ringan dan bening. Saat disendok, ada potongan ayam, wortel, brokoli, juga makaroni spiral. Rasanya cenderung gurih, tapi lirih. Berbeda dari citarasa kuliner tradisional Magelang yang berani bumbu alias medok dengan rasa dominan manis. Menemani sup, ada nasi dari beras pecah kulit – beras yang masih berkulit ari, sehingga berwarna coklat dan lebih bertekstur dibanding saudaranya yang putih. Tidak lupa, sepasang tempe garit dan sepiring telur kriwil (atau disebut telur barendo dalam kuliner Padang) yang gurih dan renyah, mengimbangi rasa sup yang halus.

Saat lidah mencecap kombinasi kuah sup dan kriuk telur, nasi yang berserat ditemani potongan tempe yang padat, telinga dihibur lagu-lagu easy jazz dari perangkat suara di area makan kedai. Sungguh romantis!

Cita rasa sup dan pilihan musik di Gemati diracik oleh Arief Yulindra, pemilik kedai sekaligus satu-satunya tukang masak di sini. Lebih dikenal sebagai Toyib, ia bersuara lembut dan matanya berbinar saat bercerita tentang masakannya. “Semoga suka ya, mbak, nasinya. Cukup lama juga aku cari-cari beras pecah kulit ini dari beberapa petani sekitar sini, untuk nemenin sup,” katanya. 

Sajian lain di Gemati Soup and Brew adalah sate goreng. Bayangkan potongan dada ayam dengan bumbu kecap dan cabai rawit yang ditumis, tidak dibakar seperti sate pada umumnya. Kecap Kalkun yang terasa lebih ringan dibanding kecap botolan yang biasa kita temui di supermarket membalut potongan ayam.

Sup dan sate goreng adalah dua menu utama di Gemati setelah dibuka kembali di akhir Juni 2024. Ia sempat hiatus di masa pandemi. Saat dibuka kembali, menu sup andalannya dipertahankan, namun hadir dengan cita rasa yang lebih matang. Terutama kaldu dalam supnya yang kini terasa lebih tebal. Sate goreng adalah menu baru di kedai. Yang juga berubah adalah opsi minumannya. Jika sebelumnya aneka teh jadi andalan, kini ada bar kecil yang disiapkan untuk menyeduh kopi.

Setiap pagi, Mas Toyib berangkat naik motor ke pasar untuk belanja bahan segar. Lepas jam 12 siang, ia mulai memasak untuk mempersiapkan pembukaan warung setiap jam 15.00. Sejak dibuka kembali, Gemati memutuskan fokus melayani pengunjung di jam kopi sore dan makan malam. Meski begitu, kotak lampu di depan kedai bertuliskan “Lunch Break. Dinner Date”. Mungkin lebih pas disebut Coffee Break.

Tapi Gemati memang nyaman untuk dijadikan tempat rehat atau lokasi kencan. Kedai ini berada di pekarangan belakang rumah pemiliknya, dan bersinggungan dengan studio sablon yang ia kelola. Dapur dan sebagian besar tempat duduk diposisikan di area berlantai semen yang semi-terbuka. Ada meja makan, juga set sofa yang cocok untuk ngopi. Meja dan kursinya bergaya jengki, sebagian lagi furnitur antik yang diperbarui. Dari tempat duduk, tamu bisa melihat Mas Toyib memasak di dapur yang terbuka seperti di restoran Cina atau bakmi Jawa dengan kuali dan api yang menyala-nyala. Juga mengamati Mas Fikri menyeduh kopi di bar dekat perangkat suaraa yang waktu itu sedang memutar What a Wonderful World versi Soap & Skin. Melihat proses memasak dan menyeduh kopi adalah bagian dari pengalaman makan di Gemati.

Beberapa meja ditata di area taman, yang diisi helai-helai daun keladi raksasa dan bersebelahan dengan area bonsai. Bayangkan menikmati sore ditemani sepiring sup, nasi coklat, tempe garit, dan telur kriwil. Seusai makan, menyeruput es kopi susu Karib sambil mengobrol ditemani musik. Mampirlah jika kamu ingin merasakan pengalaman makan yang berbeda di Magelang – pengalaman makan yang rasanya seperti numpang makan di rumah teman baik.

Alamat: Dusun Mantenan RT 5 RW 1, Mertoyudan, Magelang

Jam buka: Senin – Minggu, 15.00-22.00

Bujet: Rp50.000-75.000 untuk 2 orang

—————

Tulisan ini merupakan karya Nina Hidayat, salah satu peserta lokakarya “Menulis Kuliner” yang merupakan bagian dari rangkaian Pekan Buku Magelang di Melek Huruf pada hari Minggu, 11 Agustus 2024.

Nina sendiri merupakan pemilik rumah baca di Magelang tersebut. Jika membaca media sosial Melek Huruf, Nina-lah yang dimaksud dengan Pustakawan 02. Tulisan Nina amat apik. Strukturnya baik, cara bertuturnya pun enak.

“Lokakarya Menulis Kuliner” – oleh Sinlu Aji Apdilah

Setidaknya ada tiga hal yang berkesan ketika saya mengunjungi Magelang: Borobudur, Getuk Trio, dan Kota yang tua. Saya menyukai tiap sudut kota ini, seperti sedang menjumpai ke rumah saudara, ramah, akrab dan juga hangat. Cukup bersih dan nyaman. Begitu juga tempat yang saya kunjungi yaitu Desa Candirejo.  Semoga tulisan ini tidak dianggap glorifikasi karena saya hanya ‘cosplay’ menjadi turis tiga hari dua malam. Desa ini sungguh enak untuk ditinggali dalam waktu singkat atau mungkin dalam jangka yang panjang, terbukti ketika saya mencoba masuk lebih dalam dan bersosial dengan warganya, benar-benar nyaman. Entah karena kita punya ciri khas adat jawa, atau memang orang-orangnya yang terbuat dari keramahtamahan. Desa ini terletak di tenggara Candi Borobudur, tidak jauh dan cukup mudah untuk bisa diakses dengan kendaraan pribadi. Namun, jangan harap ada kendaraan umum seperti bus atau angkutan desa, apalagi transportasi online seperti ojek online, Ya akan penuh effort sepertinya. Karena letaknya yang cukup tersembunyi, desa ini menjadi salah satu desa wisata yang menawarkan wisata minat khusus seperti bersepeda, menaiki dokar, Offroad dengan mobil Jeep atau VW, dan juga sajian kuliner seperti masakan Ikan Beong yang ‘katanya’ Ikan endemik ini hanya ada di Sungai Progo. Setelah berselancar di dunia maya dan melihat beberapa artikel yang sudah ditawarkan tersebut, saya jadi penasaran. Apa benar desa ini menawarkan hal-hal yang sesuai dengan artikel-artikel itu?  saya yang tak puas mengelilingi Candi Rejo ini, mencoba melihatnya dari kejauhan. Ternyata benar, keindahan yang ditawarkan akan nampak ketika kita melihatnya tak hanya dari dalamnya saja, melainkan letak dan posisinya yang cukup unik karena hutan dan batuan menghiasi pegunungan Menoreh di sebelah selatan desa ini. Apalagi ketika gugusan lanskapnya terkena cahaya mentari sore. Indah dan romantis sekali. Sungguh fenomena yang apik.

Mungkin saya tak banyak melakukan perjalanan, namun perjalanan yang saya rasakan di tempat ini, agaknya aneh buat saya. Sepertinya mendapatkan sebuah ‘Giveaway’ adalah hal yang patut saya syukuri di bulan Agustus ini, karena melihat proyek kolaborasi yang unik itu, membuat saya ingin sekali menjelajah apa yang sudah saya dapatkan. yaitu: “Petualangan Rasa di Magelang”. seperti pada tajuknya: berpetualang dengan rasa. Nampaknya ini menjadi sebuah perjalanan yang melibatkan indra pengecap. Tapi, ternyata rasa yang ditawarkan dalam perjalanan ini tak hanya melibatkan indra pengecap saja, namun rasa berupa pengalaman dalam tiga hari dua malam. Membuat saya yang terbiasa dengan industri ‘hospitality’ ini cukup mendapatkan pengalaman yang membekas di ingatan. Tepat pada tulisan saya sebelumnya, bahwa pengalaman yang saya dapatkan di kota Magelang dan Muntilan sungguhlah minim. Hanya saja memori yang bisa saya tangkap, ya hanya Borobudur, Getuk Trio dan juga Kota tua. terlepas dari tiga hal tersebut, kota ini menyimpan berbagai memori dan fragmen-fragmen yang magis. Melihat sekilas saja, membuat saya berpikir kejauhan. sampai pada pertanyaan: “Ada apa ya di kota ini?”, tentu bukan hiburan yang sifatnya ‘Urban’, melainkan bagaimana kota ini bisa terbentuk. Entahlah, mungkin orang-orang ‘Unik’ jaman dulu memiliki alasan, kenapa mereka bisa dan mau meletakkan batu-batuan dengan luas mungkin empat belas lapangan sepak  bola di pinggiran kotanya; yang adalah Borobudur. Batuan bersusun dengan apik itu tentu bukan diletakkan tanpa alasan, apalagi kita bisa melihat pegunungan yang ada di sekelilingnya- juga nampak tak kalah menarik. Ada Gunung Merapi-Merbabu di sebelah Timur, Gunung Sindoro-Sumbing di sebelah Utara, pegunungan Menoreh ada di sebelah Selatan, serta terletak di antara sungai Elo dan Progo. Sungguh letak yang unik. 

Saya yang tak mengerti banyak dan ‘Waton Mangat’ ini, bersiap mengikuti Petualangan Rasa yang akan di Hosting oleh Ade Putri Paramadita seorang Culinary Story Teller, selaku kolaborator dan juga pemeran utama dalam perjalanan ini, tak lupa juga kolaborator lain yang tak kalah menarik yaitu: Pelangi Benua pemilik program perjalanan, ada Go4Tour yang senantiasa menemani perjalanan kami dengan menawarkan pengalaman bersepeda dalam tajuknya; #TurkeDesa. juga Rumah baca Melek Huruf yang sekaligus melengkapi tur ini menjadi lebih hidup. 🌱

Mengenal Rasa dalam Bentuk Lain

Saya suka melihat manusia menjadi dirinya sendiri ketika makan, tak ada yang ditutupi. Semua nampak jujur dan tubuh pun ikut menerima sinyal disaat suap demi suap makanan ikut tertelan. Bercucuran keringat karena rasa pedasnya atau karena memang tempatnya yang hanya menyediakan satu kipas angin saja. Padahal cuaca saat itu sedang panas-panasnya. Tak apa, itu bagian dari atraksi makan kita pada siang itu. Makanan tak hanya membuat selera kita menjadi muncul, namun hasrat dan jiwa untuk menghabiskan nya juga ikut mengalir. Siang itu, kami memasuki warung makan Sop Empal Bu Haryoko, saya yang berusaha adaptasi dengan cuacanya, seperti ingin mengucurkan air es di tenggorokan. Tentu saya penikmat Es Teh yang kental tanpa gula. terlebih jika ada Es Teh Kental dan sedikit ‘sepat’, pastilah saya akan memesan dua gelas. Bicara mengenai makanan, rasanya kurang pas jika kita makan hanya seorang diri, ya mesti itu tidak disalahkan juga, namun budaya makan bersama atau secara komunal adalah tradisi yang sudah ada sejak nenek moyang kita hadir di negara kepulauan ini. Baik tradisi, pesta, atau perayaan-perayaan yang bisa dinikmati bersama, kata orang-orang ‘Makannya jadi lebih nikmat’. Saya setuju dan membenarkan lelaku tersebut, karena dengan makanan, kita akan menemukan hal-hal yang berkaitan dengan kedekatan. Baik secara kedekatan sosial, maupun keterikatan batiniyah. Melalui makanan juga, kita dapat menemukan fragmen-fragmen memori. Seperti pada masakan Bu Haryoko. Saya jadi teringat Almarhumah ibu saya, apapun masakannya, selama itu masakan rumahan, itu cukup buat saya yang tak banyak rewel soal makanan. Pastinya masakan yang dibuat oleh cinta akan sampai kepada orang yang menikmatinya. Seperti sebuah pesan magis yang diselipkan dalam makanan. Pasti akan ‘pas’ kepada orang yang menerimanya. Empal dengan rasa yang tak terlalu manis diawal tapi juga memiliki rasa gurih setelah dua gigitan pertama. Teksturnya empuk, memudahkan penikmatnya untuk tak berhenti mengunyah dalam tiap suapan, terbukti pelanggan-pelanggan yang berdatangan sedari tadi kebanyakan orang-orang paruh baya, keluarga dan anak-anak generasi milenial juga masih berseliweran, pastilah memudahkannya menyantap di setiap gigitannya. Comforting sekali. Saya yang sedari tadi melihat-lihat dekorasi ruangannya, tampaknya cukup terbius dengan pajangan kalender berjejer pada tiap sudut dinding Warung Sop itu. Sebuah tanda bahwa warung-warung dengan gaya lawasan dan banyak kalender adalah indikasi yang cukup legit untuk dicoba makanannya. Dan benar, makanan dengan sajian Empal tersebut memiliki aroma cukup kuat dan hangat segar dalam kuahnya. Terdapat bihun, potongan kubis yang agak lebar, aroma bawang dan bumbu-bumbu rahasianya yang dapat melegakan tenggorokan. Menikmatinya pun kami memiliki gaya masing-masing, ada yang ditambahkan nasi ke dalam sop, ada yang dicampurkan dengan empal kedalam kuah, ada yang menikmati dengan cara dipisah antara sop dan empal, semua menikmatinya, semua memaknainya dengan khidmat. Kondimen lain yang bisa dinikmati, ada sambal dengan warna hijau pekat memiliki rasa asin gurih–tipe sambal hijau yang pekat, lalu pilihan Paru ikut hadir selain Empal yang ditawarkan di warung berdinding hijau itu. Kenikmatan lain juga dihadirkan dari minuman andalannya, yaitu; Es tape ketan hijau. Manis kecut yang dihasilkan menambah cita rasa pas untuk melengkapi makan siang saya dan teman-teman dikala itu. Buat para pecinta Tape Ketan, mungkin minuman ini akan cocok. Rasa asam berjumpa dengan Es batu dan tambahan sedikit gula, membuat dahaga kembali segar. Hal unik lainnya, warung ini tak memiliki sekat-sekat seperti pada resto-resto yang menyediakan ruangan private, semuanya bersamaan, berbagi meja, berbagi pengalaman dan tentu berbagi cerita. Perjalanan siang itu kami lanjutkan dengan menelusuri Jalan Pemuda, Kecamatan Muntilan. dan mengunjungi Toko Oleh-oleh yang sudah ada sejak 1912, toko dengan arsitektur khas pecinan itu cukup mudah untuk dijangkau, karena letaknya yang strategis lokasi ini banyak dikunjungi oleh pengunjung lokal maupun wisatawan. Terlebih toko ini tidak hanya menjajakan hasil produksinya sendiri, melainkan separuh lebih dari produknya dibuat oleh para pelaku usaha yang ada disekitar toko. Mungkin itu cara Ny. Pang hadir dan mendekatkan diri terhadap kultur jawa yang ada disana. Toko oleh-oleh yang keberadaannya sudah lebih dari satu abad itu, dikelola dengan serius hingga generasi keenam, terbukti toko ini masih eksis di tiap-tiap kalangan. Apalagi semenjak kemunculan jenama Ny. Pang hadir di film dan novel Gadis Kretek karya Ratih Kumala. Dia menyematkan suasana jalan Kota Muntilan dan “Wajik: Ny.  Pang”. Immanuel Jeffrey Leevianto adalah penerus generasi keenam setelah dirinya menyelesaikan studi Tata boga, antusiasnya dalam mengembangkan bisnis keluarga ini, kini masih berjalan dengan konsep ‘Titip jual’ dan masih diburu oleh beberapa pelanggan setia Ny. Pang. Bermula dari banyaknya pesanan Dodol hingga Wajik yang dijajakan oleh Ny. Pang jaman dulu, karena seringnya perayaan hajatan pernikahan, kelahiran anak, sampai upacara kematian memang biasa menyuguhkan sajian Jenang Dodol sebagai persembahan. Kemunculannya dalam menjajakan produk Jenang dan jajanan legendaris lainnya, ia bawa  dengan Tenong Bambu dan berkeliling kota Muntilan. Ketika mengunjungi toko ini, kesan pertama yang saya tangkap sama seperti Warung Sop Empal milik Bu Haryoko tadi, nuansa lawasan bercampur eksterior minimalis ala jaman sekarang. Suguhan Jajanan legendaris juga sangat beragam, mulai dari olahan Tepung Ketan, Umbi-umbian, Jajanan Manis, Asin dan Gurih semua serba ada, buat para pecinta keripik dan olahan Tape ketan juga tersedia. Semakin kita memasuki toko ini, pajangan Foto antar generasi penerus hingga Tenong Bambu nampak menghiasi interior toko, bahkan aneka Cetakan kue tradisional yang digunakannya sedari nyonya pang hadir, juga dipajangnya agar menambah kesan antik. Hal lain yang menjadi daya tarik dari toko ini, kita bisa melihat proses pembuatan Jenang dodol, Wajik dan aneka kue lainnya, seperti Kue Moho dan Kue Miku. Kue Miku yang sekilas mirip dengan Bakpao ini ternyata memiliki perbedaan cukup jauh. Selain memang karena bahannya,  Kue Miku ini memiliki tekstur padat, ada sensasi lengket di mulut ketika dimakan karena proses pegembangannya alami menggunakan Biang dan Tape Singkong, sedangkan Bakpao memiliki tekstur yang soft dan kenyal atau membal, karena penggunaan ragi dan pengembang dalam proses pembuatannya.  Pada umumnya, Kue Miku memiliki isian Kumbu kacang hijau, sementara Bakpao lebih bervariasi seperti Coklat,  Kacang merah, Ayam, Keju dan lain sebagainya. Jajanan yang tak kalah menarik lainnya juga ada pada Wajik dan Krasikan. Krasikan dengan tekstur sedikit berpasir ketika digigit, serta memiliki cita rasa yang khas seperti aroma Wijen sangrai, tapi faktanya Krasikan yang kami cicipi itu tidak menggunakan Wijen sama sekali, melainkan teknik pembuatannya yang sudah turun temurun dilestarikan oleh toko ini. Lain halnya dengan Wajik yang memang sudah menjadi salah satu primadona Ny. Pang. Aroma gula aren atau gula jawa yang khas, membuat cita rasa Wajik menghasilkan visual yang mengkilap dan legit, tentu hal itu juga melalui proses panjang dan teknik-teknik memasak yang dimiliki Ny. Pang. Sajian lain kami dapatkan ketika Koh Jeffrey si pemilik menyajikan makanan yang menjadi primadona lain, ada Buntil dibungkus dengan daun pisang. Sebuah makanan pendamping atau sajian sayur yang bisa dinikmati dengan makanan utama, atau dinikmati tanpa harus ditambahkan dengan makanan lain. Terbuat dari daun talas, kelapa parut, santan dan bumbu-bumbu rempah, Buntil hadir disaat makan siang kami sedang di puncak-puncaknya. Mencobanya lalu merasakan suap demi suapan dengan teliti. Rasa kuah santan yang light. Tekstur lembut dan mudah hancur setelah kunyahan ketiga, saat itu saya jadi membayangkan ada nasi hangat di sampingnya ditambah kerupuk dan sambal Empal Bu Haryoko tadi. Duh~

Setelah bereksplorasi rasa di Jalan Pemuda, kami melanjutkan menelusuri sebuah gang-gang kecil di sekitar Toko oleh-oleh tersebut, sembari ngemilin Kue Moho, saya yang tak henti melihat Komplek Pecinan ini, mencoba mencairkan suasana dengan peserta lainnya. Sembari memakan pisang yang sejak tadi saya beli dari Mbah-mbah penjual buah di depan Toko Ny. Pang. Pemberhentian lain setelah menelusuri gang-gang kecil tadi, kami menemukan sebuah Pasar Muntilan, tak banyak aktivitas yang bisa kami lakukan disana, melainkan sebuah perkenalan lain atau sebuah cara bagaimana kita bisa mengenal masyarakat lokal dengan apa yang biasa mereka konsumsi di setiap harinya. Tak banyak perbedaan dari pasar-pasar tradisional yang pernah saya temui. Hanya saja pasar ini memiliki komplek yang cukup luas untuk menampung bahan makanan beberapa kecamatan dan kota Muntilan.

Setelah menelusuri Pasar Muntilan, kami melanjutkan perjalanan menuju lokasi jajanan nyentrik yang dibalut daun pisang dan dililit oleh tali tiga bambu. Makanan yang hanya disajikan ketika perayaan Lebaran ini, sudah menjadi makanan khas yang bisa dinikmati kapan saja. Legondo Bu Suad, terbuat dari Ketan dan Pisang Kepok pilihan, gula pasir dan santan. Manis legit ketan yang bercampur dengan Pisang serta harum aroma daun pisang menyelimutinya, membuat makanan ini menjadi santapan wajib ketika agenda ngopi soremu biasa saja. Cemilan yang ramah dan bikin nagih. Ciri khas dari Legondo Bu suad ini ada pada ketiga tali yang mengikatnya, makna dari ketiga tali tersebut yaitu mengartikan tiga pilar kehidupan yang harus kita pegang. Berpegang teguh terhadap hubungan, hubungan yang dimaksud disini adalah hubungan antar Manusia – Tuhan, Manusia – Lingkungan dan Manusia – Manusia. Sebuah fundamental yang patut kita maknai dengan sadar. Kuncian dari penyimpanan makanan ini yaitu makin erat tali pengikatnya makin awet juga Legondo. Karena jika terbuka sedikit dan terkena udara sekitar, akan mudah sekali rusak atau basi. Saya menyukainya karena tidak terlalu manis namun memiliki aroma yang kuat dari daun pisang dan santan yang menjadi pengikat makan ini.

Mengakhiri perjalanan singkat menjumpai Legondo Bu Suad tadi, kami melanjutkan perjalanan menuju tempat yang nampaknya agenda Bedah Buku sedang dilaksanakan, ada Rumah baca sekaligus Penyedia Kopi dan Artisan Teh ala Melek Huruf. Tempat yang nyaman untuk kami sepakati bahwa lokasiini memiliki magnet yang kuat untuk orang-orang yang menyukai perjalanan di daerah-daerah, terbukti sedari tadi banyak orang-orang berdatangan dari berbagai kota dan daerah yang ingin mengenal Borobudur-Magelang lebih dekat. Seperti jenamanya, yaitu Melek Huruf, rasanya memiliki daya tarik tersendiri ketika melihatnya pada sore hari, tempat tersebut memancarkan cahaya kuning terang dan hangat seperti pemilik rumah baca tersebut. Terletak di Desa Candi Rejo, Borobudur, Magelang. Pasangan yang mendambakan hidup di pinggiran Borobudur itu, berhasil membuat Rumah bacanya menjadi hidup dan hangat. Terlihat sedari awal kami disambutnya dengan ramah, yaitu Mas Chris dan Mba Nina- juga si kecil Kara yang turut aktif ikut memeriahkan agenda Bincang Buku dan Diskusi yang biasa dilaksanakan di momen tertentu itu.

Sesampainya di Homestay atau penginapan, kami mencoba membuat obrolan-obrolan tanpa adanya batasan-batasan sosial. Saling mengenal di hari yang cukup melelahkan itu, membuat saya cukup kewalahan. Capek tapi senang. Malamnya, kami mengunjungi lokasi yang disinyalir menjadi salah satu makanan lokal Candi Rejo. Nasi Goreng Mbah Dono, lokasinya tak begitu jauh, hanya 5 menit perjalanan menggunakan kendaraan Hiace. Menu yang ditawarkan tak banyak, hanya Nasi Goreng, Mie Goreng, Magelangan, Nasi Godog, Mie Godog dengan kondimen spesialnya Ayam Kampung. Makanan dengan campuran Ayam Kampung sepertinya jarang sekali gagal, mau makanan yang berkuah atau goreng, semuanya membuat air liur bercucuran jika mencium aromanya. Sembari ngobrolin tentang ‘Urip’, kami memesan makanan sesuai dengan urutan. Karena memasaknya saja masih menggunakan tungku arang, makanan ini memiliki letak kenikmatan aroma khas ‘Smokey’ seperti penjual Bakmi Jawa yang sering saya temui di Kota Yogyakarta ketika malam menjelang. Cita rasa lain bisa saya temukan pada aroma bawang-bawangan yang ia tumis hingga harum, lalu ditambahkannya telur ayam sebagai bahan pengikat bumbu dan mie, kemudian ada Acar timun sebagai pelengkap, juga Kerupuk sebagai tambahan tekstur makan. Buat saya yang menyukai Mie, mungkin memilih Mie Goreng di malam itu menjadi pilihan yang patut saya nikmati dengan menyeruput minuman Jeruk Peras hangat. Kuncian lain dalam hidangan ini terdapat ‘Hint’ potongan cabe, makinlah menambah nafsu makan kami di malam itu. Sedap sekali~

Mbah Dono yang sedari tadi sibuk di tempat kerjanya, begitu lihai dan cepat. Semua menu yang dipesan juga lengkap dan tepat. Makan malam itu kami akhiri dengan perut kenyang, hati juga senang.

Hari Kedua dalam Petualangan Rasa di Magelang, kami mengawali hari dengan bersepeda menelusuri Desa Candi Rejo dan Desa Wanurejo. Aktivitas kami awali dengan mengolah rasa yang ditransformasikan dalam bentuk energi positif agar vibrasi yang kita rasakan di pagi itu sama. Tujuannya untuk tidak terburu-buru dalam menjalani hari, melambat dan mengenal lebih dekat. Dibantu oleh Mas Amir sebagai Guide kami pagi itu dan tak lupa juga Mas Rimi selaku Head of Go4tour yang berhasil berkolaborasi dan membuat program ini menjadi menarik. Pada pemberhentian pertama, kami mengunjungi sebuah Pasar tradisional Candi Rejo, pasar dengan luasan yang tak cukup besar, cukup menampung kebutuhan desa dan nampaknya terbiasa dengan kehadiran wisatawan seperti kami. Pada titik pemberhentian ini, kami mencoba merasakan Jamu Tradisional. Saya yang sedikit mengeluhkan pegal-pegal dalam tubuh saya kepada ibu penjual jamu, tentunya Jamu Pegal-linu menjadi salah satu pilihan. Pahit-asam jamu yang terbuat dari daun pepaya, kunyit, jeruk nipis, temulawak, jahe dan madu membawa kebugaran saya di pagi itu, entah karena tidur saya semalam yang kurang, atau memang Jamu ini menyegarkan tenggorokan saya dengan baik. Manis beras kencur sebagai penutupnya juga tak kalah enak. Segar sekali.

Pemberhentian selanjutnya kami menemukan sebuah titik temu warga sekitar biasa menghabiskan waktu bersama pada jam makan siang, istilahnya si, “Rolasan” atau Istirahat /Break makan siang disaat jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Sembari bertukar informasi dan juga melihat kemegahan Candi Borobudur dari kejauhan. Indah dan megah sekali. Tak lupa sesi berfoto ala keluarga cemara juga melengkapi perjalanan kami dengan dibantu oleh Mas Tiko selaku Tim Dokumentasi dari Sandal Jepit Media– yang memang  sedari awal menemani perjalanan kami hingga akhir program.

Selanjutnya kami menyambangi ke rumah Bu Lilik pemilik Penginapan GarengPoeng dan juga seorang penulis buku resep makanan tradisional. Kecintaannya pada dunia kuliner sudah dikenal sejak jaman kakek-nenek saya. Tak hanya buku-buku resep yang legendaris, melainkan buku ‘DIY’, atau kerajinan tangan yang terbuat dari sisik ikan tawar. Sembari berkenalan dan ngobrol-ngobrol karyanya, beliau yang sejak tadi menyiapkan aneka Wedangan (minuman) berupa Wedang Semelak; terbuat dari pace, asam jawa, gula jawa, sereh, jahe, kunyit, cengkeh. Wedang Teh Kamboja terbuat dari kamboja, daun kayu manis. Wedang Secang terbuat dari secang, pandan, gula batu. Menjadi suguhan minuman untuk pelancar dahaga, lalu suguhan aneka jajanan pasar/ kue basah manis berupa Kue Talam Ubi, Kue Petulo siram Gula aren, lalu aneka Kue asin Getuk bakar isi Abon dan juga Gandos Keju Gluten free. Sembari menikmati sajian, beliau menceritakan bagaimana proses-proses pengolahan bahan makanan yang terjadi saat ini mengalami perubahan. Seperti pada bumbu-bumbu yang ada di pasaran jarang bisa ia temukan kembali, mengingat bahwa nenek moyang dahulu, mereka menggunakan banyak sekali rempah dan bumbu-bumbu yang unik. Dengan keresahannya tersebut, beliau mau dan mampu membudidayakan aneka rempah dan bumbu dapur untuk keperluannya dalam memasak di dapur pribadi maupun Rumah  GarengPoeng. Kebun yang ia impikan itu, nyatanya tumbuh dan berkembang dengan baik, dirawatnya dengan baik, diprosesnya, lalu disajikannya dalam bentuk makanan dan minuman dengan baik pula. 

Lalu perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi tempat magis sekaligus menjadi lokasi makan siang kami, sebuah tempat bertemunya Sungai Elo dan Progo, melihatnya saja membuat saya dan teman-teman lain menjadi bengong, melamun, dan banyak-banyak menghela nafas. Seperti cerita yang disampaikan oleh guide itu, bahwa pertemuan kedua sungai besar ini berasal dari Gunung yang mengitari Borobudur. Sungai Elo yang berasal dari Gunung Merapi – Gunung Merbabu, dan Sungai Progo yang berasal dari Gunung Sindoro – Gunung Sumbing, tempat kelahiran saya berada. Sungguh perjalanan aneh buat saya, karena Petulangan Rasa yang didapatkan tak hanya sesi icip-icip saja, melainkan mengantarkan saya ke tempat yang menurut saya Sakral. Sesi makan siang kami santap bersama si pemilik Eloprogo Art House. Menjelajahi rumah seni ini tak membuat kami lantas capek, tempatnya yang luas, membuat kami ingin sekali menjelajahi lokasi ini lebih dalam, terlebih si pemilik; Pak Soni yang sedari tadi sibuk dengan kerja-kerja seni-nya. Menyambut kehadiran kami dengan cukup ramah dan bercerita tentang ‘kehidupan’ yang akhir-akhir ini sedang kami lalui. Pas sekali rasanya, makan siang ayam goreng lengkuas, sayur lodeh, sambal kecombrang, dan nasi liwet yang semerbak. Makanan enak, tempat yang nyaman, hospitality yang baik, membuat sajian makan siang kala itu sangat ‘Pas’ dan melegakan, karena diakhiri dengan minum Es Jeruk peras manis. Hari semakin siang dan waktu juga menunjukkan bahwa saatnya kami kembali ke lokasi yang sempat disiapkan oleh Melek Huruf yaitu sesi Icip-icip Kopi khas Magelang. Diawali dengan Mas Arif pelaku industri Kopi dan juga pendiri Call Me Coffee Roaster, sekaligus mengakhiri agenda perjalanan kami pada siang menuju sore itu. Baginya, Industri kopi dalam dua tahun terakhir di Magelang ini, cukup berkembang dan mulai menampakkan keberaniannya dengan bersaing sehat.  Dengan harapan, kopi-kopi yang sudah berhasil di produksi di tanah kelahirannya itu, dapat diproses dan dikembangkan oleh teman-teman lokal. Karena pada perjalanannya dan yang terjadi dilapangan hampir 60% hasil kopi yang ditanam akan diperjualbelikan dalam bentuk “Raw Material”. “Sayang sekali rasanya kalo kita gak mencoba olah dan memprosesnya, bisa-bisa kita cuma jadi petani biasa”. Tuturnya~

Sajian kopi yang kami dapatkan saat itu, memiliki aroma khas seperti buah Nangka. Aroma manis dan sedikit gurih saya temukan ketika mencicipinya lebih dalam, tak hanya rasa asam yang ada di permukaannya, melainkan aroma khas yang dihasilkan dari ‘Honey Process’ membuat sajian sore ini jadi makin nikmat.

Sore berakhir dengan penuh informasi, penuh rasa dan penuh pengalaman, lalu segera kami melanjutkan sesi mandi sore dan beristirahat, karena segera jamuan makan malam akan siap, apalagi jamuannya makanan khas dari daerah tersebut, yaitu: Ikan Beong. Makan malam yang menurut kami menarik, karena setiap perjalanan kami selalu mendengarkan dari warga maupun guide yang ingin sekali mendekatkan kami kepada Ikan Endemik Sungai Elo dan Progo itu. Menurutnya; Ikan Beong tersebut ada pada Relief Borobudur Ikon kota ini. Saya yang makin penasaran, membuat bersemangat ingin segera mencicipi Ikan tersebut. Tampilan masakan ini berwarna putih santan, sedikit keruh karena hasil gabungan bumbu rempah yang ditumis sebelumnya. Tekstur Ikan Beong sedikit lembut namun kita bisa merasakan sensasi tiap gigitan dan dikunyah dengan nasi hangat yang terkena kuah santan hangat. Tekstur yang hampir mirip dengan Ikan lele ketika dimasak Mangut. Saya tak menemukan aroma khas tanah seperti pada ikan-ikan tawar lainnya. Entah karena tipikal Ikannya atau memang cara pengolahannya yang baik. Tentu makanan tersebut menjadi penutup makan malam kami dengan perut aman dan nyaman.

Hari selanjutnya kami mempersiapkan Lokakarya Menulis Kuliner, akan dipandu oleh Mba Ade Putri Paramadita selaku Penulis Kuliner dan juga kecintaannya dalam menjelajahi ragam kuliner Indonesia. Agenda ini sekaligus menjadi penutup yang baik, dalam tajuk “Petualangan Rasa di Magelang”. beliau mengajak kami untuk menuliskan buah pikir yang sudah kami temui dan sambangi dalam perjalanan rasa tiga hari dua malam itu. Baginya eksplorasi rasa tak hanya cita rasa yang dihasilkan saja, melainkan aroma, tekstur dan tampilan juga dapat mempengaruhi nilai yang terkandung dalam sebuah makanan. Mengenal makanan juga bisa kita dapatkan melalui sejarah/ tradisi budayanya, bahan/ proses pengolahannya, sampai posisi  atau peran sebuah makanan di masyarakat sekitar.

Buat saya pribadi, bicara tentang petualangan rasa tidak hanya berhenti sampai di indra pengecap saja. Melainkan sebuah rasa yang menyimpan doa-doa baik, yang biasa disematkan oleh si pemasak. Entah masakan mewah pada hotel berbintang, masakan tradisional, atau bahkan masakan rumahan. Saya mengamini tiap-tiap masakan yang disajikan. Karena mereka terbuat dari doa dan “Tangan-tangan Give”. Buat saya, letak kenikmatan yang utuh adalah ketika kita mendoakan makanan dengan khidmat. Mensyukuri tiap suapannya, mengunyahnya dengan dalam, dan menelannya dengan rasa yang utuh. Mungkin itu cukup- (Apalagi dinikmatinya dengan mendoakan yang baik-baik.) Saya yakin makanan itu dapat menutrisi tubuh kita dengan baik pula. Seperti yang sudah diobrolkan dengan Mba Ade, bahwa kita dilarang untuk mencela makanan. Saya menyepakatinya.🫶🏻 

Saya juga menyukai momen kebersamaan, apalagi ketika makan bersama, mau dengan keluarga, teman, pasangan, semuanya jadi terasa enak jika dimakan secara bersama-sama. Seperti pada momen upacara adat atau kenduri. Agenda makan sudah menjadi hal yang penting untuk tidak dilewatkan. Sajian-sajian yang diberikan pada perjalanan ini, saya berikan khusus untuk Almarhumah Ibu saya, yang sudah setahun ini saya rindukan apalagi masakannya, Sop Kacang Merah ala rumahan. Jika benar Ibu saya menyukai makanan yang berkuah seperti Soto dan Sop, mungkin saya akan merekomendasikan Sop Empal Bu Haryoko, saya akan menceritakannya melalui doa-doa saya. Pasti Ibu saya menyetujuinya, bahwa Sop Empal Bu Haryoko adalah tipe ‘Comfort food’ yang bisa dinikmati kapanpun dan dalam suasana apapun. Semoga doa-doa itu melambung sampai ke langit. Terima kasih. Ohm Swastiastu. ✨

Sinlu Aji-

—————

Tulisan ini merupakan karya Sinlu Aji Apdilah, salah satu peserta lokakarya “Menulis Kuliner” yang merupakan bagian dari rangkaian Pekan Buku Magelang di Melek Huruf pada hari Minggu, 11 Agustus 2024.

Petualangan Rasa di Magelang – 03

Memasuki hari ke-3, tiba di menu utama: lokakarya menulis kuliner.

Sejak semalam sebelumnya, aku sudah menuliskan materi lokakarya di papan tulis. Sebelumnya, Mas Cris & Mbak Nina sudah sempat menawarkan untuk menggunakan layar untuk presentasi. Tapi, rasanya aneh juga menggunakan layar yang membutuhkan tenaga listrik di ruang terbuka seperti halamannya Melek Huruf. Jadi… white board, it is!

Sesi lokakarya ini berlangsung selama dua jam. Yang ku bagikan sebenarnya adalah pengetahuan dasar menulis. Mengenai apa yang harus ditulis. Bahwa sesungguhnya gaya sebuah tulisan itu tetap harus menyesuaikan: untuk siapa dan di mana kita menulis? Tentu, menulis di blog atau Instagram — misalnya, pasti nggak sama dengan ketika kita menulis untuk sebuah media massa di mana sudah ada ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi. Ya, kan?

Sejak hari pertama, aku sudah memberitahukan peserta bahwa aku akan memberikan sebuah travel journal book yang ku beli dari sebuah jenama pembuat letterpress asal Jogja: McMurs. Hanya satu, untuk satu peserta dengan hasil tulisan terbaik.

Ternyata, hampir semua peserta mengirimkan hasil tulisannya. Dan, sungguh bikin terharu, karena banyak banget yang tulisannya mengagumkan. Iya, bagus! Dan akhirnya travel journal book ini jatuh ke tangan Sinlu — peserta asal Wonosobo, Jawa Tengah.

Nanti, satu persatu, akan ku unggah hasil tulisan teman-teman peserta tersebut di blog ini ya.

Petualangan Rasa di Magelang – 02

Kami memulai kegiatan hari ke-2 di pagi hari. Sekitar pukul 6.30 WIB, setelah semua peserta berkumpul di Melek Huruf yang jadi titik temu, kami semua langsung bersepeda dipandu Go4Tour.

Go4Tour ini merupakan jasa layanan tur sepeda dan jalan kaki yang berbasis tak jauh dari Borobudur, Magelang. Dan perjalanan ini merupakan kali kedua-ku bersama mereka.

O ya. Beberapa hari sebelum acara ini, rupanya Mas Singgih — beliau adalah orang yang menjadikan Pasar Papringan terwujud, sekaligus desainer radio kayu Magno serta sepeda bambu Spedagi — sempat ke Magelang dan singgah ke Melek Huruf. Setelah berbincang dengan Mas Cris dan tahu bahwa aku akan mengadakan acara ini, Mas Singgih mengirimkan teks ke aku. Mengatakan bahwa ia akan mengirimkan sepeda buatku (yeay!) serta dua sepeda lainnya untuk dipinjamkan untuk acara ini. Wah!

Pagi itu, kami menyusuri jalan-jalan kecil. Sesekali, kami akan berhenti di titik-titik tertentu di mana Amir, salah satu personel Go4Tour, akan berkisah mengenai banyak hal.

Dari titik ini, kami mengagumi megahnya Candi Borobudur

Menurut Rimi, yang juga bagian dari Go4Tour, rute yang kami lalui kali itu juga merupakan rute baru. Artinya, setelah mereka survey, inilah kali pertama Go4Tour membawa tamu melintasi rute tersebut.

Lagi-lagi, yang kami singgahi, tentu saja: pasar tradisional. Pasar Candir ejo ini nggak besar, tapi ada beberapa kios menarik yang kami sambangi. Sempat jajan rolade — campuran daun talas dan tahu yang ditumbuk lantas dilapis tepung, dibuat berbentuk bulat, kemudian digoreng. Aku mengenal panganan ini dari Pasar Papringan.

Pula, minum jamu dengan campuran daun pepaya. Wuekkk… pahit! Tapi ya tetap ku habiskan. Setelahnya, beberapa peserta pun ikutan minum jamu serupa. Ekspresi dari tegukan pertama jadi lawakan bagi kami semua. Ya habis gimana dong… pahit banget! Hahaha.

Rolade daun talas dan tahu

Berikutnya, kami ke Omah Garengpoeng yang letaknya masih di wilayah Candirejo juga. Pemiliknya, Lily T. Erwin, adalah seorang penulis buku yang sudah senior. Pagi itu, Bu Lily menyajikan sejumlah jajan pasar dan minuman tradisional. Yang menarik bagiku adalah semelak. Minuman yang konon memang terkenalnya dari daerah Magelang ini terbuat dari buah mengkudu. Buah yang ternama karena rasanya yang sepat dan aromanya yang tajam ini, ternyata ketika diolah bisa jadi sesuatu yang enak. Sepatnya bergulir jadi masam segar, dan aroma tak sedapnya pun gugur. Sungguh, aku suka minuman yang juga berkhasiat ini.

Kami menghabiskan waktu cukup lama di tempat Bu Lily. Selain memamerkan beberapa buku karyanya, Bu Lily juga mengajak kami melihat kebunnya. Dengan semangat, beliau menjelaskan tanaman-tanaman yang ada beserta kegunaannya. Ternyata, sebagian besar dari kami masih belum banyak tahu mengenai tanaman-tanaman tersebut lho!

Usai dari Omah Garengpoeng, kami kembali bersepeda menuju Eloprogo Art House. Sebuah galeri yang pula difungsikan sebagai tempat makan, sekaligus rumah tinggal sang empunya – Pak Sony Santosa dan istrinya.

Kelar memarkir sepeda di halaman dan melangkah memasuki area Eloprogo, aku seketika terpesona melihat kecantikan tempat ini. Betapa tidak? Bangunan eksentrik ini berlokasi tepat di sisi sungai. Tepatnya, pertemuan sungai Elo dan sungai Progo. Pepohonan hijau, suara gemericik air, kualitas udara… apa yang lebih baik dari itu? Teman-teman Go4Tour lantas membawa kami jalan, mengeksplorasi Eloprogo Art House ini sebelum waktu santap siang tiba.

Di bagian belakang, ternyata terdapat penginapan. Ada pula sebuah area luas dengan pohon-pohon besar nan rindang. Membuat kami, tanpa disuruh, segera duduk dan hanya menikmati momen begitu saja. Menenangkan, menyenangkan.

Sambil menunggu masakan siap, kami menghabiskan waktu ngobrol dengan Pak Sony. Seniman yang satu ini membuka obrolan dengan mengajak kami bermain perumpamaan hewan serta kehidupan. Ringan. Sebagian besar dari kami mengikuti permainan ini, sementara sebagian lagi sibuk bermain dengan gawainya, atau sekadar menikmati pemandangan seraya sesekali bercanda dengan kucing yang ada di sana.

Ketika akhirnya makanan siap saji, pun pula luar biasa sedap. Aku yakin ini bukan karena lapar atau kepanasan. Namun, setup kolang kaling-nya sungguh berkesan. Manisnya sedang, tekstur kolang kaling-nya pas: empuk, tapi masih perlu sedikit usaha mengunyah. Juga, ada aroma rempah ringannya. Lantas, nasi liwet dengan ayam kampung goreng, sambal dan lalapannya pun nikmatnya terlalu. Memang masakan sederhana yang dibuat dengan benar itu amatlah atut dipujikan!

Usai makan siang, kami kembali ke Melek Huruf. Masih ada agenda pengenalan kopi yang dipandu oleh Mas Arief Godriel dari Call Me Coffee Roastery, Magelang. Di sesi yang berlangsung selama sekitar setengah jam itu, kami jadi lebih banyak tahu mengenai perkembangan kopi lokal — utamanya yang tumbuh dan tersedia dari sekitaran Magelang serta Temanggung. Dari sesi itu pula, aku jadi tahu bahwa salah satu dari peserta acara ini merupakan barista juga dari salah satu kedai kopi ternama di Magelang. Wah!

Usai sesi kopi, para peserta kembali ke penginapan untuk mandi dan istirahat sejenak. Aku sendiri, setelah mandi, mengikuti jalannya sesi gelar wicara mengenai kopi. Acara ini merupakan bagian dari Pekan Buku Magelang juga. Tak hanya mengundang para nara sumber yang ku nilai cukup piawai di bidangnya, tapi semua yang hadir ku lihat menyimak dengan seksama. Antusias, dan banyak bertanya. Jadi, sebagai pendengar, aku pun puas karena mendapat banyak pencerahan dari sana.

Untuk santap malam, kami kembali ke Omah Garengpoeng. Ya, benar, ke rumah Bu Lily. Kali ini, aku sudah minta Bu Lily menyiapkan sajian tradisional. Di antaranya adalah mangut ikan beong. Nah, yang satu ini adalah makanan khas Magelang. Tepatnya dari sekitaran Borobudur. Bu Lily juga menyiapkan Lesah — soto ayam kampung berkuah santan. Teksturnya cukup tebal namun rasanya tergolong ringan. Semua masakan Bu Lily ini juga cita rasanya rumahan banget. Dan, mungkin, obrolan dengan beliau membuat kesan rumahan ini terasa semakin kental.

[ b e r s a m b u n g ]

Petualangan Rasa di Magelang – 01

Beberapa waktu lalu, Mas Cristian Rahadiansyah — seorang kawan, yang dulunya menjabat Chief Editor di majalan pariwisata DestinAsian dan kini sudah membangun keluarga serta rumah baca Melek Huruf di Magelang — menghubungiku untuk ikut terlibat di rangkaian acara Pekan Buku Magelang di tempatnya. Setelah melalui beberapa kali diskusi, akhirnya memutuskan untuk membuat rangkaian perjalanan Petualangan Rasa di Magelang, yang menjadi bagian dari pekan buku tersebut. Hm, menarik!

Aku langsung menghubungi Mbak Beby Vinny dari Pelangi Benua. Sudah beberapa kali aku bekerja sama dengan operator tur yang satu ini, memang. Jadi, rangkaian ini menjadi kolaborasi dengan beberapa pihak: aku, Melek Huruf, Pelangi Benua dan Go4Tour — operator tur sepeda yang berbasis di Magelang.

Perjalanan dimulai pada hari Jumat, 9 Agustus 2024. Titik temu di Stasiun Tugu Jogja. Dari sana, kami menuju Muntilan. Agenda pertamanya: makan Sop Empal Bu Haryoko.

Sebuah keputusan bijak untuk tiba sebelum waktu makan siang — sehingga kami masih bisa duduk nyaman berdampingan di meja-meja yang posisinya bersebelahan satu sama lain. Sop Empal ini sendiri sesuatu yang baru bagiku. Baceman empal dan paru disajikan terpisah, didampingi sambal pedas nan joss, dan kuah ringan berisi bihun dan beberapa helai kol serta taburan bawang merah goreng. Nyaman, dan tentu saja dengan mudah diterima di lidah para peserta — setidaknya, begitulah respon yang ku dapat dari mereka.

Setelahnya, kami berjalan kaki ke sebuah toko oleh-oleh yang ternama di sana: Toko Ny. Pang. Jarak tempuhnya tak sampai lima menit. Di sana, kami disambut oleh Imanuel Jeffrey Lee. Koh Jeff, demikian ia akrab disapa, merupakan pemilik yang adalah generasi ke-6 dari Ny. Pang. Beberapa waktu sebelumnya, ia sudah menghubungiku melalui DM di Instagram, menawarkan untuk singgah dan melihat dapur produksinya — sebuah kesempatan yang nggak akan ku lewatkan.

Peserta terlihat senang mendapatkan kesempatan ini. Pula, pada sesi ini ku ingatkan mereka untuk mulai menggali dan mencatat berbagai hal, untuk kemudian dituangkan dalam tulisan mereka.

Usai menengok dapur produksi Ny. Pang di mana kami bisa menyaksikan pembuatan jenang dodol, kue miku, krasikan dan sejumlah cemilan manis, kami juga icip buntil. Ini atas rekomendasi bude-ku dan Oom William Wongso sih. Sajian sayur dari daun talas ini tampil berbeda, karena dibungkus daun pisang. Mungkin karena kebutuhan dagang dengan pola konsinyasi ya (yang ini memang bukan produksi Ny. Pang, melainkan titipan). Bentuknya pun lebih menyerupai gulungan daun, bukan bulat layaknya buntil yang biasa ku dapati. Tekstur daunnya begitu lembut karena dimasak lama, dan ada varian dengan campuran ikan tongkol pula. Sedap benar!

Dari Ny. Pang, kami berjalan kaki menyusuri sejumlah gang kecil di sana.

Hingga akhirnya tibalah kami di Pasar Muntilan. Tak terlalu banyak yang kami jumpai di sana. Mungkin juga karena sudah memasuki tengah hari. Tapi, lagi-lagi, berbagi pengetahuan mengenai bagaimana memperhatikan apa-apa saja yang bisa jadi materi tulisan nantinya.

Yang cukup dilematik adalah ketika menjelang waktu santap malam. Mas Cris, pemilik Melek Huruf, merekomendasikan kedai Pak Parno. Sebelumnya, memang aku menanyakan kalau ada tempat makan mie jawa yang enak. Tapi, kedai yang satu ini begitu populer. Sehingga, konon antreannya bisa mencapai satu hingga satu setengah jam. Wuih, modhiyarrr — karena aku juga membawa beberapa peserta. Kasihan juga kalau mereka harus menunggu sedemikian lama. Maka, akhirnya pilihan ku geser ke kedai Mbah Dono yang lokasinya nggak jauh dari penginapan.

Saat itu, pengunjungnya hanya kami dan satu orang lain yang baru selesai makan ketika kami tiba. Kebanyakan dari peserta memesan mi kuah, dan ada pula yang untuk pertama kalinya mencoba magelangan — paduan mi dan nasi dalam satu masakan yang sama. Sedangkan aku, memesan sego godhog — serupa mi kuah, hanya saja mi-nya diganti nasi. Favoritku, memang.

Ternyata, rasanya cukup enak kok. Nggak mengecewakan. Yang mengejutkan adalah ketika tagihan datang. “Minumannya nggak dihitung. Ini Jumat berkah,” demikian kata Mbah Dono sambil menyerahkan lembar bon ke aku. Ya ampun… Berkah nggih, Mbah.

Ceritanya bakal panjang. Jadi, ku pisah di tulisan berikutnya ya.

[ b e r s a m b u n g ]

Mengenal Banda Lewat Segigit Cara

Kue Cara

Apa pasalnya sampai saya harus mengetuk rumah penduduk di Banda Neira, di sebuah pagi buta di mana bulan sudah tak lagi tampak sedangkan matahari juga belum memasuki jadwal menyinari tanah?

***

Gaduh suara alarm dari ponsel membuat saya langsung bangun. Segera saya lompat dari tempat tidur dan mengetok pintu kamar sebelah. “Ga, yuk! Nggak usah pakai mandi segala lah ya!”, ajak saya ke Aga, salah satu teman di perjalanan kali itu. Kami bersiap, lantas berjalan kaki dari penginapan tempat kami bermalam, menuju sebuah rumah di depan lapangan. Waktu tempuhnya sendiri tak sampai lima belas menit, karena memang jaraknya tak jauh. Hanya saja, cahaya minim sepanjang jalan di pulau yang kebanyakan penduduknya belum terjaga pada saat itu, membuat suasana lumayan mencekam. Belum lagi, beberapa hari sebelumnya, saya banyak mendengar sejarah kelam Banda Neira, di mana begitu banyak nyawa melayang akibat pembantaian massal. Pagi itu, kami melangkahkan kaki lebih cepat. Harus segera tiba, daripada pikiran kami makin kalut dipenuhi ketakutan-ketakutan.

“Assalamu’alaikum…”, ujar saya seraya mengetuk pintu. Seperti halnya rumah lain yang saya lihat di sana, rumah ini memiliki pembatas dari bambu, namun tak ada pagar penutupnya. Makanya, kami dapat langsung menuju pintu samping. Seorang bapak dengan rambut putih membukakan pintu. Matanya masih agak sembap. Baru bangun tampaknya. Beliau juga tak tampak siap kedatangan kami pagi itu, sehingga saya harus kembali menjelaskan, “Saya Ade, Pak. Dan ini teman saya, Aga. Kami mau masak kue dengan Mama Aisya.” Untung, tanpa banyak tanya, kami langsung dipersilakan masuk menuju sebuah dapur kecil berjelaga di salah satu sudut rumah itu.

***

Sehari sebelumnya, saya dan Aga sedang berjalan kaki ketika melewati depan rumah Mama Aisya. Kami berhenti sejenak mendapati bahwa di situ ada lapak makanan. Namanya juga tukang makan, nggak mungkin lah saya melewati tempat macam ini begitu saja. Di sebuah meja, tampak beberapa jenis kue ditata asal, untuk dijajakan. Yang langsung menarik perhatian adalah kue bulat berwarna kuning muda agak kecokelatan, dengan taburan ikan suwir, daun kemangi dan irisan cabai merah di atasnya. Tinggal delapan buah, yang tentunya langsung saya borong. Sambil membungkus pesanan saya, Mama Aisya menjawab pertanyaan saya tentang harga, “Empat lima ribu.” Segera saya keluarkan selembar uang pecahan lima puluh ribu dari dompet, dan menyerahkannya ke beliau. “Ada uang kecil? Sepuluh ribu saja!” Ujarnya menampik lembaran warna biru itu. Sempat bingung. Lho ini gimana sih? Ternyata oh ternyataaa… Maksud beliau, untuk empat buah, saya cukup membayar 5 ribu rupiah. Jadi, cukup 10 ribu untuk delapan buah kue cara tersebut. Wihhh… murah amat!

Sambil membayar, saya mengambil sebuah kue cara dan langsung mencobanya. Teksturnya padat namun sekaligus lembut. Serupa benar dengan kue lumpur. Bedanya, yang ini cita rasanya gurih. Suwiran ikan tunanya sudah berbumbu, dengan wangi daun kemangi yang khas menyeruak di antara tiap kunyahan. Jatuh cinta pada gigitan pertama itulah yang membuat saya langsung menodong Mama Aisya untuk mengajarkan saya bagaimana membuatnya. Dan tak ada perdebatan panjang, perempuan tua ini langsung mengizinkan asalkan saya memang rela bangun pukul 4 pagi untuk membantunya memasak keesokan harinya.

***

Pagi itu, Aga duduk di sudut dapur. Membuat sketsa suasana sekitaran tungku. Ia memang seorang sketcher. Sedangkan saya, membantu Mama Aisya membuat kue cara sambil memberondong beliau dengan pertanyaan tanpa henti. 

Mama Aisya lahir dan besar di Banda Neira. Di pulau cantik ini, hampir semua penduduknya hanya menyantap hasil laut. “Kalau mau makan, tinggal ke pinggir laut. Kami tangkap ikannya, langsung masak. Kalau ayam ada (di Banda), tapi mahal. Yang makan hanya turis,” jelasnya. Bahkan, masih menurutnya, “Kalau hari raya Idul Adha dan potong kambing, saya nggak mau makan. Nggak ada yang suka!” Saya menyimak dengan seksama sambil berusaha tetap fokus menuangkan adonan kue cara ke cetakan di atas kompor, menambahkan ikan suwir dan cabe iris, lantas membaliknya saat waktunya tiba.

Tiba-tiba, terlihat seorang lelaki remaja melintasi dapur, masuk ke kamar mandi. “Itu cucu saya. Masih sekolah.” Lagi, saya mendapat cerita dari Mama Aisya. “Anak itu saya larang nonton TV. Hampir semua anak di sini nggak ada nonton TV. Biar mereka main di luar saja.” Benar, memang. Dua hari sebelumnya, seorang teman yang memang tinggal di Banda Neira, mengajak saya jalan-jalan ke bandara. Nongkrong di runway! Gila aja. Mana bisa nongkrong kayak begini di bandara lain? Ternyata karena memang jadwal pesawat hanya seminggu sekali, titik ini dijadikan tempat berkumpul warga sekitar. Ada yang hanya sekadar duduk-duduk memperhatikan sunrise mau pun sunset, main bola, bersepeda, foto-foto, atau bahkan mojok berduaan.

Tak terasa, ratusan kue cara, juga dadar gulung isi unti, matang sudah. Saya dan Aga membantu Mama Aisya membawa semuanya ke bagian depan rumah — tempat di mana saya membelinya kemarin. Matahari sudah terbit. Hari itu lumayan cerah. Dan beberapa anak berseragam sekolah sudah berada di sekitar warung, hendak membeli kue buatan Mama Aisya. Saya ikut berjualan, membuat anak-anak ini lebih banyak bengong memandangi saya dibanding langsung memesan dan membayar. “Kalau buat anak sekolah, seribu saja,” ujar Mama Aisya sambil duduk. Pagi itu beliau menjadi manager, mengutus saya berdagang sampai kue-kue buatannya ludes. Dan, tak sampai satu setengah jam, kue-kue ini ludes. Tak bersisa. “Nanti habis ini saya masak lagi, buat jual siangan nanti,” ujarnya sambil membereskan lapaknya.

Menyisakan pertanyaan saya, “Apakah memang benar Kue Cara ini terinspirasi dari Kue Lumpur yang akhirnya berubah wujud serta rasa karena ketersediaan bahan?” Lantas, siapa yang dulu membawa tradisi kuliner Jawa ini ke wilayah Timur Indonesia? 

***

Peristiwa ini terjadi dua tahun silam. Tapi saya masih ingat benar kesan saya terhadap Banda Neira. Terhadap Mama Aisya dan kue cara-nya. Terhadap keindahan alam sekaligus misteri duka pulau ini. Saya masih ingin kembali. Akan kembali. Menggali lagi lebih dalam tentangnya, dan membawanya dalam kisah-kisah dongeng kuliner yang saya sampaikan di berbagai kesempatan.

31 Oktober 2019

Ade Putri Paramadita

( diselesaikan di pesawat, dalam penerbangan dari Bali menuju Langgur )

Ketika Elemen Nasi Tumpeng Menjadi Segelas Cocktail

Senin, 21 Januari 2019. Saya diundang menjadi Guest Commentator Judge di MixoChef Burst II, sebuah event kompetisi mixologist yang diselenggarakan tahunan oleh Asosiasi Bartender Indonesia. Menarik. Karena, sebelum acara ini, saya tahunya hanya ada segelintir kecil saja mixologist di Indonesia. Semakin menarik, karena tema kompetisi kali ini adalah Hot Section. Artinya, para peserta diharuskan menggunakan bahan-bahan dari hot kitchen sebagai unsur di cocktail yang mereka buat.

Ocean 360, di Discovery Mall, Kuta, Bali. Dua puluh satu peserta bergiliran mempresentasikan cocktail karya masing-masing di depan juri; saya, Arey Barker, Nyoman Picha, Aldho Goenawan, Ayip Dzuhri dan Elva Buana. Beberapa yang layak di-highlight, antara lain; Timbungan Fizz yang terinspirasi dari santapan tradisional Bali dalam bambu, Duck L’Orange yang menggunakan orange curacao infused duck stock, Marinara Cocktail dengan clarified marinara mix dan butter prawn oil washed vodka, Tom Pirates yang mengambil tom yum sebagai dasar rasa, Lissoi Kapten yang memajukan bahan dasar khas masakan Batak yaitu andaliman, Lawrencefield yang secara berani mengambil rujak kuah pindang khas Bali sebagai base rasa, A Letter From The Sea yang bercita rasa khas Jepang dengan miso dan umami stock-nya, Loot History Of Semarang yang membawa carbonated soto, Spicy Smoked Pork Cocktail yang mengingatkan pada se’i babi khas Kupang, Curry Kapitan dengan semilir rasa kari, dan 1834, yang menampilkan nasi tumpeng menjadi cocktail kece.

Tak hanya rasa, aroma, serta tampilan cocktail. Pengetahuan mengenai brand Captain Morgan – merek rum yang menjadi sponsor utama acara ini serta menjadi salah satu bahan wajib pakai, tehnik dan kreativitas, serta penampilan mixologist dan kemampuan berkomunikasi mereka juga menjadi bahan penilaian dalam kompetisi ini. Dalam waktu yang ditentukan, peserta juga harus menyelesaikan presentasinya.

Dan setelah usai, berdasarkan nilai yang diperoleh dan hal-hal lainnya, maka inilah para pemenang Burst 2 Mixochef Mixologist Competition 2019:

1st – Prindi Sandika Putra – Ayana Resort & Spa
2nd – Aris Prithana – The Anvaya Beach Resort
3rd – Yudhizt PapaTigabelas – Romeos Bar & Grillery
4th – 
Oka Jagat Pratama – Sva Indonesian Tapas & Bar
5th – Rifki Riwandi – Kitchenette Beach Walk

Best on Stage – Kadek Wahyuni – La Favela

Congrats to all the winners! Saya percaya, apa yang mereka hasilkan layak untuk disandingkan dengan kreasi para mixologist internasional. Ikutan menanti lahirnya kreasi-kreasi baru dari para mixologist ini. Fingers crossed.

Belanja Dengan Koin Bambu Di Pasar Papringan

This slideshow requires JavaScript.

Terletak di dusun Ngadipuro, desa Ngadimulyo, kecamatan Kedu di Temanggung, pasar papringan ini bukan pasar biasa. Diselenggarakan hanya setiap Minggu Pon serta Minggu Wage, hutan bambu seluas sekitar 3ribu meter persegi ini “disulap” menjadi pasar terkonsep yang amat menarik.

Inisiatifnya datang dari Singgih Kartono, orang di balik radio kayu Magno serta sepeda bambu Spedagi. Tak sendiri, beliau dibantu oleh Fransisca Callista yang menjadi eksekutor dari konsep serta ide gagasan pasar tersebut. Pasar papringan dibuat untuk merevitalisasi desa ini agar menjadi mandiri. Dengan tidak menghilangkan kearifan lokal, diharapkan pasar papringan ini akan berkelanjutan – tidak menjadi sesuatu yang sifatnya sesaat saja. Kegiatan ini melibatkan masyarakat sekitar, dengan tujuan untuk membangun manusianya pula. Sudah 100 kepala keluarga dari 110 kepala keluarga lokal dilibatkan. Ibunya berdagang, sang ayah dan pemudanya ditempatkan di bagian parkir atau mengatur keamanan, sedangkan anak yang lebih muda lagi biasanya menjadi relawan di bagian keuangan, kebersihan serta divisi lain pendukung gelaran ini.

Tercatat tak kurang dari 80an pedagang yang tersebar di 40 lincak dagang ada di sini, dengan jumlah pengunjung pernah mencapai 5ribu orang dengan jam operasional dari pukul 6 pagi hingga 12 siang ini. Angkanya bikin melongo ya? Tunggu. Bicara tentang penghasilan kotornya, setiap stand pedagang kuliner bisa menjual umumnya 150 porsi makanan berat dengan kisaran harga 4 koin pring. Sedangkan untuk makanan ringan, tiap orangnya dapat membuat 3 jenis makanan dengan jumlah sekitar 400 potong dan dihargai 1 koin pring. Wah!

14 Januari 2018, saya menyambangi pasar papringan. Pasar yang dibuka pada 14 Mei 2017 silam ini sudah berjalan untuk ketigabelas kalinya. Dengan akses jalan kecil yang masih dapat dilalui mobil, saya lantas memarkir mobil di halaman rumah warga yang terdapat di sana. Lantas menempuh sekitar 500 meter dengan berjalan kaki menuju lokasi. Di gerbang, terdapat tempat penukaran koin pring alias koin bambu senilai 2ribu rupiah perkeping. Semua transaksi yang terjadi di pasar ini harus menggunakan koin pring sebagai alat tukarnya. Pengunjung dapat membeli koin pring satuan atau serenceng. Koin ini nantinya tidak dapat ditukarkan ke uang rupiah lagi. Jadi, habiskan koin pringnya, atau simpan untuk nanti digunakan di pasar papringan berikutnya.

Toh, harga dagangan di pasar papringan tak akan mengoyak isi dompet. Beberapa yang sempat saya ingat adalah lontong mangut dihargai 6 pring, ekstra sambal goreng iwak melem tambah 2 pring, tape ketan sekeranjang isi 10 seharga 5 pring, tempe koro tiga buah dihargai 2 pring, yo-yo seharga 5 pring. Terbayang lah ya range harganya. Bicara tentang apa yang tersedia di pasar ini, pun variatif banget. Mulai dari berbagai makanan jadi – baik yang ringan maupun berat, bahan-bahan masakan, buah, sayur mayur, aneka wedangan, jamu, kopi, teh, bahkan ada spot untuk wisata river tubing, sampai jasa cukur rambut dan pijat!

Banyak hal yang menarik dari pasar papringan ini. Tak hanya jenis masakan tradisional yang variatif, para pedagangnya pun dikuratori oleh tim, dan mendapatkan quality control yang baik dari penyelenggara. Tidak ada MSG, tidak menggunakan pengawet. Kurang? Pasar ini juga zero waste! Kalau bawa anak-anak, ada area bermain juga. Pun, ada spot perpustakaan. Pasar rindang ini juga merupakan non-smoking area. Bagi yang hendak merokok, ada area di dekat sebelah luar, sehingga tidak mengganggu pengunjung lain.

Sungguhlah pasar papringan ini merupakan pasar terkonsep yang amat menarik dan wajib dikunjungi. Jika ingin menginap, silakan cek Spedagi Homestay beserta paket-paket lainnya yang mereka tawarkan (mungkin perlu antar jemput dari bandara di Semarang ataupun Jogja?). Di Temanggung pun terdapat sejumlah penginapan yang juga bisa dijadikan opsi.

Segera cek penanggalan jawa untuk mencari tahu kapan lagi pasar papringan diselenggarakan, dan atur trip-mu ke sana!

Sekadar informasi tambahan, ini adalah sebagian dari aneka santapan yang dijajakan di pasar papringan; sate jamur dan aneka pepesan •  jajan pasar (klepon, bajingan, ndas borok, klemet, onde2, rondo kemulan, krasikan, aneka jenang, dawet ayu, dawet anget) • aneka klethikan • teh bambu •  lemang • degan bakar • sego abang • bubur kampung • gule ayam • lontong mangut • serundeng unjar • soto • ramesan • rujak • lutis • lotek • lesah • sego jagung putih • sego jagung kuning • gablok pecel • gono jagung • kupat tahu • gudheg • sego gono • sego kuning • nasi bakar • gorengan • godhogan • sate jamur • otak-otak jamur • tempe benguk • tempe koro pedang • tempe kecipir • rangen • pethotan • brendung • klemet • bajingan • ketan cambah • cethil • ongol-ongol • ndas borok • klepon • thiwul • iwel-iwel • ketan lopis • kimpul uran • mendut • jenang lot • rondo kemul • ketan jali • onde-onde • sawut • comro • lentho • toklo • entho cothot • kocomoto • cithak • lemper • endog bulus • endog gluduk • gethuk ireng • gethuk gulung • tape singkong • tape ketan • gemblong gurih • gemblong klomot • prol tape • sagon • apem kumbu • apem • gula kacang • gula kelapa • lepet tempe • srowol • bandos • presikan • timus • arem-arem • sagon • yangko • jadah bakar • wajik kacang ijo • jenang wijen • glanggem • ketan serundeng • ketan bubuk • gatot • nogosari • kipo • kemplang • srengkulun • cucur • lapir beras • lapis singkong • degan • dawet ayu • dawet anget • dawet ireng • wedang ronde • wedang lungkrah • susu kedele • wedang tape • sop buah • kolak pisang • kolak kimpul • jenang candil • jenang baning • jenang telo • teh manis • es jeruk • kopi • lathak • grubi • akar kelapa • intip • peyek daun • peyek kacang • peyek rebon • kering • sambel • endog asin • samier • criping poyor • criping ilat • criping pisang… Wuakeh!!!

 

Membangun Kota Ganja Yang Sukses

This slideshow requires JavaScript.

Game ini (kayaknya) nggak ada gunanya, tapi menyenangkan buat dimainkan. Tokoh utamanya (played by us), hanya menanam ganja saja. Dari berbagai jenis ganja itu, nantinya akan dikirim ke rumah nenek untuk diolah lagi menjadi madu, weed butter, cokelat, canna flour, marshmellow, dan hemp milk. Nah, bahan-bahan ini juga nantinya menjadi bahan dasar untuk membuat brownie, cookie, and sooo many! Kalau bahan kurang, artinya harus menanam lagi. Ganja yang sudah dipanen, bisa disimpan. Kalau gudangnya sudah mulai penuh, artinya kamu harus memperbesar ukuran gudang – dan itu artinya ada sejumlah benda dan uang yang harus kamu siapkan sebelumnya.

Business model” kota ganja ini menarik banget. Sebagai seorang bandar, kita harus tetap punya kontribusi terhadap kotanya. Menjaga kebersihan, salah satunya. Mereparasi fasilitas kota yang rusak juga, walaupun itu termasuk artinya kita harus mengeluarkan uang saat melakukannya, but we’ll get a point for doing those things.

Tokoh-tokohnya juga menarik. Ada yang akan mengingatkanmu pada Cheech & Chong, atau pada Bob Marley. Jangan lupa pegawai pemerintahan yang ganteng tapi juga rajin mengorder cimeng ke kita. Haha!

Hempire pula sesekali menyelenggarakan semacam kontes membuat bibit ganja terbaik. Ada opsi buat kamu bisa ikutan, dan nggak wajib juga. Waktu ikutan, kamu bisa mengarang nama bibit ganjamu. Saya sendiri sering sengaja menamakan yang norak, tapi sangat Indonesia. For no reason. O ya, nanti kalau kamu menang, selama beberapa saat, bibit ganja buatanmu akan lumayan disorot, karena akan ikut ditanam oleh si dokter penanam ganja dari laboratorium sebelah, dan akan ada demand terhadap ganjamu tadi. Pretty cool, ey!

Sesuatu lagi yang antara penting dan nggak. Kamu bisa pasang iklan di sini. Placement-nya keren sih. Worth a try.

Game-nya gratis. Seperti biasa, ada opsi untuk menghamburkan uang dari dunia nyata alias kartu kredit kalau kamu nggak sabaran dan pengen beli ini itu. Tapi sebenarnya kalau mau sabar dan rajin main, kamu bakal dapat banyak berlian yang bisa dipakai buat belanja. Jangan lupa cek koleksi muscle car-nya dan mobil-mobil futuristik katro lainnya, juga semua monumen yang bisa dipajang menghias kota ganjamu. Fun!

Nama game Hempire

Dapat diunduh di : Google Playstore dan App Store