Tua.

Beberapa pekan lalu, aku berkelana memandu 12 tamu dari Amerika Serikat. Selama sepuluh hari, kami menjelajah beberapa daerah untuk, ya apa lagi kalau bukan untuk, makan makan. Haha. Dibuka dengan welcome dinner di Jakarta, keesokan paginya kami langsung terbang ke Medan. Disusul ke Buleleng, lantas Tomohon. Dari Sumatra Utara, ke Bali Utara, dan ditutup dengan Sulawesi Utara. Dari kedua belas peserta, hanya satu yang usianya terpaut dua tahun di atasku: 48 tahun. Sisanya, rentang usianya dari 65 hingga 85 tahun. Joan Peterson, penyelenggara Eat Smart World Travel ini, adalah salah satu yang berusia 85 tahun tersebut.

Ini foto mereka. Ku tambahkan tulisan nama-nama, demi contekan kalau mendadak lupa nama. 

Di Medan, setelah marathon makan, kami singgah di Tjong A Fie Mansion—sebuah rumah antik peninggalan salah satu orang yang paling berpengaruh di kota itu pada masanya. Seorang pemandu perempuan mulai bercerita dalam bahasa Inggris ke seluruh tamuku. Ia juga menjelaskan bahwa salah satu cucu Tjong A Fie masih tinggal di sana.

Salah satu peserta mulai bertanya, “Oh, how old is she now?”

She is old. She’s, uhm, maybe… 64 or 65 years old.

Pecahlah suara tawa para tamuku. Si gadis pemandu menunjukkan gerak gerik kikuk. Jadi ku jelaskan padanya, “Mereka ini, ada beberapa yang usianya sudah 85 tahun.” Si gadis pemandu tersipu malu. “Ohhh, I’m sorry. I didn’t mean to.” Tentu saja, mereka tidak tersinggung. Hanya tertawa karena usia yang dikatakan tua itu bagi mereka belum termasuk golongan tua.

TUA.

Jadi, apa itu tua?

Aku sampai gugel, mencari tahu definisi kata tua menurut KBBI.

Sudah lama hidup, lanjut usia. 

Kurang lebih begitulah penjelasannya.

Aku lantas mulai mengingat rentang usia yang umum dianggap tua di Indonesia. Hmm… benar juga. 65 biasanya sudah dibilang tua. Tapi kenapa ya?

“Itu Tante Ndari umur 82 tahun, masih suka berpetualang ke luar negeri. Sambil motret. Bawa peralatan (foto) semuanya sendiri. Padahal kan berat.”

“Oom William masih aktif traveling ya. Padahal usianya sudah berapa tuh? 77? 78?”

“Bokap lo beneran umur 75 dan masih nge-band?”

Ku ingat-ingat lagi. Rasanya, mereka yang masih melakukan hal-hal fisik, terutama melakukan hal yang mereka senangi, tampak lebih muda. Setidaknya, mereka terlihat senang dan menikmati hidup. 

Salah satu atlet yang ku kenal dari sebuah kompetisi, usianya waktu itu 65 tahun. Masih mengangkat beban, dan endurance-nya pun baik. “You must have started this when you were young,” tuduhku waktu itu—melihat betapa fit dirinya. “No. I actually started to go to the gym when I was 40. But then I committed to it—to have a better lifestyle.” Ia sekarang berusia nyaris 70 tahun. Bersama adiknya, Liz, Elana membuat akun di media sosial dengan nama @ggs_sistas

Tulisan ini tetap tidak mampu menjabarkan rentang angka yang bisa dianggap tua. Seperti kata mereka, “Age is just a number.” Usia hanyalah sebatas angka. Yang penting, bagaimana kita mau menjalaninya. Peduli setan, dianggap tua atau nggak. Semoga bisa jadi titik untuk merefleksikan, “Mau tua dengan cara seperti apa?”

No Poo Method; Meniadakan Shampoo

Dimulai oleh ajakan seorang teman di grup Whatsapp, saya dan beberapa teman mencoba No-Poo Method. Bermodalkan sedikit membaca di https://www.nopoomethod.com/ , kami lantas mencoba metode ini bersama-sama.

Hari pertama: Cobaannya hanya ada di niat. Niat untuk memastikan bahwa, “Iya, saya akan mencoba melakukannya!” Lantas saya hanya keramas dengan air hangat. Tanpa shampoo. Hasilnya saat itu: ujung rambut agak kusut. Saya mengakalinya dengan menggunakan sisir bergigi jarang sambil keramas, lantas menyisiri rambut dari dekat bagian ujung, lantas perlahan mulai dari bagian tengah, hingga akhirnya dari pangkal rambut.

 

NoPoo Day4

Hari ke-4 Tanpa Shampoo

Hari ke-4: Cobaannya ada di kegalauan tingkat medioker, “Terusin nggak ya? Rambut gue nggak apa-apa nggak sih ini? Orang ngeliatnya kayak apa sih?” Di saat yang sama, mulai yakin kalau rambut rontok berkurang dari biasanya. Tapi amat sangat merindukan wangi shampoo. Mulai menyingkirkan “koleksi” shampoo saya dari kamar mandi; agar nggak tergoda untuk menggunakannya lagi.

 

NoPoo Day7

Hari ke-7 tanpa shampoo

Hari ke-7: Mulai yakin kalau mau meneruskan. Padahal, beberapa teman yang tadinya ikutan No-Poo Method ini sudah mulai bail out dengan berbagai alasan; ada yang mau cat rambut ke salon, dan ada yang merasa rambutnya tampak lepek. Ketika seorang teman mengendus kepala saya, ini testimoninya, “Nggak ada aroma apapun.” Jadi benar; netral jadinya. Nggak wangi, memang. Tapi juga nggak bau. Aman! Apalagi, saya merasa warna rambut terlihat jadi lebih hitam pekat dibanding biasanya.

Hari ke-14: Mulai mencoba keramas dengan menggunakan baking soda. Menurut teman yang masih bertahan, baking soda bisa dicampur dengan sedikit air di telapak tangan, hingga menjadi pasta. Lantas dioleskan ke kulit kepala dan digosok. Tidak akan berbusa, tapi tetap pada fungsinya: membersihkan. Setelah dibilas, kulit kepala terasa bersih, tapi batang rambut terasa agak lebih kasar. Saya tidak menggunakan baking soda ini setiap hari, hanya pada saat kulit kepala terasa gatal.

 

NoPoo Month2

Sebulan tanpa shampoo

Sebulan tanpa shampoo: sudah mulai yakin kalau saya nggak butuh shampoo. Tapi tetap, saya membeli shampoo alami – just in case. Alami gimana? Well, sebisa mungkin mencari shampoo yang nggak mengandung SLS (Sodium Lauryl Sulfate) saja. SLS inilah yang membuat busa pada pembersih seperti shampoo, odol, sabun, dsb. Berbahayakah? Tergantung. Karena reaksi tiap orang akan berbeda-beda. Silakan baca di http://slsfree.net/ Shampoo alami yang saya beli adalah Natur; karena cukup mudah diperoleh di pasar swalayan di mana pun. Hanya sekali saya memakai shampoo sejak saya memulai No Poo Method ini; yaitu pasca berenang.

Hari ke-40: menemukan ramuan yang menurut saya paling kece buat keramas: 1 sendok makan baking soda dicampur air hangat 1 gelas (350 cc) dan diaduk rata. Basahi rambut, tuang campuran ini dari kulit kepala hingga ujung rambut. Gunakan bantuan sisir bergigi jarang untuk mendistribusikannya ke seluruh bagian rambut. Usap. Lantas bilas. Setelahnya, buat campuran berikutnya: 1 sendok teh apple cider vinegar dicampur air biasa 1 gelas (350 cc) dan diaduk rata. Tuang campuran ini seperti sebelumnya. Lantas bilas hingga bersih. Hasilnya? Rambut terasa bersih, tapi sekaligus juga lembut sekali. Nggak tercium kok bau cuka jika dibilas hingga tuntas.

Sesekali, seperti juga pengalaman yang pernah saya bagikan lewat http://www.beergembira.com , saya juga keramas menggunakan bir. Hasilnya mirip dengan menggunakan campuran apple cider vinegar; rambut jadi halus dan lembut. Biasanya, agar irit, bir bersuhu ruangan saya masukkan ke dalam botol spray.

Sekarang, setelah sudah 2 bulan lebih saya menjalani No-Poo Method ini, saya menyimpulkan beberapa hal;

  1. Metode ini tidak untuk semua orang. Tapi, layak dicoba.
  2. Menjalani metode ini bersama beberapa teman akan lebih mudah, karena satu sama lain akan memberikan motivasi, atau masukan dan berbagai tips pribadi berdasarkan pengalaman masing-masing.
  3. Hasil di saya: rambut yang biasanya rontoknya heboh banget, amat berkurang rontoknya. Kebiasaan keramas dengan shampoo setiap hari yang dulu bikin ketergantungan, pun hilang dalam kurun waktu seminggu. Sekarang, kalau sampai nggak keramas, rambut nggak lantas jadi lepek atau kulit kepala jadi berminyak. No more bad hair day!

So, whether or not the No-Poo Method is for you, give it a try… Selamat mencoba!