“Kasih Sayang dalam Semangkuk Sup” oleh Nina Hidayat

Di Gemati Soup and Brew, pengunjung diajak makan sup kaldu hangat di tempat yang terasa seperti rumah sahabat.

Kalau kamu berencana berkunjung ke Magelang dan mengetik “kuliner Magelang” di mesin pencari, menu makanan yang akan muncul termasuk sop senerek. Layaknya sup bening, kuah dalam hidangan ini dibuat dari kaldu daging ataupun ayam. Isiannya daging, potongan wortel, bayam rebus, dan bintang dari hidangan ini: kacang merah.

Di Gemati Soup and Brew, sup kaldu tampil beda. Ia dibuat dari rebusan ayam dan konsistensinya pekat, alih-alih ringan dan bening. Saat disendok, ada potongan ayam, wortel, brokoli, juga makaroni spiral. Rasanya cenderung gurih, tapi lirih. Berbeda dari citarasa kuliner tradisional Magelang yang berani bumbu alias medok dengan rasa dominan manis. Menemani sup, ada nasi dari beras pecah kulit – beras yang masih berkulit ari, sehingga berwarna coklat dan lebih bertekstur dibanding saudaranya yang putih. Tidak lupa, sepasang tempe garit dan sepiring telur kriwil (atau disebut telur barendo dalam kuliner Padang) yang gurih dan renyah, mengimbangi rasa sup yang halus.

Saat lidah mencecap kombinasi kuah sup dan kriuk telur, nasi yang berserat ditemani potongan tempe yang padat, telinga dihibur lagu-lagu easy jazz dari perangkat suara di area makan kedai. Sungguh romantis!

Cita rasa sup dan pilihan musik di Gemati diracik oleh Arief Yulindra, pemilik kedai sekaligus satu-satunya tukang masak di sini. Lebih dikenal sebagai Toyib, ia bersuara lembut dan matanya berbinar saat bercerita tentang masakannya. “Semoga suka ya, mbak, nasinya. Cukup lama juga aku cari-cari beras pecah kulit ini dari beberapa petani sekitar sini, untuk nemenin sup,” katanya. 

Sajian lain di Gemati Soup and Brew adalah sate goreng. Bayangkan potongan dada ayam dengan bumbu kecap dan cabai rawit yang ditumis, tidak dibakar seperti sate pada umumnya. Kecap Kalkun yang terasa lebih ringan dibanding kecap botolan yang biasa kita temui di supermarket membalut potongan ayam.

Sup dan sate goreng adalah dua menu utama di Gemati setelah dibuka kembali di akhir Juni 2024. Ia sempat hiatus di masa pandemi. Saat dibuka kembali, menu sup andalannya dipertahankan, namun hadir dengan cita rasa yang lebih matang. Terutama kaldu dalam supnya yang kini terasa lebih tebal. Sate goreng adalah menu baru di kedai. Yang juga berubah adalah opsi minumannya. Jika sebelumnya aneka teh jadi andalan, kini ada bar kecil yang disiapkan untuk menyeduh kopi.

Setiap pagi, Mas Toyib berangkat naik motor ke pasar untuk belanja bahan segar. Lepas jam 12 siang, ia mulai memasak untuk mempersiapkan pembukaan warung setiap jam 15.00. Sejak dibuka kembali, Gemati memutuskan fokus melayani pengunjung di jam kopi sore dan makan malam. Meski begitu, kotak lampu di depan kedai bertuliskan “Lunch Break. Dinner Date”. Mungkin lebih pas disebut Coffee Break.

Tapi Gemati memang nyaman untuk dijadikan tempat rehat atau lokasi kencan. Kedai ini berada di pekarangan belakang rumah pemiliknya, dan bersinggungan dengan studio sablon yang ia kelola. Dapur dan sebagian besar tempat duduk diposisikan di area berlantai semen yang semi-terbuka. Ada meja makan, juga set sofa yang cocok untuk ngopi. Meja dan kursinya bergaya jengki, sebagian lagi furnitur antik yang diperbarui. Dari tempat duduk, tamu bisa melihat Mas Toyib memasak di dapur yang terbuka seperti di restoran Cina atau bakmi Jawa dengan kuali dan api yang menyala-nyala. Juga mengamati Mas Fikri menyeduh kopi di bar dekat perangkat suaraa yang waktu itu sedang memutar What a Wonderful World versi Soap & Skin. Melihat proses memasak dan menyeduh kopi adalah bagian dari pengalaman makan di Gemati.

Beberapa meja ditata di area taman, yang diisi helai-helai daun keladi raksasa dan bersebelahan dengan area bonsai. Bayangkan menikmati sore ditemani sepiring sup, nasi coklat, tempe garit, dan telur kriwil. Seusai makan, menyeruput es kopi susu Karib sambil mengobrol ditemani musik. Mampirlah jika kamu ingin merasakan pengalaman makan yang berbeda di Magelang – pengalaman makan yang rasanya seperti numpang makan di rumah teman baik.

Alamat: Dusun Mantenan RT 5 RW 1, Mertoyudan, Magelang

Jam buka: Senin – Minggu, 15.00-22.00

Bujet: Rp50.000-75.000 untuk 2 orang

—————

Tulisan ini merupakan karya Nina Hidayat, salah satu peserta lokakarya “Menulis Kuliner” yang merupakan bagian dari rangkaian Pekan Buku Magelang di Melek Huruf pada hari Minggu, 11 Agustus 2024.

Nina sendiri merupakan pemilik rumah baca di Magelang tersebut. Jika membaca media sosial Melek Huruf, Nina-lah yang dimaksud dengan Pustakawan 02. Tulisan Nina amat apik. Strukturnya baik, cara bertuturnya pun enak.

Belanja Dengan Koin Bambu Di Pasar Papringan

This slideshow requires JavaScript.

Terletak di dusun Ngadipuro, desa Ngadimulyo, kecamatan Kedu di Temanggung, pasar papringan ini bukan pasar biasa. Diselenggarakan hanya setiap Minggu Pon serta Minggu Wage, hutan bambu seluas sekitar 3ribu meter persegi ini “disulap” menjadi pasar terkonsep yang amat menarik.

Inisiatifnya datang dari Singgih Kartono, orang di balik radio kayu Magno serta sepeda bambu Spedagi. Tak sendiri, beliau dibantu oleh Fransisca Callista yang menjadi eksekutor dari konsep serta ide gagasan pasar tersebut. Pasar papringan dibuat untuk merevitalisasi desa ini agar menjadi mandiri. Dengan tidak menghilangkan kearifan lokal, diharapkan pasar papringan ini akan berkelanjutan – tidak menjadi sesuatu yang sifatnya sesaat saja. Kegiatan ini melibatkan masyarakat sekitar, dengan tujuan untuk membangun manusianya pula. Sudah 100 kepala keluarga dari 110 kepala keluarga lokal dilibatkan. Ibunya berdagang, sang ayah dan pemudanya ditempatkan di bagian parkir atau mengatur keamanan, sedangkan anak yang lebih muda lagi biasanya menjadi relawan di bagian keuangan, kebersihan serta divisi lain pendukung gelaran ini.

Tercatat tak kurang dari 80an pedagang yang tersebar di 40 lincak dagang ada di sini, dengan jumlah pengunjung pernah mencapai 5ribu orang dengan jam operasional dari pukul 6 pagi hingga 12 siang ini. Angkanya bikin melongo ya? Tunggu. Bicara tentang penghasilan kotornya, setiap stand pedagang kuliner bisa menjual umumnya 150 porsi makanan berat dengan kisaran harga 4 koin pring. Sedangkan untuk makanan ringan, tiap orangnya dapat membuat 3 jenis makanan dengan jumlah sekitar 400 potong dan dihargai 1 koin pring. Wah!

14 Januari 2018, saya menyambangi pasar papringan. Pasar yang dibuka pada 14 Mei 2017 silam ini sudah berjalan untuk ketigabelas kalinya. Dengan akses jalan kecil yang masih dapat dilalui mobil, saya lantas memarkir mobil di halaman rumah warga yang terdapat di sana. Lantas menempuh sekitar 500 meter dengan berjalan kaki menuju lokasi. Di gerbang, terdapat tempat penukaran koin pring alias koin bambu senilai 2ribu rupiah perkeping. Semua transaksi yang terjadi di pasar ini harus menggunakan koin pring sebagai alat tukarnya. Pengunjung dapat membeli koin pring satuan atau serenceng. Koin ini nantinya tidak dapat ditukarkan ke uang rupiah lagi. Jadi, habiskan koin pringnya, atau simpan untuk nanti digunakan di pasar papringan berikutnya.

Toh, harga dagangan di pasar papringan tak akan mengoyak isi dompet. Beberapa yang sempat saya ingat adalah lontong mangut dihargai 6 pring, ekstra sambal goreng iwak melem tambah 2 pring, tape ketan sekeranjang isi 10 seharga 5 pring, tempe koro tiga buah dihargai 2 pring, yo-yo seharga 5 pring. Terbayang lah ya range harganya. Bicara tentang apa yang tersedia di pasar ini, pun variatif banget. Mulai dari berbagai makanan jadi – baik yang ringan maupun berat, bahan-bahan masakan, buah, sayur mayur, aneka wedangan, jamu, kopi, teh, bahkan ada spot untuk wisata river tubing, sampai jasa cukur rambut dan pijat!

Banyak hal yang menarik dari pasar papringan ini. Tak hanya jenis masakan tradisional yang variatif, para pedagangnya pun dikuratori oleh tim, dan mendapatkan quality control yang baik dari penyelenggara. Tidak ada MSG, tidak menggunakan pengawet. Kurang? Pasar ini juga zero waste! Kalau bawa anak-anak, ada area bermain juga. Pun, ada spot perpustakaan. Pasar rindang ini juga merupakan non-smoking area. Bagi yang hendak merokok, ada area di dekat sebelah luar, sehingga tidak mengganggu pengunjung lain.

Sungguhlah pasar papringan ini merupakan pasar terkonsep yang amat menarik dan wajib dikunjungi. Jika ingin menginap, silakan cek Spedagi Homestay beserta paket-paket lainnya yang mereka tawarkan (mungkin perlu antar jemput dari bandara di Semarang ataupun Jogja?). Di Temanggung pun terdapat sejumlah penginapan yang juga bisa dijadikan opsi.

Segera cek penanggalan jawa untuk mencari tahu kapan lagi pasar papringan diselenggarakan, dan atur trip-mu ke sana!

Sekadar informasi tambahan, ini adalah sebagian dari aneka santapan yang dijajakan di pasar papringan; sate jamur dan aneka pepesan •  jajan pasar (klepon, bajingan, ndas borok, klemet, onde2, rondo kemulan, krasikan, aneka jenang, dawet ayu, dawet anget) • aneka klethikan • teh bambu •  lemang • degan bakar • sego abang • bubur kampung • gule ayam • lontong mangut • serundeng unjar • soto • ramesan • rujak • lutis • lotek • lesah • sego jagung putih • sego jagung kuning • gablok pecel • gono jagung • kupat tahu • gudheg • sego gono • sego kuning • nasi bakar • gorengan • godhogan • sate jamur • otak-otak jamur • tempe benguk • tempe koro pedang • tempe kecipir • rangen • pethotan • brendung • klemet • bajingan • ketan cambah • cethil • ongol-ongol • ndas borok • klepon • thiwul • iwel-iwel • ketan lopis • kimpul uran • mendut • jenang lot • rondo kemul • ketan jali • onde-onde • sawut • comro • lentho • toklo • entho cothot • kocomoto • cithak • lemper • endog bulus • endog gluduk • gethuk ireng • gethuk gulung • tape singkong • tape ketan • gemblong gurih • gemblong klomot • prol tape • sagon • apem kumbu • apem • gula kacang • gula kelapa • lepet tempe • srowol • bandos • presikan • timus • arem-arem • sagon • yangko • jadah bakar • wajik kacang ijo • jenang wijen • glanggem • ketan serundeng • ketan bubuk • gatot • nogosari • kipo • kemplang • srengkulun • cucur • lapir beras • lapis singkong • degan • dawet ayu • dawet anget • dawet ireng • wedang ronde • wedang lungkrah • susu kedele • wedang tape • sop buah • kolak pisang • kolak kimpul • jenang candil • jenang baning • jenang telo • teh manis • es jeruk • kopi • lathak • grubi • akar kelapa • intip • peyek daun • peyek kacang • peyek rebon • kering • sambel • endog asin • samier • criping poyor • criping ilat • criping pisang… Wuakeh!!!

 

Marlina Yang Akan Membunuhmu Sejak Babak Pertama.

Entah hal mana yang menarik saya pertama kali sebelum akhirnya memutuskan untuk menonton film ini sendirian;

  • Pencapaian film ini secara internasional sebelum akhirnya tayang di Indonesia
  • Hype tentang betapa keren film ini, menurut timeline di Path dan Twitter

, atau…

  • Memang saya selalu tertarik pada film Indonesia?

Jawab: ketiganya benar! ;)

Bercerita tentang seorang janda yang membunuh segerombolan orang yang merampas harta serta harga dirinya. Marlina lantas menempuh perjalanan sambil membawa kepala gembong yang sudah ditebasnya, untuk dibawa ke kantor polisi. “Ini sang tahanan,” demikian ia menyebut si korban. Oh, no. Wait. Actually, Marlina kan korbannya?

Menonton film ini, emosi semakin diguncang akibat begitu misteriusnya sosok Marlina ini. Membuat mempertanyakan diri sendiri, “Haruskah kita iba pada perempuan ini?” Datar emosinya seringkali membuat bergidik. Sehingga, kerap, ketika posisi Marlina terpojok, kita berharap situasi bisa akhirnya bersahabat pada nasibnya, demi menenangkan perasaan kita saat menyaksikan film ini. Ada kalanya pun, kita akan dibuat tertawa oleh sesuatu yang pula bukan komedi. Weirdly stunning, and stunningly weird!

Pemeran pembantu juga semuanya layak dipuji. Music scoring yang juga baik. Film ini secara keseluruhan memang bagus.

Sutradara: Mouly Surya

Pemeran Utama: Marsha Timothy

Fancy Some Curry Dishes? Go!Curry, Let’s!

Image

Tandoor chicken tikka in rogan josh curry, with aromatic yellow rice.

Image

Lamb cubes with herbs in green curry, with long grain rice.

Image

Zesty cheese chicken in red curry, with cilantro butter rice.

Image

Mixed vegetable in rogan josh curry.

Resto kecil dengan interior kayu berwarna terang ini memanggil saya cukup dengan nama yang sederhana, “Go!Curry”. As simple as that, as attractive as that. Menampilkan pilihan menu dengan 5 jenis curry (brown, green, rogan josh, red & yellow), dengan tingkat kepedasan mulai dari mild sampai dengan insanely hot. Untuk wilayah karbo, Go!Curry menyediakan pilihan mulai dari long grain rice, cilantro butter rice, aromatic yellow rice dan ada juga plain, garlic atau butter naan. Pada topping section, ada pilihan mulai dari ayam (zesty cheese chicken, chicken katsu atau tandoor chicken tikka), seafood (breaded fish, breaded prawns, atau NZ mussels) dan daging merah (lamb cubes with herbs atau Australian oxtail). Kamu vegetarian? Ada pilihan mixed vegetables juga kok.

Favorit saya di sini green curry dengan tingkat kepedasan hot. Topping yang sudah pernah saya coba dengan green curry ini adalah lamb cubes with herbs. Potongannya besar-besar, dagingnya empuk dan tidak ada jejak aroma kambing. Keputusan saya mengkombinasikannya dengan long grain rice rupanya tepat sekali; untuk mengimbangi kuatnya rempah & bumbu di curry nikmat ini.

Sempat mencicipi Lamb Biryani Rice-nya yang datang dalam tampilan cantik di dalam mangkuk besar dengan ditutupi naan sehingga mirip dengan zuppa soup. Nah, biryani ini memakai basmati, dengan rempah melimpah dan rasa kambingnya pun masih “sopan”. Friendly banget, termasuk buat mereka yang tidak terlalu familiar dengan hidangan khas Timur Tengah ini.

Sementara pizza yang ditawarkan dengan naan sebagai dough-nya, menurut saya terlalu fancy. Taste wise, ok aja. Tapi saya recommend biryani rice atau salah satu hidangan curry-nya.

Image

Apple pie samosa with classic English custard

Menutup kunjungan, saya sempat memesan apple pie samosa yang disajikan dengan classic English custard hangat. Custard-nya creamy, nikmat dengan jejak rasa kayumanis yang harum tipis di belakang. Sayang, apelnya sendiri hambar sehingga tidak bisa membuat sajian satu ini laik puji.

Alamat

  • Cilandak Townsquare Lt. 1 Unit C127, Jl. TB Simatupang, Jakarta Selatan. Telp: (021) 75920265 / 75920275
  • Pacific Place Lt. 4 Unit 1, SCBD, Jl. Jend. Sudirman, Jakarta Selatan.

Waktu kunjung: Mei 2013

Harga: mulai dari Rp.50rb untuk main course, belum termasuk dessert atau minuman. Not bad at all.

Apakah saya akan kembali? Pasti. Green curry-nya benar-benar ngangenin!