Memasuki hari ke-3, tiba di menu utama: lokakarya menulis kuliner.
Sejak semalam sebelumnya, aku sudah menuliskan materi lokakarya di papan tulis. Sebelumnya, Mas Cris & Mbak Nina sudah sempat menawarkan untuk menggunakan layar untuk presentasi. Tapi, rasanya aneh juga menggunakan layar yang membutuhkan tenaga listrik di ruang terbuka seperti halamannya Melek Huruf. Jadi… white board, it is!
Sesi lokakarya ini berlangsung selama dua jam. Yang ku bagikan sebenarnya adalah pengetahuan dasar menulis. Mengenai apa yang harus ditulis. Bahwa sesungguhnya gaya sebuah tulisan itu tetap harus menyesuaikan: untuk siapa dan di mana kita menulis? Tentu, menulis di blog atau Instagram — misalnya, pasti nggak sama dengan ketika kita menulis untuk sebuah media massa di mana sudah ada ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi. Ya, kan?
Sejak hari pertama, aku sudah memberitahukan peserta bahwa aku akan memberikan sebuah travel journal book yang ku beli dari sebuah jenama pembuat letterpress asal Jogja: McMurs. Hanya satu, untuk satu peserta dengan hasil tulisan terbaik.
Ternyata, hampir semua peserta mengirimkan hasil tulisannya. Dan, sungguh bikin terharu, karena banyak banget yang tulisannya mengagumkan. Iya, bagus! Dan akhirnya travel journal book ini jatuh ke tangan Sinlu — peserta asal Wonosobo, Jawa Tengah.
Nanti, satu persatu, akan ku unggah hasil tulisan teman-teman peserta tersebut di blog ini ya.
Kami memulai kegiatan hari ke-2 di pagi hari. Sekitar pukul 6.30 WIB, setelah semua peserta berkumpul di Melek Huruf yang jadi titik temu, kami semua langsung bersepeda dipandu Go4Tour.
Go4Tour ini merupakan jasa layanan tur sepeda dan jalan kaki yang berbasis tak jauh dari Borobudur, Magelang. Dan perjalanan ini merupakan kali kedua-ku bersama mereka.
O ya. Beberapa hari sebelum acara ini, rupanya Mas Singgih — beliau adalah orang yang menjadikan Pasar Papringan terwujud, sekaligus desainer radio kayu Magno serta sepeda bambu Spedagi — sempat ke Magelang dan singgah ke Melek Huruf. Setelah berbincang dengan Mas Cris dan tahu bahwa aku akan mengadakan acara ini, Mas Singgih mengirimkan teks ke aku. Mengatakan bahwa ia akan mengirimkan sepeda buatku (yeay!) serta dua sepeda lainnya untuk dipinjamkan untuk acara ini. Wah!
Pagi itu, kami menyusuri jalan-jalan kecil. Sesekali, kami akan berhenti di titik-titik tertentu di mana Amir, salah satu personel Go4Tour, akan berkisah mengenai banyak hal.
Dari titik ini, kami mengagumi megahnya Candi Borobudur
Menurut Rimi, yang juga bagian dari Go4Tour, rute yang kami lalui kali itu juga merupakan rute baru. Artinya, setelah mereka survey, inilah kali pertama Go4Tour membawa tamu melintasi rute tersebut.
Lagi-lagi, yang kami singgahi, tentu saja: pasar tradisional. Pasar Candir ejo ini nggak besar, tapi ada beberapa kios menarik yang kami sambangi. Sempat jajan rolade — campuran daun talas dan tahu yang ditumbuk lantas dilapis tepung, dibuat berbentuk bulat, kemudian digoreng. Aku mengenal panganan ini dari Pasar Papringan.
Pula, minum jamu dengan campuran daun pepaya. Wuekkk… pahit! Tapi ya tetap ku habiskan. Setelahnya, beberapa peserta pun ikutan minum jamu serupa. Ekspresi dari tegukan pertama jadi lawakan bagi kami semua. Ya habis gimana dong… pahit banget! Hahaha.
Rolade daun talas dan tahu
Berikutnya, kami ke Omah Garengpoeng yang letaknya masih di wilayah Candirejo juga. Pemiliknya, Lily T. Erwin, adalah seorang penulis buku yang sudah senior. Pagi itu, Bu Lily menyajikan sejumlah jajan pasar dan minuman tradisional. Yang menarik bagiku adalah semelak. Minuman yang konon memang terkenalnya dari daerah Magelang ini terbuat dari buah mengkudu. Buah yang ternama karena rasanya yang sepat dan aromanya yang tajam ini, ternyata ketika diolah bisa jadi sesuatu yang enak. Sepatnya bergulir jadi masam segar, dan aroma tak sedapnya pun gugur. Sungguh, aku suka minuman yang juga berkhasiat ini.
Kami menghabiskan waktu cukup lama di tempat Bu Lily. Selain memamerkan beberapa buku karyanya, Bu Lily juga mengajak kami melihat kebunnya. Dengan semangat, beliau menjelaskan tanaman-tanaman yang ada beserta kegunaannya. Ternyata, sebagian besar dari kami masih belum banyak tahu mengenai tanaman-tanaman tersebut lho!
Di Omah Garengpoeng
Usai dari Omah Garengpoeng, kami kembali bersepeda menuju Eloprogo Art House. Sebuah galeri yang pula difungsikan sebagai tempat makan, sekaligus rumah tinggal sang empunya – Pak Sony Santosa dan istrinya.
Kelar memarkir sepeda di halaman dan melangkah memasuki area Eloprogo, aku seketika terpesona melihat kecantikan tempat ini. Betapa tidak? Bangunan eksentrik ini berlokasi tepat di sisi sungai. Tepatnya, pertemuan sungai Elo dan sungai Progo. Pepohonan hijau, suara gemericik air, kualitas udara… apa yang lebih baik dari itu? Teman-teman Go4Tour lantas membawa kami jalan, mengeksplorasi Eloprogo Art House ini sebelum waktu santap siang tiba.
Di bagian belakang, ternyata terdapat penginapan. Ada pula sebuah area luas dengan pohon-pohon besar nan rindang. Membuat kami, tanpa disuruh, segera duduk dan hanya menikmati momen begitu saja. Menenangkan, menyenangkan.
Sambil menunggu masakan siap, kami menghabiskan waktu ngobrol dengan Pak Sony. Seniman yang satu ini membuka obrolan dengan mengajak kami bermain perumpamaan hewan serta kehidupan. Ringan. Sebagian besar dari kami mengikuti permainan ini, sementara sebagian lagi sibuk bermain dengan gawainya, atau sekadar menikmati pemandangan seraya sesekali bercanda dengan kucing yang ada di sana.
Ketika akhirnya makanan siap saji, pun pula luar biasa sedap. Aku yakin ini bukan karena lapar atau kepanasan. Namun, setup kolang kaling-nya sungguh berkesan. Manisnya sedang, tekstur kolang kaling-nya pas: empuk, tapi masih perlu sedikit usaha mengunyah. Juga, ada aroma rempah ringannya. Lantas, nasi liwet dengan ayam kampung goreng, sambal dan lalapannya pun nikmatnya terlalu. Memang masakan sederhana yang dibuat dengan benar itu amatlah atut dipujikan!
Usai makan siang, kami kembali ke Melek Huruf. Masih ada agenda pengenalan kopi yang dipandu oleh Mas Arief Godriel dari Call Me Coffee Roastery, Magelang. Di sesi yang berlangsung selama sekitar setengah jam itu, kami jadi lebih banyak tahu mengenai perkembangan kopi lokal — utamanya yang tumbuh dan tersedia dari sekitaran Magelang serta Temanggung. Dari sesi itu pula, aku jadi tahu bahwa salah satu dari peserta acara ini merupakan barista juga dari salah satu kedai kopi ternama di Magelang. Wah!
Usai sesi kopi, para peserta kembali ke penginapan untuk mandi dan istirahat sejenak. Aku sendiri, setelah mandi, mengikuti jalannya sesi gelar wicara mengenai kopi. Acara ini merupakan bagian dari Pekan Buku Magelang juga. Tak hanya mengundang para nara sumber yang ku nilai cukup piawai di bidangnya, tapi semua yang hadir ku lihat menyimak dengan seksama. Antusias, dan banyak bertanya. Jadi, sebagai pendengar, aku pun puas karena mendapat banyak pencerahan dari sana.
Untuk santap malam, kami kembali ke Omah Garengpoeng. Ya, benar, ke rumah Bu Lily. Kali ini, aku sudah minta Bu Lily menyiapkan sajian tradisional. Di antaranya adalah mangut ikan beong. Nah, yang satu ini adalah makanan khas Magelang. Tepatnya dari sekitaran Borobudur. Bu Lily juga menyiapkan Lesah — soto ayam kampung berkuah santan. Teksturnya cukup tebal namun rasanya tergolong ringan. Semua masakan Bu Lily ini juga cita rasanya rumahan banget. Dan, mungkin, obrolan dengan beliau membuat kesan rumahan ini terasa semakin kental.
Beberapa waktu lalu, Mas Cristian Rahadiansyah — seorang kawan, yang dulunya menjabat Chief Editor di majalan pariwisata DestinAsian dan kini sudah membangun keluarga serta rumah baca Melek Huruf di Magelang — menghubungiku untuk ikut terlibat di rangkaian acara Pekan Buku Magelang di tempatnya. Setelah melalui beberapa kali diskusi, akhirnya memutuskan untuk membuat rangkaian perjalanan Petualangan Rasa di Magelang, yang menjadi bagian dari pekan buku tersebut. Hm, menarik!
Aku langsung menghubungi Mbak Beby Vinny dari Pelangi Benua. Sudah beberapa kali aku bekerja sama dengan operator tur yang satu ini, memang. Jadi, rangkaian ini menjadi kolaborasi dengan beberapa pihak: aku, Melek Huruf, Pelangi Benua dan Go4Tour — operator tur sepeda yang berbasis di Magelang.
Perjalanan dimulai pada hari Jumat, 9 Agustus 2024. Titik temu di Stasiun Tugu Jogja. Dari sana, kami menuju Muntilan. Agenda pertamanya: makan Sop Empal Bu Haryoko.
Sebuah keputusan bijak untuk tiba sebelum waktu makan siang — sehingga kami masih bisa duduk nyaman berdampingan di meja-meja yang posisinya bersebelahan satu sama lain. Sop Empal ini sendiri sesuatu yang baru bagiku. Baceman empal dan paru disajikan terpisah, didampingi sambal pedas nan joss, dan kuah ringan berisi bihun dan beberapa helai kol serta taburan bawang merah goreng. Nyaman, dan tentu saja dengan mudah diterima di lidah para peserta — setidaknya, begitulah respon yang ku dapat dari mereka.
Setelahnya, kami berjalan kaki ke sebuah toko oleh-oleh yang ternama di sana: Toko Ny. Pang. Jarak tempuhnya tak sampai lima menit. Di sana, kami disambut oleh Imanuel Jeffrey Lee. Koh Jeff, demikian ia akrab disapa, merupakan pemilik yang adalah generasi ke-6 dari Ny. Pang. Beberapa waktu sebelumnya, ia sudah menghubungiku melalui DM di Instagram, menawarkan untuk singgah dan melihat dapur produksinya — sebuah kesempatan yang nggak akan ku lewatkan.
Peserta terlihat senang mendapatkan kesempatan ini. Pula, pada sesi ini ku ingatkan mereka untuk mulai menggali dan mencatat berbagai hal, untuk kemudian dituangkan dalam tulisan mereka.
Usai menengok dapur produksi Ny. Pang di mana kami bisa menyaksikan pembuatan jenang dodol, kue miku, krasikan dan sejumlah cemilan manis, kami juga icip buntil. Ini atas rekomendasi bude-ku dan Oom William Wongso sih. Sajian sayur dari daun talas ini tampil berbeda, karena dibungkus daun pisang. Mungkin karena kebutuhan dagang dengan pola konsinyasi ya (yang ini memang bukan produksi Ny. Pang, melainkan titipan). Bentuknya pun lebih menyerupai gulungan daun, bukan bulat layaknya buntil yang biasa ku dapati. Tekstur daunnya begitu lembut karena dimasak lama, dan ada varian dengan campuran ikan tongkol pula. Sedap benar!
Dari Ny. Pang, kami berjalan kaki menyusuri sejumlah gang kecil di sana.
Hingga akhirnya tibalah kami di Pasar Muntilan. Tak terlalu banyak yang kami jumpai di sana. Mungkin juga karena sudah memasuki tengah hari. Tapi, lagi-lagi, berbagi pengetahuan mengenai bagaimana memperhatikan apa-apa saja yang bisa jadi materi tulisan nantinya.
Yang cukup dilematik adalah ketika menjelang waktu santap malam. Mas Cris, pemilik Melek Huruf, merekomendasikan kedai Pak Parno. Sebelumnya, memang aku menanyakan kalau ada tempat makan mie jawa yang enak. Tapi, kedai yang satu ini begitu populer. Sehingga, konon antreannya bisa mencapai satu hingga satu setengah jam. Wuih, modhiyarrr — karena aku juga membawa beberapa peserta. Kasihan juga kalau mereka harus menunggu sedemikian lama. Maka, akhirnya pilihan ku geser ke kedai Mbah Dono yang lokasinya nggak jauh dari penginapan.
Saat itu, pengunjungnya hanya kami dan satu orang lain yang baru selesai makan ketika kami tiba. Kebanyakan dari peserta memesan mi kuah, dan ada pula yang untuk pertama kalinya mencoba magelangan — paduan mi dan nasi dalam satu masakan yang sama. Sedangkan aku, memesan sego godhog — serupa mi kuah, hanya saja mi-nya diganti nasi. Favoritku, memang.
Ternyata, rasanya cukup enak kok. Nggak mengecewakan. Yang mengejutkan adalah ketika tagihan datang. “Minumannya nggak dihitung. Ini Jumat berkah,” demikian kata Mbah Dono sambil menyerahkan lembar bon ke aku. Ya ampun… Berkah nggih, Mbah.
Ceritanya bakal panjang. Jadi, ku pisah di tulisan berikutnya ya.
Senin, 21 Januari 2019. Saya diundang menjadi Guest Commentator Judge di MixoChef Burst II, sebuah event kompetisi mixologist yang diselenggarakan tahunan oleh Asosiasi Bartender Indonesia. Menarik. Karena, sebelum acara ini, saya tahunya hanya ada segelintir kecil saja mixologist di Indonesia. Semakin menarik, karena tema kompetisi kali ini adalah Hot Section. Artinya, para peserta diharuskan menggunakan bahan-bahan dari hot kitchen sebagai unsur di cocktail yang mereka buat.
Ocean 360, di Discovery Mall, Kuta, Bali. Dua puluh satu peserta bergiliran mempresentasikan cocktail karya masing-masing di depan juri; saya, Arey Barker, Nyoman Picha, Aldho Goenawan, Ayip Dzuhri dan Elva Buana. Beberapa yang layak di-highlight, antara lain; Timbungan Fizz yang terinspirasi dari santapan tradisional Bali dalam bambu, Duck L’Orange yang menggunakan orange curacao infused duck stock, Marinara Cocktail dengan clarified marinara mix dan butter prawn oil washed vodka, Tom Pirates yang mengambil tom yum sebagai dasar rasa, Lissoi Kapten yang memajukan bahan dasar khas masakan Batak yaitu andaliman, Lawrencefield yang secara berani mengambil rujak kuah pindang khas Bali sebagai base rasa, A Letter From The Sea yang bercita rasa khas Jepang dengan miso dan umami stock-nya, Loot History Of Semarang yang membawa carbonated soto, Spicy Smoked Pork Cocktail yang mengingatkan pada se’i babi khas Kupang, Curry Kapitan dengan semilir rasa kari, dan 1834, yang menampilkan nasi tumpeng menjadi cocktail kece.
Tak hanya rasa, aroma, serta tampilan cocktail. Pengetahuan mengenai brand Captain Morgan – merek rum yang menjadi sponsor utama acara ini serta menjadi salah satu bahan wajib pakai, tehnik dan kreativitas, serta penampilan mixologist dan kemampuan berkomunikasi mereka juga menjadi bahan penilaian dalam kompetisi ini. Dalam waktu yang ditentukan, peserta juga harus menyelesaikan presentasinya.
Dan setelah usai, berdasarkan nilai yang diperoleh dan hal-hal lainnya, maka inilah para pemenang Burst 2 Mixochef Mixologist Competition 2019:
Congrats to all the winners! Saya percaya, apa yang mereka hasilkan layak untuk disandingkan dengan kreasi para mixologist internasional. Ikutan menanti lahirnya kreasi-kreasi baru dari para mixologist ini. Fingers crossed.
Terletak di dusun Ngadipuro, desa Ngadimulyo, kecamatan Kedu di Temanggung, pasar papringan ini bukan pasar biasa. Diselenggarakan hanya setiap Minggu Pon serta Minggu Wage, hutan bambu seluas sekitar 3ribu meter persegi ini “disulap” menjadi pasar terkonsep yang amat menarik.
Inisiatifnya datang dari Singgih Kartono, orang di balik radio kayu Magno serta sepeda bambu Spedagi. Tak sendiri, beliau dibantu oleh Fransisca Callista yang menjadi eksekutor dari konsep serta ide gagasan pasar tersebut. Pasar papringan dibuat untuk merevitalisasi desa ini agar menjadi mandiri. Dengan tidak menghilangkan kearifan lokal, diharapkan pasar papringan ini akan berkelanjutan – tidak menjadi sesuatu yang sifatnya sesaat saja. Kegiatan ini melibatkan masyarakat sekitar, dengan tujuan untuk membangun manusianya pula. Sudah 100 kepala keluarga dari 110 kepala keluarga lokal dilibatkan. Ibunya berdagang, sang ayah dan pemudanya ditempatkan di bagian parkir atau mengatur keamanan, sedangkan anak yang lebih muda lagi biasanya menjadi relawan di bagian keuangan, kebersihan serta divisi lain pendukung gelaran ini.
Tercatat tak kurang dari 80an pedagang yang tersebar di 40 lincak dagang ada di sini, dengan jumlah pengunjung pernah mencapai 5ribu orang dengan jam operasional dari pukul 6 pagi hingga 12 siang ini. Angkanya bikin melongo ya? Tunggu. Bicara tentang penghasilan kotornya, setiap stand pedagang kuliner bisa menjual umumnya 150 porsi makanan berat dengan kisaran harga 4 koin pring. Sedangkan untuk makanan ringan, tiap orangnya dapat membuat 3 jenis makanan dengan jumlah sekitar 400 potong dan dihargai 1 koin pring. Wah!
14 Januari 2018, saya menyambangi pasar papringan. Pasar yang dibuka pada 14 Mei 2017 silam ini sudah berjalan untuk ketigabelas kalinya. Dengan akses jalan kecil yang masih dapat dilalui mobil, saya lantas memarkir mobil di halaman rumah warga yang terdapat di sana. Lantas menempuh sekitar 500 meter dengan berjalan kaki menuju lokasi. Di gerbang, terdapat tempat penukaran koin pring alias koin bambu senilai 2ribu rupiah perkeping. Semua transaksi yang terjadi di pasar ini harus menggunakan koin pring sebagai alat tukarnya. Pengunjung dapat membeli koin pring satuan atau serenceng. Koin ini nantinya tidak dapat ditukarkan ke uang rupiah lagi. Jadi, habiskan koin pringnya, atau simpan untuk nanti digunakan di pasar papringan berikutnya.
Toh, harga dagangan di pasar papringan tak akan mengoyak isi dompet. Beberapa yang sempat saya ingat adalah lontong mangut dihargai 6 pring, ekstra sambal goreng iwak melem tambah 2 pring, tape ketan sekeranjang isi 10 seharga 5 pring, tempe koro tiga buah dihargai 2 pring, yo-yo seharga 5 pring. Terbayang lah ya range harganya. Bicara tentang apa yang tersedia di pasar ini, pun variatif banget. Mulai dari berbagai makanan jadi – baik yang ringan maupun berat, bahan-bahan masakan, buah, sayur mayur, aneka wedangan, jamu, kopi, teh, bahkan ada spot untuk wisata river tubing, sampai jasa cukur rambut dan pijat!
Banyak hal yang menarik dari pasar papringan ini. Tak hanya jenis masakan tradisional yang variatif, para pedagangnya pun dikuratori oleh tim, dan mendapatkan quality control yang baik dari penyelenggara. Tidak ada MSG, tidak menggunakan pengawet. Kurang? Pasar ini juga zero waste! Kalau bawa anak-anak, ada area bermain juga. Pun, ada spot perpustakaan. Pasar rindang ini juga merupakan non-smokingarea. Bagi yang hendak merokok, ada area di dekat sebelah luar, sehingga tidak mengganggu pengunjung lain.
Sungguhlah pasar papringan ini merupakan pasar terkonsep yang amat menarik dan wajib dikunjungi. Jika ingin menginap, silakan cek Spedagi Homestay beserta paket-paket lainnya yang mereka tawarkan (mungkin perlu antar jemput dari bandara di Semarang ataupun Jogja?). Di Temanggung pun terdapat sejumlah penginapan yang juga bisa dijadikan opsi.
Segera cek penanggalan jawa untuk mencari tahu kapan lagi pasar papringan diselenggarakan, dan atur trip-mu ke sana!
Pertumbuhan industri kuliner, khususnya restoran di Indonesia, sangat pesat – utamanya di Jakarta. Hal ini dapat dilihat dari pengeluaran konsumen pada makanan serta minuman non-alkohol yang tercatat terus bertambah dari tahun ke tahun. Angkanya sendiri tercatat sebesar US$ 176,7 milyar di tahun 2016 dengan estimasi pertumbuhan tahunan dari 2016-2020 diprediksi sebesar 9,4%. Pertumbuhan ini rupanya juga didorong oleh lifestyle warga Jakarta yang cenderung menjadikan restoran sebagai tempat ngumpul, bukan sekadar tempat makan. Hal ini pula lah yang menuntut para pemain industri kuliner, khususnya para Chef dan restaurateur untuk terus berinovasi dan meningkatkan kualitas penawaran mereka.
Untuk mengapresiasi perkembangan pesat ini, Aqua Reflections berkolaborasi dengan FoodieS, salah satu majalah kuliner terbaik di Indonesia, mengadakan Jakarta’s Best Eats. Tujuannya memberikan penghargaan kepada para pemain terbaik industri kuliner, khususnya para Chef & restaurateur di Jakarta.
Penghargaan ini akan dibagi ke dalam tiga kategori untuk memastikan tingkat kompetisi berdasarkan segmentasi pasar restoran di Jakarta;
Fine Dining, yang akan lebih menekankan kesempurnaan pada rasa, tampilan, kreativitas, pelayanan dan pengaturan meja;
Upmarket Venue, yang fokus pada restoran untuk segmen menengah ke atas namun memiliki level pelayanan dan desain interior yang berbeda dari fine-dining, serta;
Casual Dining yang merupakan restoran berlokasi di mall, tempat sendiri, maupun di tempat yang lebih kecil dengan penyajian yang lebih cepat dan suasana yang lebih hidup.
Pada acara ini, Aqua Reflections dan FoodieS bekerjasama pula dengan sejumlah figur ternama dan ahli di bidang kuliner Indonesia yang berperan sebagai juri Jakarta’s Best Eats. Mereka adalah:
Jed Doble [FoodieS’ publisher]
Linda Tan [Gourmand]
Hans Danial [Food Blogger]
Petty Elliott [Chef]
Ade Putri Paramadita [Food Storyteller]
Arimbi Nimpuno [Celebrity Chef]
Rinrin Marinka [Celebrity Chef]
Ruli Tobing [Danone Aqua]
Proses penjurian Jakarta’s Best Eats akan dimulai pada Januari 2018, dan akan diumumkan pada Maret 2018. Hingga saat ini, terdapat sekitar 200 resto dari tiga kategori tersebut yang ikut berpartisipasi. Namun, pendaftarannya sendiri masih dibuka bagi para pengelola resto yang ingin berpartisipasi dengan menominasikan restorannya melalui website www.foodies.id/jakartasbesteats, paling lambat pada 31 Desember 2017.
Semua resto yang mendaftar akan bersaing sesuai dengan kategori yang sudah ditentukan, di mana para juri akan membuat daftar nominator dari masing-masing kategori tersebut. Sekitar 10 penghargaan akan diberikan kepada para Chef & restaurateur terbaik pada acara puncak, dengan penghargaan utamanya yaitu Restaurant Of The Year serta Chef Of The Year.
Sebuah langkah awal yang baik untuk memacu kreativitas serta peningkatan mutu semua restoran di Jakarta. Semoga dengan adanya bentuk apresiasi ini, di mana mendatang bentuk kegiatan yang sama juga mulai diadakan untuk kota-kota lainnya di Indonesia.
Sudah pernah datang ke The Dharmawangsa Hotel untuk menikmati Super Sunday Brunch? Apparently, ini bukan sekedar Sunday Brunch biasa. Super Sunday Brunch, menurut Executive Chef The Dharmawangsa, Vindex Tengker, hanya diselenggarakan sebanyak 3x dalam setahun. Pantas saja, ketika saya melihat jajaran menu yang ditawarkan (ada lebih dari 120 jenis hidangan!!!), semuanya benar-benar jaw dropping! Mulai dari aneka caviar, foie gras, Peking duck, oyster, scallop, lobster, crayfish… Omaggah, omaggah!!! Belum lagi sederetan keju dari AOC “Chantal” artisan cheese. Duh, bikin panik saja :’D
Dalam kamus saya, kalau ada acara seperti ini, yang harus saya pilih adalah makanan-makanan yang tidak mudah saya dapatkan sehari-hari. Baik karena memang langka, atau karena harganya selangit. Hahaha… Jadi, pilihan pertama saya jatuh pada foie gras yang di-pan fried, kemudian disajikan di atas brioche toast, dengan tangerine glaze dan nanas yang di-caramelize. Foie gras ini dimasak sampai tingkat kematangan medium. Fatty, sekaligus creamy. Manis dan asam dari glaze dan caramelized pineapple bergantian menemani kemewahan yang perlahan lumer di lidah.
Scallop berukuran semi-gigantik di jajaran fish & seafood station, tentu saja tak luput dari pandangan saya. Di piring yang sama, saya juga mengambil oyster, udang, lobster, serta crayfish. Tapi saya hanya mengambil sambal matah sebagai condiment. Itu pun nyaris tak tersentuh karena saya terlalu ingin meng-appreciate kesegaran seafood ini apa adanya.
Di caviar station, produk dari Calvisius Caviar dengan varian Tradition, Da Vinci dan Caviar De Venise tentu saja menduduki peringkat teratas di lidah saya. Saya menyendoki secukupnya di atas wheat blinis yang tersedia. Selain itu, saya tetap mengambil ikura (telur ikan salmon) dan telur ikan ocean trout yang warna dan bentuknya mirip sekali dengan ikura hanya saja ukurannya sedikit lebih kecil. Tobiko (telur ikan terbang) saya lewatkan karena masih sering “ketemu” di restoran Jepang manapun. Hahaha… Sok banget ya? :p
Dari boutique cheese, saya mengambil semua soft cheese dan menikmatinya hanya dengan beberapa keping kecil crackers. Duh, jangan tanya nikmatnya! Kebetulan, saya memang penikmat keju. Semakin tajam aroma dan rasanya, semakin lidah saya menikmatinya!
Saya sendiri, bersama sejumlah food blogger (ada mas Amril Gobel, Jessica Darmawan, Leo Slatter, mbak Mira Sahid, Rian Farisa, Umay, Verdi Danutirto, mbak Yenny Widjaja, dan Ivan Natadjaja), dan juga ada mbak Santhi Serad, diundang oleh Omar Niode Foundation ke acara ini untuk berdiskusi tentang kuliner di Indonesia dan perkembangannya. Yayasan ini sendiri secara resmi dibentuk pada tahun 2009 untuk kemajuan agrikultur, kuliner dan budaya makan di Indonesia. Saya juga pernah ikut berpartisipasi di event Patali (Market) Day di lokasi yang sama, yang juga diselenggarakan oleh yayasan yang diprakarsai oleh ibu Amanda Katili Niode ini. Dari kedua event ini saja, saya paham benar bagaimana Omar Niode Foundation memang memiliki concern yang tinggi terhadap dunia kuliner dan turunan-turunannya. Coba cek website mereka www.omarniode.org untuk mengetahui lebih banyak mengenai kegiatan mereka. Follow juga @OmarNiode di Twitter!
[Special thanks to mbak Dian Anggraini, ibu Amanda Katili, Terzi Niode & Amanda Cole]