Beberapa waktu lalu, Mas Cristian Rahadiansyah — seorang kawan, yang dulunya menjabat Chief Editor di majalan pariwisata DestinAsian dan kini sudah membangun keluarga serta rumah baca Melek Huruf di Magelang — menghubungiku untuk ikut terlibat di rangkaian acara Pekan Buku Magelang di tempatnya. Setelah melalui beberapa kali diskusi, akhirnya memutuskan untuk membuat rangkaian perjalanan Petualangan Rasa di Magelang, yang menjadi bagian dari pekan buku tersebut. Hm, menarik!


Aku langsung menghubungi Mbak Beby Vinny dari Pelangi Benua. Sudah beberapa kali aku bekerja sama dengan operator tur yang satu ini, memang. Jadi, rangkaian ini menjadi kolaborasi dengan beberapa pihak: aku, Melek Huruf, Pelangi Benua dan Go4Tour — operator tur sepeda yang berbasis di Magelang.
Perjalanan dimulai pada hari Jumat, 9 Agustus 2024. Titik temu di Stasiun Tugu Jogja. Dari sana, kami menuju Muntilan. Agenda pertamanya: makan Sop Empal Bu Haryoko.

Sebuah keputusan bijak untuk tiba sebelum waktu makan siang — sehingga kami masih bisa duduk nyaman berdampingan di meja-meja yang posisinya bersebelahan satu sama lain. Sop Empal ini sendiri sesuatu yang baru bagiku. Baceman empal dan paru disajikan terpisah, didampingi sambal pedas nan joss, dan kuah ringan berisi bihun dan beberapa helai kol serta taburan bawang merah goreng. Nyaman, dan tentu saja dengan mudah diterima di lidah para peserta — setidaknya, begitulah respon yang ku dapat dari mereka.
Setelahnya, kami berjalan kaki ke sebuah toko oleh-oleh yang ternama di sana: Toko Ny. Pang. Jarak tempuhnya tak sampai lima menit. Di sana, kami disambut oleh Imanuel Jeffrey Lee. Koh Jeff, demikian ia akrab disapa, merupakan pemilik yang adalah generasi ke-6 dari Ny. Pang. Beberapa waktu sebelumnya, ia sudah menghubungiku melalui DM di Instagram, menawarkan untuk singgah dan melihat dapur produksinya — sebuah kesempatan yang nggak akan ku lewatkan.

Peserta terlihat senang mendapatkan kesempatan ini. Pula, pada sesi ini ku ingatkan mereka untuk mulai menggali dan mencatat berbagai hal, untuk kemudian dituangkan dalam tulisan mereka.
Usai menengok dapur produksi Ny. Pang di mana kami bisa menyaksikan pembuatan jenang dodol, kue miku, krasikan dan sejumlah cemilan manis, kami juga icip buntil. Ini atas rekomendasi bude-ku dan Oom William Wongso sih. Sajian sayur dari daun talas ini tampil berbeda, karena dibungkus daun pisang. Mungkin karena kebutuhan dagang dengan pola konsinyasi ya (yang ini memang bukan produksi Ny. Pang, melainkan titipan). Bentuknya pun lebih menyerupai gulungan daun, bukan bulat layaknya buntil yang biasa ku dapati. Tekstur daunnya begitu lembut karena dimasak lama, dan ada varian dengan campuran ikan tongkol pula. Sedap benar!
Dari Ny. Pang, kami berjalan kaki menyusuri sejumlah gang kecil di sana.

Hingga akhirnya tibalah kami di Pasar Muntilan. Tak terlalu banyak yang kami jumpai di sana. Mungkin juga karena sudah memasuki tengah hari. Tapi, lagi-lagi, berbagi pengetahuan mengenai bagaimana memperhatikan apa-apa saja yang bisa jadi materi tulisan nantinya.
Yang cukup dilematik adalah ketika menjelang waktu santap malam. Mas Cris, pemilik Melek Huruf, merekomendasikan kedai Pak Parno. Sebelumnya, memang aku menanyakan kalau ada tempat makan mie jawa yang enak. Tapi, kedai yang satu ini begitu populer. Sehingga, konon antreannya bisa mencapai satu hingga satu setengah jam. Wuih, modhiyarrr — karena aku juga membawa beberapa peserta. Kasihan juga kalau mereka harus menunggu sedemikian lama. Maka, akhirnya pilihan ku geser ke kedai Mbah Dono yang lokasinya nggak jauh dari penginapan.

Saat itu, pengunjungnya hanya kami dan satu orang lain yang baru selesai makan ketika kami tiba. Kebanyakan dari peserta memesan mi kuah, dan ada pula yang untuk pertama kalinya mencoba magelangan — paduan mi dan nasi dalam satu masakan yang sama. Sedangkan aku, memesan sego godhog — serupa mi kuah, hanya saja mi-nya diganti nasi. Favoritku, memang.
Ternyata, rasanya cukup enak kok. Nggak mengecewakan. Yang mengejutkan adalah ketika tagihan datang. “Minumannya nggak dihitung. Ini Jumat berkah,” demikian kata Mbah Dono sambil menyerahkan lembar bon ke aku. Ya ampun… Berkah nggih, Mbah.
Ceritanya bakal panjang. Jadi, ku pisah di tulisan berikutnya ya.
[ b e r s a m b u n g ]