Petualangan Rasa di Magelang – 02

Kami memulai kegiatan hari ke-2 di pagi hari. Sekitar pukul 6.30 WIB, setelah semua peserta berkumpul di Melek Huruf yang jadi titik temu, kami semua langsung bersepeda dipandu Go4Tour.

Go4Tour ini merupakan jasa layanan tur sepeda dan jalan kaki yang berbasis tak jauh dari Borobudur, Magelang. Dan perjalanan ini merupakan kali kedua-ku bersama mereka.

O ya. Beberapa hari sebelum acara ini, rupanya Mas Singgih — beliau adalah orang yang menjadikan Pasar Papringan terwujud, sekaligus desainer radio kayu Magno serta sepeda bambu Spedagi — sempat ke Magelang dan singgah ke Melek Huruf. Setelah berbincang dengan Mas Cris dan tahu bahwa aku akan mengadakan acara ini, Mas Singgih mengirimkan teks ke aku. Mengatakan bahwa ia akan mengirimkan sepeda buatku (yeay!) serta dua sepeda lainnya untuk dipinjamkan untuk acara ini. Wah!

Pagi itu, kami menyusuri jalan-jalan kecil. Sesekali, kami akan berhenti di titik-titik tertentu di mana Amir, salah satu personel Go4Tour, akan berkisah mengenai banyak hal.

Dari titik ini, kami mengagumi megahnya Candi Borobudur

Menurut Rimi, yang juga bagian dari Go4Tour, rute yang kami lalui kali itu juga merupakan rute baru. Artinya, setelah mereka survey, inilah kali pertama Go4Tour membawa tamu melintasi rute tersebut.

Lagi-lagi, yang kami singgahi, tentu saja: pasar tradisional. Pasar Candir ejo ini nggak besar, tapi ada beberapa kios menarik yang kami sambangi. Sempat jajan rolade — campuran daun talas dan tahu yang ditumbuk lantas dilapis tepung, dibuat berbentuk bulat, kemudian digoreng. Aku mengenal panganan ini dari Pasar Papringan.

Pula, minum jamu dengan campuran daun pepaya. Wuekkk… pahit! Tapi ya tetap ku habiskan. Setelahnya, beberapa peserta pun ikutan minum jamu serupa. Ekspresi dari tegukan pertama jadi lawakan bagi kami semua. Ya habis gimana dong… pahit banget! Hahaha.

Rolade daun talas dan tahu

Berikutnya, kami ke Omah Garengpoeng yang letaknya masih di wilayah Candirejo juga. Pemiliknya, Lily T. Erwin, adalah seorang penulis buku yang sudah senior. Pagi itu, Bu Lily menyajikan sejumlah jajan pasar dan minuman tradisional. Yang menarik bagiku adalah semelak. Minuman yang konon memang terkenalnya dari daerah Magelang ini terbuat dari buah mengkudu. Buah yang ternama karena rasanya yang sepat dan aromanya yang tajam ini, ternyata ketika diolah bisa jadi sesuatu yang enak. Sepatnya bergulir jadi masam segar, dan aroma tak sedapnya pun gugur. Sungguh, aku suka minuman yang juga berkhasiat ini.

Kami menghabiskan waktu cukup lama di tempat Bu Lily. Selain memamerkan beberapa buku karyanya, Bu Lily juga mengajak kami melihat kebunnya. Dengan semangat, beliau menjelaskan tanaman-tanaman yang ada beserta kegunaannya. Ternyata, sebagian besar dari kami masih belum banyak tahu mengenai tanaman-tanaman tersebut lho!

Usai dari Omah Garengpoeng, kami kembali bersepeda menuju Eloprogo Art House. Sebuah galeri yang pula difungsikan sebagai tempat makan, sekaligus rumah tinggal sang empunya – Pak Sony Santosa dan istrinya.

Kelar memarkir sepeda di halaman dan melangkah memasuki area Eloprogo, aku seketika terpesona melihat kecantikan tempat ini. Betapa tidak? Bangunan eksentrik ini berlokasi tepat di sisi sungai. Tepatnya, pertemuan sungai Elo dan sungai Progo. Pepohonan hijau, suara gemericik air, kualitas udara… apa yang lebih baik dari itu? Teman-teman Go4Tour lantas membawa kami jalan, mengeksplorasi Eloprogo Art House ini sebelum waktu santap siang tiba.

Di bagian belakang, ternyata terdapat penginapan. Ada pula sebuah area luas dengan pohon-pohon besar nan rindang. Membuat kami, tanpa disuruh, segera duduk dan hanya menikmati momen begitu saja. Menenangkan, menyenangkan.

Sambil menunggu masakan siap, kami menghabiskan waktu ngobrol dengan Pak Sony. Seniman yang satu ini membuka obrolan dengan mengajak kami bermain perumpamaan hewan serta kehidupan. Ringan. Sebagian besar dari kami mengikuti permainan ini, sementara sebagian lagi sibuk bermain dengan gawainya, atau sekadar menikmati pemandangan seraya sesekali bercanda dengan kucing yang ada di sana.

Ketika akhirnya makanan siap saji, pun pula luar biasa sedap. Aku yakin ini bukan karena lapar atau kepanasan. Namun, setup kolang kaling-nya sungguh berkesan. Manisnya sedang, tekstur kolang kaling-nya pas: empuk, tapi masih perlu sedikit usaha mengunyah. Juga, ada aroma rempah ringannya. Lantas, nasi liwet dengan ayam kampung goreng, sambal dan lalapannya pun nikmatnya terlalu. Memang masakan sederhana yang dibuat dengan benar itu amatlah atut dipujikan!

Usai makan siang, kami kembali ke Melek Huruf. Masih ada agenda pengenalan kopi yang dipandu oleh Mas Arief Godriel dari Call Me Coffee Roastery, Magelang. Di sesi yang berlangsung selama sekitar setengah jam itu, kami jadi lebih banyak tahu mengenai perkembangan kopi lokal — utamanya yang tumbuh dan tersedia dari sekitaran Magelang serta Temanggung. Dari sesi itu pula, aku jadi tahu bahwa salah satu dari peserta acara ini merupakan barista juga dari salah satu kedai kopi ternama di Magelang. Wah!

Usai sesi kopi, para peserta kembali ke penginapan untuk mandi dan istirahat sejenak. Aku sendiri, setelah mandi, mengikuti jalannya sesi gelar wicara mengenai kopi. Acara ini merupakan bagian dari Pekan Buku Magelang juga. Tak hanya mengundang para nara sumber yang ku nilai cukup piawai di bidangnya, tapi semua yang hadir ku lihat menyimak dengan seksama. Antusias, dan banyak bertanya. Jadi, sebagai pendengar, aku pun puas karena mendapat banyak pencerahan dari sana.

Untuk santap malam, kami kembali ke Omah Garengpoeng. Ya, benar, ke rumah Bu Lily. Kali ini, aku sudah minta Bu Lily menyiapkan sajian tradisional. Di antaranya adalah mangut ikan beong. Nah, yang satu ini adalah makanan khas Magelang. Tepatnya dari sekitaran Borobudur. Bu Lily juga menyiapkan Lesah — soto ayam kampung berkuah santan. Teksturnya cukup tebal namun rasanya tergolong ringan. Semua masakan Bu Lily ini juga cita rasanya rumahan banget. Dan, mungkin, obrolan dengan beliau membuat kesan rumahan ini terasa semakin kental.

[ b e r s a m b u n g ]

Leave a comment